jump to navigation

Sepenggal kisah heroik bela islam 3 monas 212 2016 Desember 1, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita Dunia Islam, kisah/cerita, Uncategorized.
Tags: ,
add a comment

 

Cerita Inspiratif buat kita2 yg merasa sudah ‘cukup’ beragama..

*Adalah saya akan tak ikut lagi aksi 212..?*

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan.. bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dgn apa yg dipunya dan sedikit jalan2 menikmati dunia..

Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yg berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool.. Janganlah sesekali dan ikut2an jadi orang norak.. ikut kelompok jingkrang2 dan entah apalah itu namanya..

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu. Kalian jgn usil, jgn pikir dgn kalian-ikut dan saya-tidak artinya kalian masuk syurga dan saya tidak..! Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal.. Saya bantu orang2, bantu saudara2 saya juga,, jgn kalian tanya2 soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang2 respek pada saya, temanpun aku banyak.. tiap kotak sumbangan aku isi..

Saya masih heran, apa sih salah seorang Ahok..? Dia sudah bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yg sudah dia buat bagi Jakarta..

Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada Pilkada. Saya tak mau terbawa2 arus seperti teman2 kantor yg tiba2 juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari2 sensasi.. paling juga mau selfie2..

Sampai satu saat..

Sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dgn rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih2, rompi hitam dan hanya beralas sendal, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah2 itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yg mau melintas, tidak ada yg teriak, berlaku arogan dan aneh2 atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal2an.. Ini aneh, biasanya kalau sdh bertemu orang ramai2 di jalan, aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif..

Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yg kulihat dan kurasa melihat wajah2 dan baju putih mereka yg basah terkena gerimis..

Papasan berlalu, aku setel radio lain..6 ada berita, rombongan peserta aksi jalan kaki dari Ciamis dan kota2 lain sudah memasuki kota, ada nama jalan yg mrk lalui.. Aku sambungkan semua informasi, ternyata yg aku berpapasan tadi adalah rombongan itu.. Aku tertegun..

Lama aku diam, otakku serasa terkunci, analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan. Tak kutemukan apa pun yg sesuai dgn pemikiranku. Apa yg membuat mereka rela melakukan itu semua..? Apa kira2..? aku makin sibuk berfikir.. Apa menurutku mereka itu berlebihan..? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka2 ikhlas itu.. Apa mereka ada tujuan2 politik..? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang mencapai tujuan bukan dgn cara2 itu..

Apakah orang2 dgn tujuan politik yg gerakkan mereka itu..? Aku hitung2 dari informasi, akan ada jutaan peserta aksi, berapa biaya yg harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu.. Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi krn nilainya sangatlah besar..

Aku ‘dalam’ berfikir, di mobil, masih dalam gerimis, kembali berpapasan dgn kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga.. Terlihat di pinggir2 jalan, anak2 sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue2 warung ke mereka, sepertinya itu dr uang jajan mereka yg tak seberapa..

Aku terdiam makin dalam.. Ya Allah, kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini..?
Kenapa hanya hal2 jelek yg mau aku lihat tentang agamaku.. Kenapa dgn cara pandangku soal agamaku..?

Aku mampir ke masjid, mau sholat Ashar.. aku lihat sendal2 jepit lusuh banyak sekali berbaris.. aku ambil wudhu..

Kembali di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yg tercecer. Muka mereka lelah sekali, mereka duduk, ada yg minum, ada yg rebahan, dan lebih banyak yg lagi baca Qur’an.. Hmmm..

Aku sholat sendiri,. Tak lama punggung ku dicolek dari belakang, tanda minta aku jd imam, aku cium aroma tubuh2 dan baju basah dari belakang.. Aku takbir sujud, ada lagi yg mencolek. Nahh.. Kali ini hatiku yg dicolek..

Entah kenapa, hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam.. Aku bangkit duduk, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku..

Ya Allah.. Aku tak pantas jadi imam mereka. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka.. Bagiku agama hanya hal2 manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya, in style.. bla bla bla.. Walau ada hinaan ke agamaku aku harus tetap elegan, berfikiran terbuka.. Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa Kau jadikan aku imam sholat mereka..? Apa yg hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku..?

Hanya 3 raka’at aku imami mereka. Hatiku luluh ya Allah.. Mataku panas nahan haru.. Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum.. agak malu2 aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali.. Ini bisa jadi dia anakku juga. Apa yg telah kuajarkan anakku soal Islam..? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini..? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh.. dia demam sedikit aku panik..

Aku nangis dalam hati.. di baju putihnya ada tulisan nama sekolah, SMP Ciamis.. Ratusan kilo dari sini.. Kakinya bengkak karena berjalan sejak dari rumah. Dia cerita bapaknya tak bs ikut karena sakit, dan hanya hidup dr membecak, bapaknya mau bawa becak ke Jakarta bantu nanti kalau ada yg capek, tapi dia larang..
Aku dipermalukan berulang2 di masjid ini.. Aku sudah tak kuat, ya Allah..

Mereka bangkit, ambil tas2 dan kresek putih dr sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid, rasa2nya melihat punggung2 putih itu hilang dr pagar masjid, aku seperti sudah ditinggal mereka yg menuju syurga..
Kali ini aku yg norak, aku sujud, air mataku keluar lagi.. kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian..

Sudah jam 5an, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini.. miting dgn klien sptnya batal.. aku mikir lagi soal ke Islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yg telah ciptakan aku, yg memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini.. dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini..? Ada dimana..? Imanku sudah aku buat nyasar di mana..?

Aku naik ke mobil, aku mikir lagi. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yg telah lepas dalam benakku selama ini.. Ada satu kata.. Sederhana sekali tanpa bumbu2.. Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada..

Aku mampir di Minimarket, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap.. Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional..
Ini kebangganku yg pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali.. Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalanMu yg lurus, yg lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati..

Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat Jum’at dan berdoa bersama saudara2ku yg sebenarnya.. Orang2 yg sangat ikhlas membela Mu..
Besok, tak ada jarak mereka dgnMu ya Allah.. Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yg basah kuyup hari ini.. tak ada penggargaan dr manusia yg kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku.. Mohon Kau terima dgn sangat.. Bismilahirahmanirahiim..💐💐

(1 Desember 2016 , Diceriterakan oleh Joni A Koto, Arsitek, Urban planner.. alumni ITB 93)

 

Sepenggal kisah heroik bela Islam jilid 3, monas 212 2016 Desember 1, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita Dunia Islam, kisah/cerita, Uncategorized.
Tags: ,
1 comment so far

Ah….mereka membuat iri

😢😭🤗pastilah terharu dan meneteskan air mata

sebuah kisah kesaksian kaum anshor (from fb, hamba Allah)

Penantian saya dan orang-orang yang berbaris di sepanjang Jl Raya Cileunyi, tidak sia-sia pun tidak surut walau hujan terus mengguyur.
Begitu rombongan pendemo dari Ciamis yang berjalan kaki muncul dari kejauhan, semua bersiap. Kami berdiri, berbaris panjang sekali di tepi jalan, menenteng kresek dan kardus berisi segala macam yang bisa kami berikan. Air minum dalam kemasan, hansaplast, jamu dalam kemasan sachet siap minum, masker untuk jaga-jaga jika nanti gas air mata disemburkan penguasa, sandal jepit, jas hujan dan pakaian ganti plus sekantung plastik roti, donat, permen, buah, cemilan dll dalam satu plastik berbentuk paketan, kami bagikan. Mereka, menerima dengan sangat senang hati. Takbir bersahutan tiada henti. Hujan, banjir, tidak menyurutkan massa untuk berkumpul memanjang dari Ujung Jalan Raya Cileunyi sampai Bundaran Cibiru dan sepanjang jalan Soekarno-Hatta sampai Kantor Perhutani Soekarno – Hatta.
Yang membuat saya merinding, seorang santri kecil berusia delapan tahun, terlihat ikut berjalan bersama rombongan. TANPA ALAS KAKI, mengatupkan kedua telapak tangan dan menggigil kedinginan diguyur hujan.
Segera saya “tewak” dan tarik ke pinggir anak itu.
“Sandalnya mana ?” tanya saya.
“Putus Buu, jadi saya buang,” katanya.
Seorang dari kami menyodorkan sepasang sandal jepit baru.
“Bawa baju ganti ?” tanya saya lagi.
Anak itu menggeleng.
Saya tarik makin ketepi, tepat di Teras Bank BJB ini. Saya minta dia melepas plastik kantung yang dipakainya untuk menahan hujan. Ternyata baju seragam santri yang dipakainya pun basah kuyup. Segera kami sodori sehelai kaos panjang dan trening panjang, lalu dia memakai jas hujan yang juga kami sodorkan.
“Kenapa ikut ?” tanya saya.
“Ngagentosan ( menggantikan ) pun Bapa ( ayah saya ),” jawab anak lelaki itu.
“Bapa ade kamana ( Bapakmu kemana ) ?” tanya saya sambil menggenggam kan beberapa lembar uang.
“Atos ngatunkeun ( sudah tiada ),” jawab seorang santri dewasa yang muncul di belakangnya.
Ada rasa nyeri yang menyayat perut di bawah iga kanan saya
Entah apa yang ada di benak para penghina, penyinyir dan penista yang kedua orangnya masih lengkap, berusia dewasa, punya biaya, uang banyak, gagah perkasa DAN dia MUSLIM tapi bisanya cuma menyinyiri, menista dan menghina…
Rombongan lewat, semua logistik paketan habis kami bagikan. Tinggal logistik dalam wadah kardus dan karung. Kami naikkan ke ambulance dan mobil-mobil bertanda rombongan.
Tetiba saya dibuat terkejut. Satu demi satu gadis-gadis berjilbab lebar itu bergantian memeluk saya dan saling berpelukan antar sesamanya dengan mata basah.
Ucapan syukur dan tangis kegembiraan mereka, juga terasa menyayat hati saya.
“Bu, ayo ikut !” teriak anak gadis berjilbab lebar dan mengendarai sepeda motor. Saya diajak ikut mengiringi laju rombongan itu bersama anak-anak lain, dengan motor mereka.
Bahagianya hari ini, melupakan derita nyeri di hari pertama datangnya “tamu bulanan” saya…..

 

 

Sepenggal kisah heroik ummat islam indonesia pada aksi 04112016, bela Al quran November 7, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita Dunia Islam, kisah/cerita, Uncategorized.
Tags:
add a comment

Maaf hanya bisa meneruskan

Sepenggal kisah heroik ummat islam pada 04 11 16

Catatan menarik dari kawan saya Fajar Shodiq di grup alumni “Dzunnuroin”.

Afwan, ini sekedar share pengalaman ana pribadi tentang ukhuwwah islamiyyah kemarin sore, terlepas apakah teman2 dzun sepakat dengan aksi kemarin.

Saya bingung memulainya, jadi ceritanya ga runut, seadanya…

Dari awal aksi selepas sholat juma’at, longmarch terasa berada di pusaran kisah sejarah perjuangan pada masa awal-awal Islam. Massa tumpah ruah di jalan, tapi jangan bayangkan aksi dorong-mendorong, yang ada sikap saling melindungi satu sama lain. Perempuan diberikan jalan lebih dahulu, ayah yang menggendong anaknya pun diperlakukan demikian. Beberapa laskar menjaga persimpangan jalan yang berpotensi tabrakan antar massa. Juga melindungi penjaja makanan kaki lima dari kepadatan arus massa.

Jangan bayangkan haus dan lapar, di sepanjang jalan berdiri relawan yang menawarkan minuman dan makanan. Bahkan sesama peserta aksi saling menawarkan minum dan makan, saling mengenalkan diri dan daerah asalnya.

Masuk waktu ashar, lautan massa mulai memenuhi area sholat yg disediakan. Antrian toilet, antrian wudhu, semua sangat teratur. Ingat lho, jumlah massa sudah ratusan ribu bahkan juta orang, bisa tertib dan teratur.

Suplai makanan dan minuman tidak berhenti. Relawan begitu bersemangat menyediakan logistik untuk peserta aksi selepas sholat ashar. Hanya saja, ketika konsentrasi massa sudah berkumpul di depan istana, suplai logistik terhambat karena tidak ada lagi jalan untuk distribusi. Massa begitu padat namun tertib duduk atau berdiri mendengarkan orasi dari mobil komando. Dengan begitu, peserta aksi hanya memiliki persediaan air atau makanan yang hanya ada ditangan mereka sendiri.

Justru dalam keterbatasan persediaan air itulah saya melihat bagaimana seorang muslim memperlakukan saudaranya yang lain. Bagi yang memiliki persediaan air, selalu berusaha menawarkan ke orang-orang sekitarnya sebelum dia minum. Itupun tidak mudah menawarkan, karena yang ditawarkan hanya mengangguk lalu menolak dengan halus agar pemilik air menawarkan airnya ke orang lain dulu.

Memasuki waktu maghrib, beberapa peserta aksi mulai haus sementara jalan keluar untuk mencari air sudah tidak bisa lagi. Kebetulan saya memiliki dua botol air mineral. Saya mencoba menawarkan kembali, alhamdulillah beberapa orang mau meminum. Apa yang terjadi? Peserta hanya minum satu atau dua tenggak saja sehingga beberapa orang hanya menghabiskan setengah botol saja.

Memasuki waktu Isya, polisi mulai menembakan gas air mata ke tengah massa. Banyak peserta yang matanya perih, termasuk saya, bahkan ada yang muntah. Saya mencoba menyiram air ke mata saya sendiri. Lalu mengoleskan odol ke mata agar menetralisir efek gas air mata.

“Air…air…air…” banyak peserta yang berteriak meminta pertolongan. Beberapa orang yang masih memiliki sisa persediaan air berlomba berikan pertolongan. Dengan sekuat tenaga saya mencoba menggunakan sisa air di tas untuk menolong. Tahu apa yang terjadi? Satu setengah botol air saya bisa menolong banyak orang, karena peserta yang terkena efek gas air mata hanya menggunakan air sedikit mungkin untuk dirinya, lalu memberikan ke peserta aksi yang lain. Yang mual hanya minum satu teguk, lalu memberikan ke orang lain.

Bahkan ada peserta yang memiliki persediaan air membasahi sorbannya agar bisa lebih banyak menolong dengan cara mengelap mata korban dengan sorban yang basah tadi.

Bukan hanya itu, ketika hujan gas air mata semakin banyak dan mata makin perih, dan ketika odol sudah habis, banyak peserta aksi yang sudah mengoleskan odol di sekitar matanya, tiba-tiba mengelap odol dari wajahnya agar bisa dioleskan ke wajah orang lain.

Demi Allah, saya menyaksikan betapa kaum muslimin saling melindungi saudaranya dari hujan gas air mata. Beberapa lelaki membuat lingkaran kecil untuk menjadi tameng bagi peserta aksi perempuan.

Beberapa orang kemudian berlari mengejar peluru gas air mata yang datang, menginjak-injaknya agar tidak mengeluarkan gas lebih banyak. Tidak hanya itu, jika dari udara terlihat gas air mata yang akan jatuh ke massa, para peserta aksi saling menarik saudaranya agar terhindar, bukan berlari menyelamatkan diri sendiri padahal dalam kondisi yang gawat.

Persediaan air habis, beberapa orang mencoba mengais botol-botol kosong yang berserakan di jalan sambil berharap siapa tahu masih ada setes air yang bisa digunakan untuk menetralisir gas di mata atau mual di mulut.

Saya tidak kuat lagi menceritakan cerita-cerita mengagumkan selanjutnya. Karena masih banyak cerita yang lahir, bahkan hingga aksi dipindahkan ke gedung DPR dan bubar di waktu shubuh.

Saya jadi teringat pelajaran di sekolah tentang kisah heroik muslimin dalam peperangan di awal-awal sejarah Islam. Dimana di suatu peperangan, ketika ada prajurit terluka yang sedang ditolong dengan diberikan air, prajurit itu meminta agar air diberikan ke prajurit lain yang lebih membutuhkan. Ketika air ingin diberikan ke prajurit kedua, sang prajurit pun meminta agar air diberikan ke prajurit yang lebih sekarat, hingga akhirnya para prajurit itu satu per satu meninggal demi mengutamakan saudaranya yang lain.

Dalam aksi ini tidak ada sekat, tidak saling mengenal, tidak mementingkan diri sendiri, tapi saling melindungi.

Alhamdulillah saya mendapatkan pengalaman betapa murninya persaudaraan dalam aksi 4 Nov kemarin. Allah menyatukan hati kami semua.

Sekali lagi saya minta maaf jika sebagian teman-teman Dzunnuroin menganggap aksi ini tidak patut, tetapi beberapa kali saya ikut aksi sejak mahasiswa dulu, buat saya ini aksi lautan manusia yang bener-bener murni “rasanya”, hanya Allah yang memberikan “rasa” itu sehingga para peserta aksi menghayati “rasa” yang menggetarkan kalbu untuk berkumpul dan membela kalam-Nya (sekali lagi, walaupun teman-teman Dzun belum tentu sepakat ini penistaan).

Coba tanya para aktivis berpengalaman, apakah mudah mengumpulkan lautan manusia yang sukarela, dari segala penjuru nusantara, dengan biaya sendiri, dalam waktu singat, bahkan menyiapkan kain kafan, hanya karena durasi video penistaan yang beberapa detik saja?

Hanya Allah yang menggerakan ini, tidak ada issue yang lebih menggema kecuali membela Alquran.

Sekali lagi, jika aksi ini adalah tingkah laku yang kurang berkenan, maafkan kami yang telah melakukan aksi 4 Nov ini.

Asta’fikum…

 

Sukses Dalam Konseling Obat September 20, 2016

Posted by muhlis3 in artikel kesehatan, Berita Farmasi, Kesehatan, Kuliah, Uncategorized.
Tags: , , , , ,
add a comment

 

Konseling obat yang sukses

By. Muhammad Muhlis, Apt., Sp.FRS

 

Pendahuluan

 

Komunikasi dialogis antara konselor dan klien pada dasarnya merupakan komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal (antarpribadi) merupakan salah satu jenis komunikasi yang sering dilakukan dalam berbagai kesempatan baik di lingkungan keluarga, maupun di lingkungan kerja. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang dimana masing-masing berperan  sebagai komunikator dan komunikan. Proses komunikasi ini terjalin dalam situasi psikologi yang mendalam dan lebih sering dilakukan melaui tatap muka (Gunadi, 1998: 39). Komunikasi interpersonal melibatkan beberapa faktor personal yaitu, persepsi, atraksi interpersonal, konsep diri dan keperibadian yang dimiliki komunikator maupun komunikan, Selain itu  melibatkan pula faktor situasional.

 

Ciri-ciri komunikasi interpersonal/ antarpribadi  adalah  :

1). Alur pesan yang berlangsung dua arah baik dari pengirim maupun penerima pesan;

2). Komunikasi berlangsung dalam suasana yang akrab atau lebih personal;

3). Umpan balik segera dapat diperoleh;

4). Lebih efektif mempengaruhi sikap dan perilaku; dan

5). Jumlah orang yang terlibat sangat terbatas (Wiryanto, 2000: 14).

 

Dalam proses komunikasi, komunikator memegang peran sebagai kunci efektif atau tidaknya komunikasi. Sebab komunikator adalah pengambil inisiatif terjadinya proses komunikasi, sehingga ia harus memiliki kesiapan diri, memformat pesan yang akan disampaikan, memilihan media yang tepat, mengatasi hambatan yang mungkin terjadi dan memahami dengan baik komunikan (Cangara: 2003: 89-90). Seorang komunikator yang efektif disyaratakan untuk mengenal diri sendiri dengan baik dan memiliki syarat tertentu.

McCroskey menyebut seorang komunikator harus memiliki authoritativeness yang terdiri  dari penguasaan terhadap masalah yang dibahas (competensi), sikap (character), tujuan yang baik (intention), kepribadian yang hangat (personality) dan dinamika (dapat menciptakan suasana yag menarik ketika komunikasi) (Effendy: 1998: 91).

Sedangkan Aristoteles menyebutnnya ethos komunikator. Secara umum istilah ethos lebih banyak digunakan, dimana komponen ethos tersebut adalah   kepercayaan (credibility), daya tarik (atractive) dan kekuatan (power) (Rakhmat, 2000: 256).

Efektivitas komunikasi interpersonal perspektif humanistik dapat dijadikan acuan dalam melakukan komunikasi antar konselor dan klien dalam konseling. Sebagaimana yang dikemukakan Joseph de Vito (1997: 259),  sifat-sifat komunikasi interpersonal yang efektif dalam perspektif humanistik adalah menekankan aspek keterbukaan (openness), empati (emphaty), perilaku suportif (supportiveness),  sikap positiif (positiveness) dan kesetaraan (equallity), dimana aspek-aspek tersebut mampu menciptakan interaksi yang jujur dan memuaskan.

 

 

Dalam hubungan komunikasi didapat 5 unsur komunikasi

 

  • Komunikator (orang yang menyampaikan pesan)
  • Pesan (Ide atau gagasan yang akan disampaikan)
  • Media (Sarana atau saluran komunikasi)
  • Komunikan, pendengar, fihak yang menerima pesan
  • Umpan balik, rerspon dari komunikan terhadapa pesan yang diterima

 

Untuk mengoptimalkan komunikasi sehingga tercapai tujuannya dikenal adanya Hukum komunikasi yang disingkat  “REACH”

  • Respect (sikap menghargai)
  • Empathy (kemampuan mendengar)
  • Audible (dapat didengarkan/dimengerti dangan baik)
  • Clarity (jelas)
  • Humble (rendah hati)

 

Menurut Kurzt (1998), dalam dunia kedokteran ada dua pendekatan komunikasi

yang digunakan:

  1. Disease centered communication style atau doctor centered communication style. Komunikasi berdasarkan kepentingan dokter dalam usaha menegakkan diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran klinik mengenai tanda dan gejala-gejala.
  2. Illness centered communication style atau patient centered communication style. Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan pasien tentang penyakitnya yang secara individu merupakan pengalaman unik. Di sini termasuk pendapat pasien, kekhawatirannya, harapannya, apa yang menjadi kepentingannya serta apa yang dipikirkannya

 

Komunikasi yang baik yang dilakukan apoteker kepada pasien memberikan dampak yang positif antara lain :

  1. Dapat melahirkan kenyamanan dan kepuasan bagi kedua belah pihak
  2. Dapat menciptakan satu kata tambahan bagi pasien yaitu empati.

 

Empati itu sendiri dapat dikembangkan apabila farmasis memiliki ketrampilan mendengar dan berbicara yang keduanya dapat dipelajari dan dilatih.

 

Konseling Obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran terkait terapi Obat dari Apoteker (konselor) kepada pasien dan/atau keluarganya (klien). Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap di semua fasilitas kesehatan, dapat dilakukan atas inisitatif Apoteker, rujukan dokter, keinginan pasien atau keluarganya.

 

Syarat keberhasilan konseling

  • Keterbukaan (openness)
  • Kesetaraan (equallity)
  • Kepercayaan (Trusty)
  • Empati (emphaty)
  • suportif (supportiveness),

 

 

Membangun keterbukaan dalam konseling

Keberhasilan konseling dipengaruhi oleh keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien. Keterbukaan ini bukan hanya sekedar bersedia menerima saran-saran dari luar, tetapi juga diharapkan masing-masing pihak yang bersangkutan bersedia membuka diri untuk kepentingan pemecahan masalah. Keterbukaan klien juga ditentukan oleh bahasa tubuh konselor. Untuk menciptakan situasi kondusif bagi keterbukaan dan kelancaran proses konseling, maka sifat – sifat empati, jujur, asli, mempercayai, toleransi, respek, menerima, dan komitmen terhadap hubungan konseling, amat diperlukan dan dikembangkan oleh konselor. Tanpa adanya komitmen maka kita dapat menuai Resistensi atau mungkin juga ketidak Kepatuhan (non-Compliance) dari klien.   sifat sifat tadi akan memperlancar perilaku konselor sehingga klien terpengaruh, dan kemudian klien mengikutinya, sehingga  klien akan menjadi terbuka dan terlibat dalam pembicaraan. Keterusterangan dan kejujuran klien akan terjadi jika klien tidak lagi mempersoalkan asas kerahasiaan dan kesukarelaan. Maksudnya, klien telah betul-betul mempercayai konselornya dan benar-benar mengharapkan bantuan dari konselornya. Lebih jauh keterbukaan akan semakin berkembang apabila klien tahu bahwa konselornya terbuka.

 

Kesetaraan dalam konseling

Komunikasi antarpribadi akan lebih efektif bila suasananya setara, artinya harus ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. Kesetaraan dapat diwujudkan dengan adanya kerjasama untuk memecahkan masalah  dan konflik yang terjadi merupakan upaya untuk memahami perbedaan bukan menjatuhkan pihak lain (Vito, 1997: 263).

Kesetaraan menjadi satu aspek penting dalam interaksi antara konselor dan klien dimana masing-masing pihak memiliki peran strategis selama proses konseling. Kendati konselor sering dianggap sebagai pihak yang menentukan sukses tidaknya konseling, namun tanpa partisipasi aktif dari klien konseling yang efektif juga tidak bisa tercapai. Karena pada dasarnya konseling menuntut kemandirian klien dalam memecahkan masalah atau mengambil keputusan. Sedangkan konselor adalah pihak yang memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan klien.  Menurut  Surya (2003 : 57), Kepribadian konselor merupakan faktor yang paling penting dalam konseling. Karenanya seorang konselor diharapkan mampu menunjukkan kualitas kepribadian yang positif antara lain sikap kesetaraan. Sikap ini membuat klien lebih dihargai dan akan mampu mendorong klien berani dan mandiri menentukan pilihan tanpa banyak mendapat intervensi dari konselor.  Kesetaraan menuntuk sikap dan perasaan yang setara antara konselor dan klien, tidak menunjukkan konselor lebih tinggi atau lebih baik dari klien karena status, kekuasaan, dan  kemampuan intelektual. Dalam kesetaraan ini tidak dikenai istilah menggurui, memaksa, atau menyebabkan klien tertekan, yang pada akhirnya menjadikan suasana yang nyaman bagi klien. Kondisi ruangan dan posisi tempat duduk juga dapat mempengaruhi kesetaraan, duduk di kursi yang dibatasi oleh meja kantor dapat memberikan pesan bahwa konselor adalah orang yang lebih pintar, lebih tahu, sehingga lebih disarankan menggunakan kursi melingkar atau sofa sebagai tempat konseling.

 

Kepercayaan (trusty) dalam konseling

Kepercayaan dalam sebuah konseling dapat meningkatkan keefektivan proses konseling itu sendiri karena dapat menghilangkan hambatan dalam konseling, memudahkan penyampaian pesan dan penerimaan pesan. Kepercayaan klien akan menghasilkan keterbukaan sehingga akan mudah mencapai tujuan konseling. Dalam hubungan konselling kesehatai dapat di kuatkan dengan penandatanganan informed consent yang berisikan bahwa klien bersedia mendapatkan tindakan atau mengikuti aktivitas konseling dan konselor akan menjaga semua kerahasiaan klien selama proses konseling

 

 

Emphati (emphaty) dalam konseling

empati dapat diartikan sebagai menghayati perasaan orang lain atau turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara Surya (Sugiyo, 2005: 5) mendefinisikan bahwa empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang nampak maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran dan keinginan. Menurut Winkel (1991: 175) bahwa empathy yaitu, konselor mampu mendalami pikiran dan menghayati perasaan klien, seolah-olah konselor pada saat ini menjadi klien, tanpa terbawa-bawa sendiri oleh semua itu dan kehilangan kesadaran akan pikiran serta perasaan pada diri sendiri.

 

Bylund & Makoul (2002) mengembangkan 6 tingkat empati yang dikodekan dalam suatu sistem (The Empathy Communication Coding System(ECCS) Levels)

 

Level 6 Shared feeling or experience:  Physician self-discloses, making an explicit statement that he or she either shares the patient’s emotion or has had a similar experience, challenge, or progress.

Level 5 Confirmation:  Physician conveys to the patient that the expressed emotion, progress, or challenge is legitimate.

Level 4 Pursuit:  Physician explicitly acknowledges the central issue in the empathic opportunity and pursues the topic with the patient by asking the patient a question, offering advice or support, or elaborating on a point the patient has raised.

Level 3 Acknowledgment:  Physician explicitly acknowledges the central issue in the empathic opportunity but does not pursue the topic.

Level 2 Implicit recognition:  Physician does not explicitly recognize the central issue in the empathic opportunity but focuses on a peripheral aspect of the statement and changes the topic

Level 1 Perfunctory recognition:  Physician gives an automatic, scripted-type response, giving the empathic opportunity minimal recognition

Level 0 Denial/disconfirmation:  Physician either ignores the patient’s empathic opportunity or makes a disconfirming statement.

 

 

Level 6, Berbagi perasaan atau pengalaman: Konselor  mengungkapkan pernyataan, membuat pernyataan eksplisit bahwa dia siap untuk  berbagi perasaan dengan pasien atau telah memiliki pengalaman serupa, tantangan, atau kemajuan serupa dengan pasien. (misalnya Pasien: “sakit gigi  ini membuat sulit bagi saya untuk bekerja.” Konselor: “oh. Gak papa, kadang-kadang ketika saya sakit, saya juga  sulit untuk beraktifitas di tempat kerja juga. “).

 

Level 5, Konfirmasi: Konselor menyampaikan kepada pasien bahwa pasien dapat mengungkapkan emosi, kemajuan pengobatan , atau masalah yang dihadapi dan ini adalah sah atau perlu. Contoh.  Pasien : Dia (sepupu saya) dan saya tumbuh bersama, kami seperti saudara saya menangis setiap kali saya memikirkan dia”  Konselor:. “Aku tahu itu sangat sulit untuk kehilangan seseorang yang sangat dekat . “).

Level 4 pengejaran/pencarian: Konselor menjelaskan secara eksplisit masalah utama pasien. dalam kesempatan tertentu konselor dapat  bertanya kepada pasien, menawarkan nasihat atau dukungan, atau mengelaborasi pada titik pasien telah bangkit. misalnya “Sepupu saya meninggal.” Konselor: “. Aku ikut berduka  mendengarnya,  Kapan sepupumu meninggal?”).

 

Level 3 Pengakuan: Konselor eksplisit menjelaskan masalah utama dalam sebuah kesempatan tapi tidak mengejar topik. Contoh “Sulit untuk pergi Pada saat saya bangun, saya pikir itu terlalu terlambat untuk pergi ke kelas..” Konselor: “Jadi Anda tidak pergi ke kelas”).

 

Level 2 pengakuan implisit: Konselor tidak secara eksplisit menjelaskan masalah utama pasien dalam sebuah kesempatan namun berfokus pada aspek perifer dari pernyataan dan merubah  topik pembicaraan Contohnya : Pasien : “Dia (sepupu saya) dan saya tumbuh bersama, kami seperti saudara saya dan saya menangis setiap kali saya memikirkan dia.  “Konselor:”. Ketika ini terjadi “)?.

 

Level 1 pengakuan ala kadarnya: Konselor memberikan respons otomatis, respon kaku dan sambil lalu, dan mengambil  kesempatan empati yang sangat minimal. Misalnya Pasien: “Saya sangat frustrasi.” Konselor: “hmmm” . atau dalam menanggapi pasien Konselor berkata  “A ha”, tapi konselor mengerjakan hal lain: menulis, membalikkan badan, menyiapkan alat, dan lain-lain

 

 

Level 0 Sangkalan / diskonfirmasi: Konselor mengabaikan kesempatan baik untuk  empatik kepada pasien atau membuat pernyataan disconfirming. Konselor menolak sudut pandang pasien Mengacuhkan pendapat pasien. Contoh; “Dia dan saya tumbuh bersama, kami seperti saudara. saya selalu menangis setiap kali saya memikirkan dia.” Konselor: “. Bagaimana kesehatan Anda? “). Membuat pernyataan yang tidak menyetujui pendapat pasien seperti “Kalau stress ya, mengapa datang ke sini?” Atau “Ya, lebih baik operasi saja sekarang.”

 

 

Dukungan (Supportiveness) dalam konseling

 

Dalam komunikasi antarpribadi diperlukan sikap memberi dukungan dari pihak konselor agar klien mau berpartisipasi dalam komunikasi. Hal ini senada dikemukakan Sugiyo (2005: 6) dalam komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana yang mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari komunikator. Rahmat (2005 :133) mengemukakan bahwa “sikap supportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif . Orang yang defensif cenderung lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikan dari pada memahami pesan orang lain.

Dukungan merupakan pemberian dorongan atau pengobaran semangat kepada orang lain dalam suasana hubungan komunikasi. Sehingga dengan adanya dukungan dalam situasi tersebut, komunikasi antarpribadi akan bertahan lama karena tercipta suasana yang mendukung.

 

 

 

 

Tujuan Konseling dalam farmasi

  • Mengoptimalkan hasil terapi,
  • Meminimalkan risiko reaksi Obat yang tidak dikehendaki (ROTD), dan
  • Meningkatkan cost-effectiveness
  • Meningkatkan keamanan penggunaan Obat bagi pasien (patient safety)

 

Tujuan Khusus

a.meningkatkan hubungan kepercayaan antara Apoteker dan pasien;

b.menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien;

c.membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan Obat;

d.membantu pasien untuk mengatur dan menyesuaikan penggunaan Obat dengan penyakitnya;

e.meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan;

f.mencegah atau meminimalkan masalah terkait Obat;

g.meningkatkan kemampuan pasien memecahkan masalahnya dalam hal terapi;

h.mengerti permasalahan dalam pengambilan keputusan;dan

i.membimbing dan mendidik pasien dalam penggunaan Obat sehingga dapat mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien.

 

 

Manfaat konseling

Manfaat bagi pasien :

  • Meningkatkan kepatuhan pasien
  • Mengurangi kesalahan dalam penggunaan obat
  • Meminimalkan reaksi obat yang tidak dikehendaki
  • Menjamin obat yang aman dan efektif
  • Memperoleh informasi tambahan baik mengenai obat maupun panyakit
  • 6Mengefektifkan biaya pengobatan
  • Kebutuhan psikologis pasien

 

Manfaat bagi farmasis :

  • Mendapatkan legalitas
  • Menjaga status profesi sebagai tim kesehatan
  • Meningkatkan kepuasan kerja
  • Penerimaan ekonomi

 

Sasaran Konseling

  1. pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi ginjal, ibu hamil dan menyusui);
  2. pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (TB, DM, epilepsi, dan lain-lain);
  3. pasien yang menggunakan obat-obatan dengan instruksi khusus (penggunaan kortiksteroid dengan tappering down/off);
  4. pasien yang menggunakan Obat dengan indeks terapi sempit (digoksin, phenytoin);
  5. pasien yang menggunakan banyak Obat (polifarmasi);dan
  6. pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah.

 

Kegiatan Konseling

  • Membuka komunikasi antara Apt dengan pasien
  • Menanyakan hal-hal yg menyangkut obat yang dikatakan oleh dokter kepada Px dengan metode Three Prime Questions :
    • Apa yg dikatakan oleh dokter mengenai obat
    • Bagaimana cara pemakaian
    • Efek yg diharapkan oleh obat tersebut
  • Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat Verifikasi akhir, dan Follow up, dokumentasi

 

 

 

Contoh sikap farmasis ketika menerima pasien:

 

Menyilakan masuk dan mengucapkan salam, mempersilahkan duduk

–  Memanggil/menyapa pasien dengan namanya.

–  Menciptakan suasana yang nyaman (isyarat bahwa punya cukup waktu, menganggap penting informasi yang akan diberikan, menghindari tampak lelah).

Memperkenalkan diri, menjelaskan tugas/perannya (apakah farmasis, dokter, konsultan gizi, konsultan tumbuh kembang, dan lain-lain).

– Menilai suasana hati lawan bicara

– Memperhatikan sikap non-verbal (raut wajah/mimik,

gerak/bahasa tubuh) pasien

– Menatap mata pasien secara profesional yang lebih terkait

dengan makna menunjukkan perhatian dan kesungguhan

mendengarkan.

– Memperhatikan keluhan yang

disampaikan tanpa melakukan interupsi yang tidak perlu.

–  Melakukan negosiasi atas segala sesuatu berdasarkan kepentingan kedua belah pihak.

–  Membukakan pintu, atau berdiri ketika pasien hendak pulang.

 

 

 

 

 

 

 

7 langkah yang hendaknya diperhatikan ketika melaksanakan penyuluhan bidang kesehatan. September 7, 2016

Posted by muhlis3 in artikel kesehatan, Berita Farmasi, Kesehatan, Uncategorized.
Tags: , , ,
add a comment

 

7 langkah yang hendaknya diperhatikan ketika melaksanakan penyuluhan bidang kesehatan.

 

1. Eksplorasi kebutuhan masyarakat di bidang Kesehatan

2. Merumuskan masalah kesehatan di masyarakat.

3. Menyusun skala prioritas masalah, prioritas utama menjadi target dilakukan penyuluhan dengan segera

4.  Membuat proposal topik penyuluhan dengan muatan  Misalnya saja dimulai dari menetapkan apa tujuan, sasaran, materi, metode penyampaiannya hingga jenis alat peraganya sampai kriteria apa saja untuk bahan evaluasi.

 

  a. Tujuan disesuaikan dengan rumusan masalah kesehatan prioritas

b. Sasaran, dalam menentukan sasaran yang harus diperhatikan  dari segi sasaran antara lain :

 

    a). Tingkat pengetahuan, ketrampilan dan sikap sasaran, Penyuluh harus mengetahui dalam tingkat mana sebagian besar dari sasaran itu berada. Setelah itu harus menghubungkannya dengan tujuan yang akan dicapai. Hal ini penting untuk dapat menentukan metode mana yang paling tepat.

b). Sosial budaya,  Penyuluh harus mengetahui adat kebiasaan sasaran, norma-norma yang berlaku dan statuskepemimpinan yang ada. Hal ini penting bukan saja dalam pemilihan metode penyuluhan tetapi juga dalam menentukan teknik-teknik penyuluhannya.

c). Banyaknya sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penyuluh pada suatu waktu tertentu akan menentukan metode penyuluhan yang akan dicapai.

 

  c. Materi, disesuaikan dengan kebutuhan dan sasaran objek

d. Metode penyampaian,  Metode yang dapat dipergunakan dalam memberikan penyuluhan kesehatan adalah (Notoatmodjo, 2002 ) :

 

    a). Metode Ceramah adalah suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan suatu ide, pengertian atau pesan secara lisan kepada sekelompok sasaran sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan.

b). Metode Diskusi Kelompok adalah pembicaraan yang direncanakan dan telah dipersiapkan tentang suatu topik pembicaraan diantara 5 – 20 peserta (sasaran) dengan seorang pemimpin diskusi yang telah ditunjuk.

c). Metode Curah Pendapat adalah suatu bentuk pemecahan masalah di mana setiap anggota mengusulkan semua kemungkinan pemecahan masalah yang terpikirkan oleh peserta, dan evaluasi atas pendapat tadi dilakukan kemudian.

d). Metode Panel adalah pembicaraan yang telah direncanakan di depan pengunjung atau peserta tentang sebuah topik, diperlukan 3 orang atau lebih panelis dengan seorang pemimpin.

e). Metode Bermain peran adalah memerankan sebuah situasi dalam kehidupan manusia dengan tanpa diadakan latihan, dilakukan oleh dua orang atu lebih untuk dipakai sebagai bahan pemikiran oleh kelompok.

f). Metode Demonstrasi adalah suatu cara untuk menunjukkan pengertian, ide dan prosedur tentang sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan, adegan dengan menggunakan alat peraga. Metode ini digunakan terhadap kelompok yang tidak terlalu besar jumlahnya.

g). Metode Simposium adalah serangkaian ceramah yang diberikan oleh 2 sampai 5 orang dengan topik yang berlebihan tetapi saling berhubungan erat

h). Metode Seminar adalah suatu cara di mana sekelompok orang berkumpul untuk membahas suatu masalah dibawah bimbingan seorang ahli yang menguasai bidangnya.

 

  e. Media komunikasi Memilih Media

Media penyuluhan kesehatan adalah media yang digunakan untuk menyampaikan pesan kesehatan karena alat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan kesehatan bagi masyarakat yang dituju. Menurut Notoatmodjo (2005), media penyuluhan didasarkan cara produksinya dikelompokkan menjadi :

    a. Media cetak yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Media cetak terdiri dari :
      1) Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan kesehatan dan bentuk buku, baik tulisan ataupun gambar.

2) Leaflet adalah suatu bentuk penyampaian informasi melalui lembar yang dilipat. Isi informasi dapat berupa kalimat maupun gambar.

3) Selebaran adalah suatu bentuk informasi yang berupa kalimat maupun kombinasi.

4) Flip chart adalah media penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk lembar balik berisi gambar dan dibaliknya berisi pesan yang berkaitan dengan gambar tersebut.

5) Rubrik atau tulisan pada surat kabar mengenai bahasan suatu masalah kesehatan.

6) Poster adalah bentuk media cetak berisi pesan kesehatan yang biasanya ditempel di tempat umum.

7) Foto yang mengungkap informasi kesehatan yang berfungsi untuk member informasi dan menghibur.

 

    b. Media Elektronik yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat dan didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronik, adapun macam media elektronik :
      1) Televisi

2) Radio

3) Video

4) Slide

5) Film

    c. Luar ruangan yaitu media yang menyampaikan pesannya di luar ruangan secara umum melalui media cetak dan elektronika secara statis, misalnya :
      1) Pameran

2) Banner

3) TV Layar Lebar

4) Spanduk

5) Papan Reklame

    Untuk menentukan media yang paling cocok paling tidak ada 6 (enam) pertanyaan yang perlu diajukan, antara lain :
      a. Siapa yang akan dilatih ?

b. Apa yang diharapkan dan mampu dilakukan oleh peserta didik ?

c. Dimana pelatihan akan diadakan dan berapa lama ?

d. Metode belajar apa yang digunakan ?

e. Media penyuluhan apa yang akan digunakan ?

f. Bagaimana mengetahui efektifitas pelatihan/penyuluhan ?

5. Pelaksanaan dari penyuluhan sudah direncanakan waktu dan tempatnya.

6. Menyusun beberapa kriteria penilaian dari hasil penyuluhan.

7. Merencanakan bagaimana tindak lanjut untuk proses selanjutnya setelah dilakukan penyuluhan serta hasil evaluasinya.

 

Langkah langkah penyuluhan metode ceramah

Persiapan

1. Menentukan tujuan.

2. Menenukan Sasaran,

3. Mempersiapkan Materi.

4. Topik yang dikemukakan hanya satu masalah sesuai dengan kebutuhan sasaran.

5. Mempersiapkan alat peraga yang sesuai dengan topic.

6. Menentukan waktu dan tempat.

7. Mempersiapkan bahan bacaan bila diperlukan.

 

Pelaksanaan

1. Perkenalan diri, sampaikan pula jika diakhir acara akan ada hadiah bagi yang dapat menjawab pertanyaan

2. Menjelaskan tujuan ceramah.

3. Menjelaskan pokok permasalahan yang akan dibahas.

4. Menyampaikan materi ceramah dengan suara yang jelas dan bahasa yang mudah dimengerti.

5. Pandangan penceramah dalam menyampaikan materi merata keseluruh sasaran.

6. Bila bisa selingi dengan humor.

7. Gunakan alat peraga untuk memudahkan pengertian pendengar dan bawakan ceramah secara santai.

8. Berikan kesempatan kepada sasaran untuk bertanya terhadap hal-hal yang kurang jelas.

9. Jawablah pertanyaan-pertanyaan sasaran dengan jelas dan menyakinkan.

10. Sebelum mengakhiri ceramah hendaknya penceramah menyimpulkan hasil ceramahnya.

 

 

Penilaian Ceramah dinilai berhasil apabila :

1. Ada respons dari pendengar dengan banyaknya pertanyaan.

2. Adanya usulan dari sasaran untuk meneruskan kegiatan ceramah.

3. Besarnya perhatian pendengar dari ceramah yang diberikan.

4. Penceramah bertanya kepada pendengar tentang materi yang dibawakannya dan pendengar dapat menjawab pertanyaan tersebut sekali tidak terhadap seluruh pendengar.

 

 

Langkah langkah penyuluhan metode Demonstrasi.

Persiapan

1. Menetapkan tujuan.

2. Menentukan materi.

3. Menentukan sasaran dengan latar belakangnya.

4. Menentukan waktu dan perkiraan lamanya waktu demonstrasi.

5. Menentukan alat-alat dan alat peraga yang akan digunakan.

6. Menyesuaikan materi yang akan disampaikan dengan demostrasi yang akan dilaksanakan

7. Mengecek segala persiapan secara keseluruhan serta peralatan yang sudah dipersiapkan.

 

Pelaksanaan

1. Menjelaskan tujuan demonstrasi.

2. Menciptakan suasana akrab dengan penampilan sikap yang ramah, sopan, dan memikat.

3. Menjelaskan materi yang akan didemonstrasikan dengan memperlihatkan ilustrasi melalui alat-alat yang dipakai secara teliti dan benar.

4. Memberikan tekanan yang dianggap penting dengan cara mengulang-ulang agar sasaran benar-benar mengerti dan mudah mengingatnya.

5. Memberikan kesempatan kepada beberapa orang sasaran untuk mendemonstrasikannya seperti apa yang telah diperagakan oleh penceramah.

6. Memberikan kesempatan untuk Tanya jawab.

 

Penilaian Keberhasilan demonstrasi dapat dilihat dari :

1. Banyaknya pertanyaan tentang materi dan prosedur yang didemonstrasikan dan jawaban yang diberikan dapat memuaskan sasaran.

2. Adanya permintaan untuk melaksanakan demonstrasi serupa atau yang lain dengan sasaran yang sama atau yang lain.

3. Nampak kepuasan dari sasaran setelah demonstrasi dilaksanakan.

4. Adanya laporan (penelitian) bahwa apa yang didemonstrasikan dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari

 

Clinical Pharmacy, farmasi klinik Agustus 31, 2016

Posted by muhlis3 in artikel kesehatan, Berita Farmasi, Kesehatan, Uncategorized.
Tags: , , ,
add a comment

Definisi singkat dari Farmasi Klinik

Clinical pharmacy is defined as that area of pharmacy concerned with the science and practice of rational medication use.

Menurut American College of Clinical Pharmacy (2008), farmasi klinis didefinisikan sebagai suatu area  dari pekerjaan apoteker yang berkaitan  dengan ilmu pengetahuan dan praktek penggunaan obat yang rasional.

 

Unabridged Definition of Clinical Pharmacy Clinical pharmacy is a health science discipline in which pharmacists provide patient care that optimizes medication therapy and promotes health, wellness, and disease prevention. The practice of clinical pharmacy embraces the philosophy of pharmaceutical care; it blends a caring orientation with specialized therapeutic knowledge, experience, and judgment for the purpose of ensuring optimal patient outcomes. As a discipline, clinical pharmacy also has an obligation to contribute to the generation of new knowledge that advances health and quality of life

 

Secara Luas farmasi klinis di definisikan sebagai  disiplin ilmu kesehatan di mana apoteker diharapkan memberikan perawatan kepada pasien dengan cara  mengoptimalkan terapi obat dan mempromosikan kesehatan, kesejahteraan , dan pencegahan penyakit. Dalam dataran praktis farmasi klinis merupakan perwujudan  filsafat pelayanan farmasi (pharmaceutical care); yaitu  dengan cara  memfokuskan orientasi pada pasien, dengan bekal tentang  pengetahuan terapi khusus individu, pengalaman, dan memberikan pertimbangan terapi  yang bertujuan menjamin hasil terapi yang  optimal. Sebagai salah satu  disiplin kesehatan, farmasi klinis juga memiliki kewajiban untuk berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan  untuk  peningkatan  kesehatan dan kualitas kehidupan masyarakat. American College of Clinical Pharmacy (2008) Pharmacotherapy 2008;28(6):816–817

sehingga dapat disimpulkan bahwa farmasi klinik adalah suatu area pekerjaan yang  melingkupi pelayanan Pharmaceutical care dengan memfokuskan kerja pada peningkatan pelayanan terapi obat dan mencegah pasien dari mendapatkan efek yang merugikan dari terapi yang didapat; andil dalam promosi kesehatan, serta berkontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan untuk peningkatan kesehatan individu maupun masyarakat

 

Morning sex Juli 25, 2016

Posted by muhlis3 in sex at home, Uncategorized.
Tags:
add a comment

MORNING SEX

Tidak ada salahnya anda pasangan suami istri melalukan morning sex.
Adabanyak kelebihan di pagi hari.
Keadaan pria yang biasanya ‘terbangun’ di pagi hari. Membuat Anda dan pasangan dapat menghemat waktu untuk tidak melakukan foreplay lama-lama. Dengan begitu Anda masih punya banyak waktu untuk hal lainnya.

Bangun tidur adalah keadaan yang paling rileks untuk semua orang. Dengan begitu akan sangat menguntungkan untuk Anda dan pasangan anda mencapai orgasme karena tidak ada yang dipikirkan oleh Anda berdua, seperti kerjaan yang belum tuntas dan sebagainya.

Kegiatan morning sex ini ternyata mampu meningkatkan imunitas, sehingga membuat Anda jarang sakit

Berikut khasiat morning sex
1. Menyehatkan alias Jarang sakit
2. Menurunkan resiko serangan jantung.
3. Gampang orgasme
4. Semangat bekerja
5. Tidak terlambat ke kantor

Berbagai sumber

Kedudukan suami sebagai Pemimpin dalam Rumah Tangga Juni 14, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita Dunia Islam, keluarga, Uncategorized.
Tags: , , ,
add a comment

Seri taujih Keluarga sakinah

oleh Muhammad Muhlis

 

 

Lelaki adalah pemimpin Keluarganya

 

Suami sebagai qowamah, pemimpin keluarga tidak lepas dari tanggung jawab dan hak sebagai seorang pemimpin. Kedua permasalan ini ibarat dua lengan timbangan, yang beban kiri dan kanan haruslah imbang, jika tidak maka akan “njomplang”, seorang suami haruslah mendahulukan tanggung jawabnya, ini ibarat anak timbangan, maka hak akan menyusul kemudian ini ibarat zat yang akan ditimbang, jadi berat ringannya hak suami ( zat yang ditimbang) akan sangat tergantung dengan anak timbangan yang kita letakkan, sampai kemudian terbentuk keseimbanngan antara anak timbangan dengan yang ditimbang, seperti  itulah kira kira konsep adil.

 Allah SWT menjelaskan urusan ini dalam Firmannya pada QS.  An Nisa’ : 34,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). ” [An-Nisaa’: 34]

Pada QS.  An Nisa’ : 34, Allah SWT menjelaskan ada 2 Tanggung jawab suami terhadap keluarga yaitu Kepemimpinannya terhadap keluarga dan Menafkahi keluarga

  1. Kepemimpinannya terhadap keluarga,

Keluarga merupakan organisasi terkecil dalam masyarakat, karena itulah keluarga memiliki struktur kepemimpinan dan tanggung jawab. Keluarga yang sukses yang didalamnya bersemayam ketenangan keluarga, kenyamanan beribadah, dan keceriaan dalam komunikasi tidak lepas disebabkan karena adanya pemimpin keluarga yang amanah, arif dan bijaksana. Berkeluarga bermakna pula dengan mewujudkan tatanan kehidupan islami minimal dalam keluarga tersebut, sehingga kehidupan dalam rumah tangga muslim menjadi nilai ibadah yang komprehensif.  Sebuah keluarga muslim jika benar dalam pembentukan dan penyiapannya, benar dalam pengamalan dan aktualisasi hidupnya maka akan menjadi cikal bakal masyarakat muslim yang baik, yang dapat menjalankan syari’at islam dalam bermasyarakat. Tidak berlebihan jika kita berkesimpulan bahwa negara yang baik berasal dari kumpulan keluarga yang sakinah. Untuk mewujudkan hal tersebut adalah mendesak untuk terbentuknya seorang “pilot” yang mumpuni untuk memimpin sebuah keluarga, membawa keluarga tersebut mulai dari persiapan penerbangan, dan terbang menuju impian. Dalam Islam pilot sebuah  keluarga adalah suami, sebagaimana firman Allah SWT pada QS : An-Nisaa’: 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). ” [An-Nisaa’: 34]

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه

 “Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِيْ أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
Ayat di atas secara jelas dan tegas menunjukan bahwa laki- laki adalah pemimpin bagi wanita. Tidak hanya sekedar pemimpin yang dibutuhkan tetapi seorang pemimpin yang bersifat komprehensif, pemimpin yang dapat melindungi anggota keluarganya, pemimpin yang dapat mentarbiyah keluarganya, pemimpin yang dapat mengarahkan, mendamping membantu mejaga, mengawasi anggota keluarganya sehingga keluarga tersebut dapat berjalan dengan harmonis menuju tujuan hidup.   Dan Allah telah menciptakan laki-laki dalam bentuk pastur tubuh dan sifat- sifat yang bisa dijadikan bekal untuk menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan memerlukan pendayagunaan akal secara maksimal dan membutuhkan stamina tubuh yang kuat, khususnya di dalam menghadapi berbagai rintangan dan kendala, serta pemikiran dan akal yang panjang tatkala memecahkan berbagai problematika yang cukup rumit.  Dan pada sisi yang lain, Allah adalah Dzat Yang Maha Adil, tidak ingin mendholimi seseorang. Sehingga, dipilihlah laki- laki sebagai pemimpin rumahtangga dan pemimpin  bagi kaum wanita secara umum. Karena tabi’at perempuan yang lemah lembut, mudah terbawa arus perasaan, yang mengandung dan menyusui, serta merawat anak, sangatlah tidak relevan jika wanita dibebani sebagai pemimpin  bahtera rumah tangga yang begitu besar dan berat. Dari sini,  sangatlah tepat ayat di atas.

Kepemimpinan laki laki dalam keluarga selain karena perintah Allah swt  di dalam QS al- Nisa’ : 34, juga disebabkan karena dua hal lainnya, pertama diciptakannya Siti Hawa ibunya seluruh manusia dari bagian tubuh Nabi Adam as. Dari sini dapat dilihat bahwa istri merupakan bagian yang integral dari sang suami, kedekatan inilah yang menimbulkan insting para suami untuk menyayangi, melindungi, mengarahkan, membina, serta mengawasi pasangan hidupnya. Kedua adalah suami telah mendapat perlimpahan mandat perwalian dari sang ayah wanita dalam sebuah prosesi ijab qobul. Seperti yang sudah dibahas pada bab ijab qobul sebelumnya. Dengan demikian seorang suami bertanggung jawab penuh terhadap istri dan keluarganya, yang dipertanggung jawabkan ke hadapan Allah SWT bukan hanya kebaikan dan amal dari anggota keluarga tetapi juga kesalahan dan dosa dari anggota keluarga tersebut. Inilah sebabnya yang kemudian bahwa Allah SWT memberikan pahala berlimpah pada seorang suami berupa  pahala sebagai seorang pemimpin “ Qowwam “ dalam sebuah keluarga.

Rasulallah saw bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Dan ketiga amal tersebut terkumpul dalam diri seorang ayah (qowwam) yang solih dan bertanggungjawab.

“ Qowwam “ menurut Imam Qurthubi artinya melakukan sesuatu dan bertanggung jawab terhadapnya dengan cara meniliti dan menjaganya  dengan kesungguhan. Maka tanggung jawab laki-laki terhadap istri dalam batasan tersebut, yaitu dengan  mengurusi, mendidik dan menjaga dirumahnya dan melarangnya untuk keluar ( tanpa ada keperluan ) .

Pada kondisi tersebut dapat  dipahami bahwa kepemimpinan laki-laki terhadap wanita bukanlah kepimpinan otoriter, tapi lebih cenderung  seperti  kepemimpinan untuk memperbaiki dan meluruskan yang bengkok.

Walaupun bukan kepemimpinan otoriter, kepimpinan laki-laki dalam rumah tangga adalah kepimpinan mutlak, sebagaimana para pemimpin negara terhadap rakyatnya, artinya dia berhak untuk memerintah, melarang  mengurusi dan mendidik. Di sanalah rahasia mengapa Al Qur’an menggunakan kata sifat  ( al Rijal Qowwamuna ), kepemimpinan laki-laki tidak bisa bergeser ke wanita disebabkan laki laki sakit atau udzur, misalnya dalam hal nafkah, tidak bisa kepemimpinan keluarga berpindah dari laki laki ke wanita disebabkan wanita yang menafkahi keluarga.

Dalam satu sisi kepimpinan laki-laki terhadap perempuan bukan seperti kepemimpinan militer atau administrasi, yang menyuruh dan melarang tanpa diikut sertakan anggota rumah tangga. Akan tetapi kepemimpinan tersebut lebih cenderung kepemimpinan yang dijalankan melalui musyawarah, saling memamahami dan saling merelakan, karena musyawarah itu merukan akhlaq seorang muslim dalam segala urusannya sebagaimana di syari’atkan Allah swt dalam QS Ali-Imran : 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali-Imran : 159)

Bahkan menurut Syekh  Muhammad Ismail Muqoddim, bahwa kepemimpinan laki- laki terhadap perempuan, bukan sekedar kekuasaan dan kediktatoran, akan tetapi sudah menjadi  sebuah sistem. Sistem ini harus diterapkan oleh masyarakat, agar  terjadi keserasian di dalam kehidupan ini. Sistem ini, mirip sistem yang dipakai dalam sebuah negara. Artinya kepimpinan cenderung ditetapkan demi sebuah keserasian dan keteraturan. Oleh karenanya, seorang muslim akan di katakan berdosa, kalau dia keluar dari sistem ini, walaupun dia lebih  utama dari pemimpin negara. Begitu juga, seorang perempuan akan di katakan berdosa, jika ia keluar dari kepemimpinan laki- laki ini, walau secara dlhohir, dia mungkin lebih afdhol ( utama ) dalam beberapa segi. Dan inilah rahasia, mengapa al Qur’an  tidak menggunakan kalimat  “ ar Rijal Sadah ala Nisa ‘ “  Sadah berarti tuan.

Namun perlu diingat bahwa kedudukan hak dan kewajiban suami istri adalah seimbang dan saling melengkapi. Kepemimpinan lelaki dalam sebuah rumah tangga juga merupakan Syar’iyyah (sebagai pembuat aturan) yang diatur oleh aturan aturan yang demikian banyak, Diantaranya adalah adanya kaidah yang mulia : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” QS . Al-Baqoroh: 228), kepemimpinan lelaki tidak menyebabkan ia berbuat sekehendak hatinya disebabkan atas hak asasi atas suami dan istri, rasulullah saw pun bersabda:

إِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا.

“Sesungguhnya isterimu mempunyai hak yang wajib engkau tunaikan.” (HR. Bukhari Muslim)

Sangat menarik sekali apa yang di tulis oleh DR. Abdul Mun’im Sayid Hasan, ketika mengomentari surat An-Nisaa’: 34 di atas. Beliau menyebutkan bahwa  dalam ayat tersebut, Allah tidak menggunakan kata perintah, tetapi menggunkan metode pemberitahuan, yang  mengandung perintah dan keharusan. Menurut beliau, metode ini  menunjukkan bahwa masalah kepemimpinan dan tanggung jawab seorang suami dalam keluarga,  seakan-akan sesuatu konsep yang sudah disepakati oleh manusia,  bahkan kesepakatan ini, dapat dikatakan sudah  ada sebelum ayat tersebut diturunkan. Pernyataan seperti ini, dikuatkan oleh  J.C. Mosse, yang menyatakan bahwa pola relasi gender seperti yang diterangkan di dalam Al Qur’an tersebut, dimana laki-laki memegang tangguang jawab keluarga, mempunyai kemiripan di seluruh belahan bumi bagian utara, termasuk Eropa dan Amerika.  Bahkan menurut konsep keluarga dalam tradisi Yunani dan Romawi, kepala rumah tanggapun dipegang oleh laki- laki.

Untuk menafsirkan arti “ Qowamah “  yang lebih jelas lagi, Syekh Muhammad Madani justru mengaitkannya dengan lanjutan ayat yang berbunyi ( bima fadolahu ba’dhohum ‘ala ba’dhin  pada perempuan dalam ayat ini,  bukan berarti laki- laki lebih super, lebih mulia dari perempuan, dan bahwa perempuan itu lebih lemah, lebih rendah dan berada di kelas kedua dari laki- laki. Akan tetapi artinya, bahwa laki- laki mempunyai ciri dan tugas tersendiri yang tidak di miliki oleh perempuan. Sebagaimana perbedaan antara anggota tubuh manusia itu sendiri, seperti tangan , kaki, mata, telinga, hidung dan mulut. Masing – masing dari anggota tubuh tadi mempunya fungsi dan kelebihan sendiri yang tidak dimiliki oleh anggota lain.  yaitu karena Allah memberikan kelebihan sebagian mereka ( laki- laki ) di atas sebagian yang lain ( wanita ). Allah menyebutkan bahwa laki-laki merupakan bagian dari perempuan, begitupun sebaliknya.

Karena merupakan pasangan yang saling melengkapi maka saling menghargai dan menghormati antar suami istri adalah yang paling diutamakandalam sebuah keluarga, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya.”

Imam Muhammad Abduh berkata dalam tafsirnya, “ Yang dimaksud dengan  al-qiyam dalam firman Allah, “ Kaum Lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita’ adalah kepemimpinan yang didalamnya orang yang dipimpin bebas berbuat menurut kehendak dan pilihannya, bukan berarti bahwa orang yang dipimpin itu ditekan dan dirampas iradahnya, Ia tidak boleh mengerjakan sesuatu pekerjaan kecuali sesuai dengan pengarahan pemimpinnya, karena keberadaan seorang sebagai  pemimpin atas yang lain itu sebagai ungkapan tentang bimbingan dan pengawasannya kepadanya didalam melaksanakan petunjuk tersebut, yakni memperhatikannya dalam pekerjaan pekerjaannya dan pemeliharaannya, diantaranya ialah memelihara rumahtangga dan tidak meninggalkannya meskipun umpamanya untuk mengunjungi keluarga atau kerabat, kecuali pada waktu waktu dan keadaan yang diizinkan dan diridloi oleh sang suami. Sebagai mana dikisahkan sahabat di zaman rasulullah saw,

Tersebutlah seorang istri yang amat taat pada suaminya. Suatu hari sang suami pamit hendak pergi berjihad fisabillah . Sebelum berangkat sang suami berpesan. ” istriku..aku akan pergi jihad….,sebelum aku pulang, janganlah engkau keluar rumah ” setelah itu berangkatlah sang suami. Hari telah berlalu hingga suatu hari datanglah seorang utusan yang menyampaikan kabar tentang ibu sang wanita itu. ” Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ” Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” ” Ibu anda sekarang sedang sakit keras , jenguklah ia ” ” Maaf , saya tidak bisa datang karena suamiku belum pulang dan aku tidak di ijinkan keluar rumah sebelum suamiku datang , jadi sampaikan saja salam untuk ibu saya “. Lalu pulanglah utusan itu. Besoknya utusan itu datang lagi. ” Ibu anda sekarang sekarat , jenguklah ia ”
” Tentu saya ingin datang ke sana , tapi suami saya belum pulang , jadi sampaikan permintaan maaf saya untuk ibu”. Lalu utusan itu pulang.
Dan besoknya utusan itu kembali lagi. “Ibu anda sekarang meninggal , datanglah untuk yang terakhir kali sebelum ibu anda di kubur ” ” Maaf sekali lagi maaf , suami saya belum pulang dan saya tidak dapat keluar rumah tanpa seijinya ” Lalu pulangkah utusan itu. Karena saking jengkelnya utusan tersebut mengadukan hal itu kepada Rasul ” Ya Rasul !! agaknya si wanita itu benar-benar  keterlaluan “, dengan nada sedikit marah. ” Ada apa ? ” jawab rasulullah. ” Dari mulai ibunya sakit…sekarat hingga meninggal…wanita itu tidak mau datang menjenguk ibunya !!” ” Kenapa dia tidak mau datang?”
” Wanita itu mengatakan bahwa ia tidak diijinkan keluar rumah sebelum sang suami pulang “. Mendengar jawaban itu rasul hanya tersenyum lalu bekata.
” Dosa ibu itu diampuni oleh Allah Swt karena mempunyai anak yang taat pada suami”.

Sebagai pemimpin keluarga adalah tugas utama suami untuk menjaga seluruh anggota keluarga dari panas nya api neraka sebagaimana pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [At-Tahrim: 6]

Penjagaan dari suami ini tidaklah dapat diwakilkan, sehingga seorang suami yang baik akan selalu memastikan anggota keluarganya tetap pada rel pengabdian kepada Allah SWT, memastikan setiap keluarganya memiliki niat dan ibadah yang benar, dalam rangka mencari ridlo Allah SWT.

Sebagai bentuk penjagaan seorang suami maka suami juga harus memerintahkan isteri dan anak anak dibawah kuasanya untuk mendirikan agamanya serta menjaga shalatnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” [Thaahaa: 132]

Agar anggota keluarga  dapat mendirikan shalat, maka sudah menjadi kewajiban seorang suami sebagai penanggung jawab keluarga untuk mendidik keluarganya dan menjamin anggota keluarganya  untuk dapat menjalankan kewajiban tersebut, baiknya dengan mengajari sendiri dan ini menjadi lebih utama, dan jika tidak mampu untuk mengajari sendiri  maka seorang suami berkewajiban mencarikan guru untuk anggota keluarganya,

Rasulallah bersabda :

“Barang siapa mendidik anak kecil hingga ia dapat mengucapkan “lailaha-illallah” maka Allah tidak akan menghisab (amal)nya.” (al Jami’ ash Saghir, juz 2, hal 603)

Rasulullah saw bersabda: “Didiklah anak kalian atas tiga hal: Mencintai Nabi kalian, mencintai ahlulbait (keluarga) dan membaca Alquran.” (Ash Shawa’iq al-Muhriqah, hal. 172)

  1. Ganjaran suami sebagai pemimpin yang sukses

Lantas bagaimana kedudukan suami sebagai pemimpin dalam keluarga jika  dapat menjalankan misi kepemimpinannya dengan benar

Ada tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka di bawah naungan-Nya yang tiada naungan pada hari itu kecuali naungan-Nya: (Yang pertama) Imam yang adil . . . ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan menurut al-Qadhi ‘Iyadh,  disebutkannya imam yang adil pada urutan pertama karena banyaknya manfaat dan mashlahat yang dihasilkannya. (Lihat: Syarah Sunan al-Nasai: 7/102)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ . . .الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil, kelak di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya di sebelah kanan Allah Azza wa Jalla. . . . yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan apa saja yang mereka pimpin.”

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya dan beliau menghasankannya, dari hadits Abi Sa’id al-Khudri secara marfu’, “Manusia paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat tempatnya dengan Allah adalah pemimpin yang adil.”

Rasulullah  saw, bersabda:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنِي وَرْقَاءُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Muslim telah menceritakan kepadaku [Zuhair bin Harb] telah menceritakan kepada kami [Syababah] telah menceritakan kepadaku [Warqa`] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang imam itu ibarat perisai, seseorang berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. Jika seorang imam (pemimpin) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ‘azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (imam) akan mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia (imam) memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR: Imam Muslim Nomor 3428)

AllahSWT akan  memberi ganjaran kepada setiap manusia , sekecil apa pun amal yang diperbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” [An Nisaa’ 40]

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda,

“Barang siapa yang menunjuki seseorang kepada kebenaran, maka ia mendapatkan pahala semisal orang yang mengikutinya, tidak berkurang sedikit pun.”

Para ulama menafsirkan bahwa demikian juga mereka yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa serupa dari orang-orang yang mengikutinya atau mereka yang sesat karena dirinya.

Ibnu Abbas ra. menuturkan, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Amal kebaikan sehari dari seorang pemimpin yang adil lebih baik dari pada ibadah selama enam puluh tahun” (HR. Thabrani).
Diriwayatkan juga oleh Asbachani dari Abu Huroiroh dengan redaksi yang berbeda : “Kebaikan satu hari (yang dilakukan oleh seorang pemimpin) lebih baik dari ibadah selama enam puluh tahun”.

Pada hadits yang lain dikemukakan, bahwa Abi Sa’id al Khuduri menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : “Orang yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan memperoleh kedudukan dekat dengan-Nya, adalah seorang pemimpin yang adil. Orang yang paling dimurkai oleh Allah pada hari kiamat dan memperoleh tempat yang paling jauh dari-Nya ialah pemimpin yang zalim (HR. Tirmidzi).

Nabi Muhammad SAW bersabda :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah bin Sa’id] dan [Ibnu Hujr], mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma’il] yaitu Ibnu Ja’far dari [Al ‘Ala] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”(HR: Imam Muslim Nomor 4831)

Rasulullah  saw, bersabda:

“Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR Muslim).

 

Rasulullah  saw, bersabda:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

 ‘Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.’   (HR: Imam Muslim Nomor 4830)

Kemuliaan di sisi Allah terhadap pemimpin yang adil tidak hanya mendapatkan pahala yang berlimpah, tetapi Rasulullah saw. memasukkan mereka pada kelompok yang do’a do’a nya tidak ditolak oleh Allah swt

Beliau bersabda:

“ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ”

“Tiga do’a yang tidak tertolak: do’a pemimpin yang adil, orang berpuasa hingga berbuka dan do’a orang yang dizhalimi.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).

Muh. Muhlis…

Wallahu  a’lam

 

taujih seri-3, Membentuk keluarga dakwah: mencari Jodoh Mei 25, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita, Berita Dunia Islam, keluarga, kisah/cerita, Uncategorized.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Taujih BKKBS

Membentuk keluarga dakwah

By. Muh. Muhlis

Mencari Jodoh

Seri-3

 

akad-nikah

Bagaimana mencari calon pendamping

Ada banyak cara mencari calon pendamping hidup, namun bagaimana rasulullah menuntunkan kita agar kita mendapatkan pendamping yang tepat. Perjalanan hidup rasulullah dan para sahabat menjadi rujukan kita, beberapa penggalan kisah dapat kita ungkap, misalnya bagaimana Khadijah(status janda) ingin meminang muhammad, khadijah mengutus salah seorang sahabatnya seorang wanita bernama Nafisah binti Aliyah, Khadijah menyampaikan pesannya kepada Muhammad dengan berkata, “Mengapa di malam hari engkau tidak menyinari kehidupanmu dengan seorang istri? Jika aku mengajakmu kepada keindahan, kekayaan, dan kemuliaan, maukah kau menerimanya?”

Muhammad bertanya, “Siapakah maksudmu?”

“Khadijah”, jawabnya.

“Apakah ia rela dengan kondisi hidupku ini?”

“Ya. Tentukanlah harinya sehingga wakilnya dan seluruh kerabatmu duduk bersama untuk membicarakan pesta pernikahan.

Indah sekali ya… (ingat tidak ada komunikasi langsung tidak ada rayuan dll, padahal sudah saling mengenal dan punya agenda bersama yaitu niaga)

Bagaimana perjodohan Fatimah putri rasulullah ? Ketika Fatimah memasuki usia perkawinan banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah).” Kemudian, Jibril as datang untuk mengabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib. Tidak lama setelah itu, Ali datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah.

Kisah yang lain adalah kisah khalifah Umar bin Khattah dengan  seorang gadis, yang tidak mau menuruti ibunya untuk mencampur susu jualannya dengan air. Yang akhirnya Umar bin Khattab selidiki, hingga akhirnya Umar bin Khattab tertarik dengan akhlaknya dan hendak menikahkannya dengan anaknya Abdullah bin Umar, namun karena Abdullah sudah menikah akhirnya Abdullah menyarankan agar ayahnya menikahkan gadis itu dengan saudaranya, Ashim bin Umar bin Khattab.

Berikut ini kami sajikan beberapa cara untuk mencari pasang hidup

  1. Kewajiban Ayah, Memilihkan Suami

Dari sekian banyak tugas seorang ayah terhadap anaknya adalah memilihkan suami yang sholih, tugas ini merupak puncak dari tugas seorang ayah terhadap anak gadisnya yang berada dalam perwaliannya. Dalam hal ini orang tua atau wali harus lah hati hati dalam memilihkan jodoh untuk anaknya, karena suami yang akan mendampingi anaknya adalah orang yang dititipi untuk menjaga dan membimbing anaknya menjadi anak yang sholihah dan mengantarkannya ke jannah. Coba bayangkan orang tua yang sudah mengasuhnya sejak kecil membimbing, merawat, menjaga, mengajarinya sehingga ia dewasa dan siap menikah, lantas ingin diserahkan kepada siapa perwaliannya ? Pada zaman yang seperti ini bagaimana sulitnya merawat anak gadis supaya selamat sampai ia menikah, lantas akan dititipkan kepada siapa perwaliannya ?

Orang tua harus mengerti bagaimana kedudukan istri dalam sebuah perkawinan. Rasulullah saw menerangkan tentang kedudukan wanita dan kelemahannya dalam perkawinan.

“Pernikahan itu ibarat perbudakan, maka hendaklah kalian waspada kepada siapa putrimu kau berikan.” (Ihya Ulumud Din, Oleh Al-Ghazali, 4/133 dari Aisyah dan Asma binti Abi Bakar) .

Sesungguhnya kedudukan seorang wanita sebagai istri  seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW memang ibarat budak terhadap tuannya, karena ia tidak punya daya dan kekuatan. Sedang suami diberi hak sebagai pimpinan keluarga dan rumah tangga. Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖُ ﺁﻣِﺮًﺍ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺠُﺪَ ﻷَﺣَﺪٍ ﻷَﻣَﺮْﺕُ ﻟِﻤَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻖِّﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺠُﺪْﻥَ ﻷَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻦَّ

“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan para isteri untuk sujud kepada para suami mereka, karena besarnya hak yang Allah berikan kepada para suami atas mereka” [HR Abu Dawud, 2142. At-Tirmidzi, 1192; dan Ibnu Majah 1925.]

Apabila kepemimpinan itu tidak dilandasi dengan ketaqwaan dan kebenaran,  maka nasib wanita di dunia maupun di akhirat akan terancam kehancuran. Sungguh besarnya hak seorang suami yang harus dipenuhi oleh sang istri, bahkan seorang suami penentu masuk sorga atau nerakanya seorang istri.

Rasululloh sahallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada bibi Al Hushain:“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933).

Karena itulah menjadi kewajiban utama para ayah dan wali, agar memilihkan calon suami untuk anak gadisnya seorang lelaki yang pemurah, yang mampu membimbing putrinya dan dapat memelihara kehormatan mereka.  Seorang lelaki yang bijaksana, yang senantiasa takut kepada Allah, akan menggauli istrinya seperti yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya :

“Bergaullah dengan istri-istri kalian dengan cara yang baik. Kalau kamu benci kepada mereka, hendaklah kamu bersabar. Karena boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan di balik itu sutu kebaikan yang banyak.”(QS. An Nisa’ :19)

Banyak  orangtua atau wali para wanita di zaman ini yang memandang remeh dan tidak banyak menaruh perhatian pada ajaran islam dalam hal mencarikan jodoh untuk anak gadisnya. Mereka cenderung lebih mengutamakan materi, kedudukan dan penampilan lahiriah dalam memilih calon. Bahkan ada yang dengan teliti memilih laki-laki yang berpenghasilan besar  dan memiliki kekayaan berlimpah ruah, tanpa mengusut akhlak dan agamanya. Dan sedihnya, ada orang tua yang dengan sengaja menolak orang yang berpegang teguh dengan agama, berakhlak baik, tetapi belum kaya dan belum mempunyai kedudukan yang dibanggakan. Seharusnya mereka inilah yang lebih diutamakan dari orang yang berpangkat dan kaya raya. Karena janji Allah “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nuur : 32]” .

Lantas bagaimana mencari jodoh untuk anak gadisnya ?

Rasulullah SAW bersabda :

“Apabila ada yang meminang anak gadismu, dan kamusenang pada agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah. Kalau tidak kamu lakukan, sama dengan kamu jadi fitnah di muka bumi, dan menimbulkan kerusakan yang luas.”  (At-Turmudzi dari Abu Hurairah).

Tidak ada fitnah yang lebih besar bagi seorang wanita yang shalihah, selain dia hidup di tengah laki-laki fasik, yang tidak mengindahkan arti kebaikan dan janji setia pernikahan. Wanita yang masih tetap bertahan dan akan tetap mempertahankan hidup dengan laki-laki semacam itu, tentu akan kehilangan agamanya. Namun jika ia ingin dan tetap mempertahankan agamanya, dan ia ingin mendapatkan ridho Allah Robbul ‘Alamiin, ia akan kehilangan dunia dan keutuhan rumah tangganya.

Orangtua/wali  atau seorang wanita yang menolak pinangan seorang laki-laki yang shalih, berarti sudah melepaskan kesempatan hidup dalam perlindungan laki-laki yang baik. Dan dia sudah menyia-nyiakan rezeki yang sangat besar yang Allah berikan padanya .

Namun Ajaran islam memberikan jaminan yang layak demi kebahagiaan kaum wanita, kestabilan keluarga dan untuk memberikan hak-hak penetuan terakhir bagi wanita untuk menerima atau menolak calon suaminya.  Tidak seorangpun boleh memaksa seorang wanita untuk menentukkan calon suaminya, karena kehidupam rumah tangga tidak bisa ditegakkan diatas landasan pemaksaan, seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :  “Wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmah” dan Allah menjadikan antara kalian kasih sayang dan rahmat. Cinta, kasih sayang, dan rahmat tidak akan terwujud bila perkawinan itu dilandasi oleh faktor pemaksaan dan kebencian. Karena Rasulullah memerintahkan untuk memperhatikan pendapat dan buah pikiran kaum wanita dengan sabda beliau ;

“Mintalah pendapat kaum wanita dalam masalah mereka sendiri, janda menentukkan dirinya sendiri, sedang diamnya gadis menandakan persetujuannya.” (At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan)

Rasulullah telah memberi contoh hak nya fatimah ketika dilamar Ali ra. Bagaimana cara beliau meminta pendapat kaum wanita, dengan cara yang agung, penuh kasih sayang, hormat dan penghargaan yang tinggi terhadap perasaan kaum wanita, dengan sabda beliau kepada putri tercinta :

“Wahai permata hatiku!  Si fulan telah meminangmu. Kalau kau tidak suka, katakanlah: Tidak. Untuk mengatakan : “tidak” seseorang tidak perlu merasa takut. Akan tetapi jika engkau suka, maka diammu itu menandakan persetujuanmu.” (Mir-aatun Nisa’ Oleh syeikh Muhammad kamaluddin Al-Adhami. Hal. 16)

Dengan mengacu  cara nya rasulullah memberikan pertanyaan kepada putrinya tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa wanita dapat menolak lamaran seorang  lelaki yang tidak disenanginya.

Penolakan lamaran ini juga pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw, misalnya

Disebutkan seorang muslimah di zaman Nabi yang bernama Ummu Aban binti ‘Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abdu Syams dalam kisahnya:

Lelaki pertama yang melamarnya adalah ‘Umar bin Khaththab, sosok khalifah kebanggaan kaum muslimin setelah Abu Bakar ash-Shiddiq yang juga menjadi mertua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Jika kita berpikir bahwa tak ada satu pun alasan untuk menolak lelaki yang ditakuti oleh setan ini, faktanya tidaklah demikian. ‘Umar ditolak dengan alasan, “Jika pulang ke rumah, ia memikirkan masalah. Dan, jika keluar dari rumah, ia juga memikirkan masalah.”

Hal itu terjadi lantaran ‘Umar amat memikirkan akhirat sehingga melupakan dunia. Dia hidup di dunia, tetapi seperti melihat Rabb semesta alam dan mencium bau surga.

Maka pelamar yang kedua adalah Zubair bin Awwam sang pemuka Quraisy yang memiliki karunia harta. Namun, lamaran sahabat Nabi ini pun ditolak dengan alasan, “Istrinya hanya akan mendapatkan pakaian yang bagus dan sanggul darinya.”

Dan, ‘Ali bin Abi Thalib pun mengambil giliran sebagai pelamar ketiga yang bernasib serupa. Alasannya, “Istrinya hanya akan terpenuhi sesuai kebutuhannya saja, dan ia akan mengatakan begini dan begitu (menyampaikan alasan/pendapat agar istrinya tidak menyampaikan selain apa yang dibutuhkan).”

Setelah tiga lamaran yang berujung penolakan sebab alasan sifat dan kecocokan yang dilamar dengan sosok pelamar, maka datanglah lelaki surga keempat yang sampaikan lamaran. Qadarullah, lelaki inilah yang diterima lamarannya.

Sebab, “Aku telah mengenal akhlaknya; jika masuk rumah, ia akan memasukinya dengan tertawa, dan jika keluar rumah, ia akan keluar dengan tersenyum. Jika aku meminta sesuatu, ia akan memberikannya; jika aku diam, dia akan memulai pembicaraan; jika aku melakukan sesuatu, ia akan berterima kasih; jika aku berbuat salah, ia akan memaafkannya.”

Penolakan tiga sahabat Nabi dalam kisah ini bukan disebabkan keshalehan atau kualitas kepribadiannya. Mereka tidak diterima hanya karena kecenderungan sosok yang dilamar, sebab jiwa memiliki kekhasannya masing-masing.

Kemudian, siapakah sahabat yang diterima lamarannya? Ia adalah Thalhah bin ‘Ubaidillah.

Dalam kisah lain ‘Aisyah menolak lamaran Umar bin Khaththab terhadap  Ummu Kultsum, anak Abu Bakar yang merupakan adik dari ‘Aisyah istri Rasulullah Saw.  melalui sahabat al-Amru bin al-‘Ash, padahal siapa yang berani menolak lamaran lelaki yang telah dijamin masuk sorga oleh rasulullah. ‘Aisyah yang shalihah nan cerdas, melihat itu sebagai sebuah dilema. Keluarga Abu Bakar berjalan dalam jalur kehidupan lembut nan santun. Amat berbeda dengan karakter Umar yang cenderung pemberani nan tegas hingga setan pun memilih jalan lain ketika Umar melewati jalan itu.

Dalam kisah yang lain

Salman al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari Persia, pada saat Salman Al Farisi sudah waktunya untuk menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Menunjukkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah  dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!

Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi.

Dalam kisah lain bagaimana sahabat (lelaki) dapat  menolak perjodohan, sebagaimana dikisahkan pada kisah Umar bin Khattab dalam mencarikan suami untuk anaknya  Hafsah yang telah menjanda.

“ Setelah berfikir panjang maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya Hafsah sehingga dia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala dia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali. Akhirnya pilihan Umar jatuh pada Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallaahu ‘anhu orang yang paling dicintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena Abu Bakar dengan sifat tenggang rasa dan kelembutannya dapat diharapkan membimbing Hafshoh yang mewarisi watak bapaknya yakni bersemangat tinggi dan berwatak tegas. Maka segeralah Umar menemui Abu Bakar dan menceritakan perihal Hafshoh berserta ujian yang menimpa dirinya yakni berstatus janda. Sedangkan ash-Shiddiq memperhatikan dengan rasa iba dan belas kasihan. Kemudian barulah Umar menawari Abu Bakar agar mau memperistri putrinya. Dalam hatinya dia tidak ragu bahwa Abu Bakar mau menerima seorang yang masih muda dan bertakwa putri dari seorang laki-laki yang dijadikan oleh Allah penyebab untuk menguatkan Islam. Namun ternyata Abu Bakar tidak menjawab apa-apa. Maka berpalinglah Umar dengan membawa kekecewaan hatinya yang hampir-hampir dia tidak percaya. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju rumah Utsman bin Affan yang mana ketika itu istri beliau yang bernama Ruqqayah binti Rasulullah telah wafat karena sakit yang dideritanya. Umar menceritakan perihal putrinya kepada Utsman dan menawari agar mau menikahi putrinya namun beliau menjawab “Aku belum ingin menikah saat ini”. Semakin bertambahlah kesedihan Umar atas penolakan Utsman tersebut setelah ditolak oleh Abu Bakar. Dan beliau merasa malu untuk bertemu dengan salah seorang dari kedua shahabatnya tersebut padahal mereka berdua adalah kawan karibnya dan teman kepercayaannya yang faham betul tentang kedudukannya. Kemudian beliau menghadap Rasulullah SAW dan mengadukan keadaan dan sikap Abu Bakar maupun Utsman. Maka tersenyumlah Rasulllah SAW seraya berkata “Hafshoh akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman sedangkan Ustman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshoh ” Wajah Umar bin Khaththab berseri-seri karena kemuliaan yang agung ini yang mana belum pernah terlintas dalam angan-angannya. Hilanglah segala kesusahan hatinya maka dengan segera dia menyampaikan kabar gembira tersebut kepada tiap orang yang dicintainya sedangkan Abu Bakar adalah orang yang pertama kali beliau temui. Maka tatkala Abu Bakar melihat Umar dalam keadaan gembira dan suka cita maka beliau mengucapkan selamat kepada Umar dan meminta maaf kepada Umar sambil berkata “janganlah engkau marah kepadaku wahai Umar karena aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebut-nyebut Hafshoh. Hanya saja aku tidak ingin membuka rahasia Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam; seandainya beliau menolak Hafshoh maka pastilah aku akan menikahinya. Maka Madinah mendapat barokah dengan indahnya pernikahan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan Hafshoh binti Umar pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriyah.

Ikhwah fillah itulah banyak penggal kisah perjuangan seorang ayah untuk mencarikan jodoh untuk putrinya, Kenyataan yang kita hadapi adalah keluarga kita bukanlah keluarga yang ideal, banyak diantara kita yang baru bisa mengaji ketika kuliah, banyak diantara kita yang orangtuanya belum sholat, atau bisa dikatakan keluarganya belum begitu baik dalam mengenal islam. Maka kondisi ini menjadi problem kita ketika menyerahkan perjodohan kepada orang tua, tetapi jika orang tua kita sudah sefikroh dan komunikasi terjalin dengan baik maka adalah kewajiban orangtua untuk mencarikan jodoh…

2. Meminta pertolongan kepada orang yang di percayai, Meminta pertolongan kepada fihak ketiga dalam mencari jodoh dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara, pertama mutlaq minta tolong di carikan jodoh karena belum memiliki pandangan pasangan dan

yang kedua meminta pertolongan  untuk dihubungkan kepada si fulan/fulanah yang disenangi

Meminta pertolongan kepada orang dekat atau orang yang disegani telah pula dicontohkan oleh para sahabat di zaman rasulullah sebagaimana pada penggalan kisah diatas. Pada saat ini ada sebuah fenomena kasus misalnya Ada beberapa ikhwan dalam mencari jodoh dengan cara meminta pertimbangan orang orang sholeh yang dipercayai, misalnya seorang kiai, ustadz, guru ngaji, bahkan mungkin saudara atau teman, tetapi yang menjadi catatan adalah hendaknya  menghindari mencari jodoh melalui birojodoh yang biasa diiklankan di majalah koran atau mediamasa lainnya, karena tidak ada jaminan akan di proses secara syar’i, meraka hanya mengejar target dan menjadi lahan bisnis.

Dalam hal meminta pertolongan ada hal yang harus kita yakini, pertama tsiqoh kepada yang kita mintai pertolongan, bahwa dia akan memberikan yang terbaik untuk kita, kedua, kita harus yakin bahwa jodoh itu sudah ditetapkan oleh Allah, jadi misalnya itu bukan jodoh pasti tidak akan terjadi pernikahan, dan kebalikannya  jika itu sudah jodoh, maka halangan apapun tidak akan membatalkannya, ada kisah calon keluarga yang berusaha untuk menikah dengan cara perjodohan, semua proses sudah dilalui mulai dari ikhtiyar meminta pertolongan seorang ustadz, sholat istikharoh, calon istri sudah setuju, calon mertua sudah setuju dan bahkan sudah ditetapkan tanggal pernikahannya dan telah dibuatkan undangan dan sebagian besar undangan  sudah beredar, tetapi jodoh memang ditangan Allah swt, pada minggu terakhir fihak keluarga pria membatalkan pernikahan…. itulah rahasia Allah (bukan disebabkan karena perkara kriminal),

Sedang penulis sendiri sudah pula melalui proses tersebut..

Pada saat sang penulis sampai pada titik berkeinginan untuk menikah, padahal  belum mempunyai pasangan untuk dinikahi, maka penulis lapor pada ayahanda, bunyinya “ pak pokoknya saya mau menikah, tapi belum punya pasangan…..”  dan gayung pun bersambut, padahal saat itu penulis masih kuliah belum Skripsi dan KKN, bapak langsung menjawab, “.. Boleh, nanti bapak carikan..”. Prosespun berjalan panjang, penulis  setuju, orang tua setuju, calon mertua setuju, akhwatnya masih ragu. Dan proses ta’aruf pun terjadi, proses ta’aruf ini di fasilitasi keluarga, bahkan seluruh keluarga hadir…. namun apadaya, ketika sang akhwat ditanya….” tidak bersedia menikah dengan aye..” sedih….

 

Adapun adab ketika dimintai pertolongan mencarikan jodohpun, harus dijaga, pertama masalah kerahasiaan, jangan sampai sesuatu yang dititipkan kepada kita menjadi konsumsi umum, pada dasarnya seseorang yang meminta dicarikan jodoh adalah menitipkan sebuah rahasia besar, yang jika rahasia tersebut terbuka umum maka akan malulah yang bersangkutan, Kedua berusaha sungguh sungguh, artinya mencarikan jodoh seseorang tersebut bukanlah hal yang main main karena berhubungan hidup keluarga seseorang yang diharapkan dapat langgeng sampai ajal menjemput, termasuk sungguh sungguh disini adalah selalu berdoa kepada Allah swt  untuk dimudahkan urusannya dan juga berusaha mengenal sebaik mungkin lelaki maupun wanita yang akan dijodohkan, dan kita sudah yakin terhadap lelaki dan wanita yang kita jodohkan sudah sekufu dengan banyak pertimbangan lainnya.

Bolehkah fihak akhwat memulai duluan untuk dinikahi si fulan ? jawabnya Boleh…. hanya saja sebagain besar fihak perempuan timur masih menempatkan rasa malu dalam hal ini, untuk menutupi rasa malu maka perlulah fihak ketiga untuk memprosesnya.

Sekufu

Dalam proses perjodohan ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, antara lain sekufu atau sebanding atau serasi, yaitu kesepadanan antara calon mempelai lelaki dan mempelai wanita untuk membentuk sebuah rumah tangga. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam sekufu ini antara lain, usia, pendidikan, kekayaan, kefahaman terhadap agama serta  karakter dasar, walaupun bukanlan menjadi pertimbangan pokok. Tidaklah diragukan lagi jika kedudukan antara lelaki dan wanita  adalah sekufu maka akan menjadi faktor kebahagiaan hidup suami istri, Faktor  keserasian dan saling menyenangi sangat diutamakan dalam perkawinan.  Kalau keserasian dalam bidang agama tidak ditemukan, maka ia tidak akan dapat digantikan dengan yang lain. Begitupun, kalau kesesuaian dalam bidang agama dan akhlak sudah dimiliki, tapi kurang di dalam masalah-masalah yang lain, maka hal itu sudah cukup memadai.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi landasan dasar perkawinan itu ialah kesesuaian dan ketaqwaan agama seseorang. (taujih seri-3/mm to seri selanjutnya atas permintaan)

 

Dari sahabat Abu Hurairah-radiallahu anhu-, Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

 

Perempuan itu dinikahi karena empat perkara”: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya, maka ambillah perempuan yang mempunyai/berpegang teguh dengan agamanya, niscaya engkau beruntung.”(al-Bukhari no.4802, Muslim no.1466).

Namun menurut hemat kami selain pertimbangan agama faktor lain juga menjadi pertimbangan dalam masalah perjodohan, misalnya pendidikan. Seorang gadis berpendidikan doktor (S3) tentu tidak elok bila disandingkan dengan pria SMA pun tak tamat, pasti ada hambatan komunikasi dan sosial dikemudian hari disebabkan derajat pendidikan wanita lebih tinggi, pada kasus sebaliknya mungkin menjadi tidak masalah misalnya seorang lelaki berpendidikan S-3 menikah dengan wanita lulusan SMA, disebabkan karena kepemimpinan lelaki.

Selain pendidikan, usiapun mungkin perlu pertimbangan walaupun bukan menjadi pertimbangan pokok, wanita yang sudah berusia 40 tahun keatas selain telah melewati masa aman hamil juga tidak elok di sandingkan dengan pria 25 tahunan walaupun tetap ada kejadian seperti itu, bahkan rasulullah sendiri menikah pada usia 25 tahun dan khadijah pada saat itu berusia 40 tahun.

Sekali lagi pertimbangan usia pendidikan status sosial karakter bukanlah menjadi pertimbangan utama dalam perjodohan, hendaknya status akhlaq dan kepahaman terhadap agama adalah menjadi prioritas pertimbangan.

 

Dalam hal ini rasulullah memberikan petunjuk untuk memilih istri

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ)). رواه مسلم

Artinya: Dari Abu Hurairah  ia berkata, Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

Lantas timbul pertanyaan, jika dulu menikahnya sudah sekufu, sudah jodohnya koq bisa bercerai juga ??

Jawabnya adalah: ketika menikah mereka sudah sekufu dan sudah jodohnya, tetapi seiring perjalanan waktu ketaqwaan seseorang berubah-ubah, bisa jadi sang istri ketaqwaannya meningkat, yang suami menurun, atau sebaliknya sang suami ketaqwaannya meningkat sedangkan sang istri menurun, maka mereka menjadi sudah tidak sekufu lagi dan tidak berjodoh lagi, ingat Al qur’an surat AnNur ayat 26

 

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

 

 

Dan akhirnya prinsip kita dalam mencari jodoh adalah tidak dimulai dengan pacaran, sms an, yang-yangan, kode kodean, kapling kaplingan, patah hati patah hatian atau inden, pesan sekarang nikah dua tahun lagi., atau kebiasaan lainnya….

Menjaga hati kerena cinta adalah sangat sulit. Karena itu jagalah hati, dengan cara tidak memantik api cinta, karena jika cinta telah terpantik maka apinya akan segera berkobar dan akan menghanguskan akal sehat.

(taujih seri-3/mm to seri selanjutnya atas permintaan)

 

Taujih Membentuk keluarga dakwah, seri-2 Jodoh Mei 24, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita, Berita Dunia Islam, keluarga.
Tags: , , , , ,
add a comment

Taujih BKKBS seri-2

Membentuk keluarga dakwah

By. Muh. Muhlis

 

akhwat

 

Seri-2

Jodoh

Jodoh adalah salah satu taqdir Allah SWT, sama dengan taqdir taqdir lainnya. Apapun yang telah Allah ketahui dan tetapkan pada setiap manusia maka tidak akan pernah berubah, dan hanya Allah lah yang mengetahui apa yang telah terjadi dan yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Tetapi meskipun demikian bukan berarti kita hanya tinggal menunggu, malas-malasan dengan alasan taqdir sudah ditentukan. Karena hanya Allahlah yang tahu taqdir. Karena itulah Allah dan Rasulnya menyuruh setiap orang untuk terus berikhtiar, berusaha serta melakukan pekejaan yang dapat mengantarkan dirinya kepada taqdirnya, setiap orang muslim harus berpegangan kepada rahmat Allah yang sangat luas yang dengan rahmat tersebut Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan dan menuruti keinginannya. Kemudian setelah orang muslim tersebut berusaha dan cita-citanya belum tercapai, baru dia ber-sandar kepada takdir agar jiwanya tenang, untuk itulah rasulullah menuntunkan sebelum memulai segala sesuatu hendaknya kita mengucapkan Bissmillahi tawaqaltu ‘alallah la haulawala quwata illa billah.

Dalam hal JODOH, tidak jauh berbeda, usaha adalah hal yang diutamakan, memang sering kali kita mendengar ungkapan :”Kalau memang jodoh tak akan lari kemana.”  Ini sungguh tidak mendidik.  Ungkapan ini seakan-akan mengatakan bahwa jodoh itu tidak perlu dicari dan diusahakan.  Nanti bakal datang sendiri.  Kenyataannya tidak demikian, Orang yang tidak berusaha mencarinya, maka  tidak akan  menemui jodoh itu.  Orang yang tidak berusaha mencari jodoh yang baik, maka akan bertemu dengan  jodoh yang jelek. Ibarat hidangan diatas meja, hidangan itu sudah terhidang lengkap diatas meja, tetapi tidak akan hidangan itu masuk ke dalam mulut dengan sendirinya dan lantas kita menjadi kenyang, tetapi sunnatullah nya adalah kita gerakkan tangan, kita ambil makanan tersebut yang cocok untuk kita dan kita makan, dan itulah usaha. Demikian pula dengan jodoh, Allah sudah menetapkan jodoh kita, namun kita harus berusaha untuk menggapainya. Mari kita lihat lingkungan sekitar kita, betapa tingginya angka perceraian di Indonesia meningkat dari tahun ketahun, bahkan data kemenag menunjukkan angka perceraian mencapai 14,6 % pada tahun 2013, dan orang yang belum menemukan jodohnya lebih banyak lagi. Mereka bercerai umumnya merasa tidak memiliki kecocokan lagi sudah tidak menarik lagi, tidak bertangung jawab atau masalah keuangan. Tetapi jika kita simpulkan bisa jadi mereka menemukan jodoh yang jelek, dan ini tidak bisa kita berlindung pada kalimat “ ah, memang dia bukan jodoh saya.”, dan selanjutnya cari jodoh lagi kawin lagi, cerai lagi, dan seterusnya

 

Lantas bagaimana supaya kita mendapatkan jodoh yang baik, sehingga dapat membangun keluarga sakinah, mawaddah dan penuh rahmah, langgeng hingga akhir hidup dan berkumpul kembali di sorga yang Allah janjikan ? Inilah masalah kita, dan untuk itu kita perlu berusaha  mencari jodoh yang baik.

Dalam mencari jodoh maka Al Quran menjadi Pegangan kita,Top of FormBottom of Form dalam surat An-Nur (24) : 3. yang artinya

 

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

 

Ulama tafsir berbeda pendapat terkait firman Allah Ta’ala, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. An-Nur: 3)

 

Firman Allah Ta’ala,

فَانكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَءاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَات غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلاَ مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ (سورة النساء: 25)

“Karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; (QS. An-Nisa: 25)

 

Yang dimaksud dengan ‘wanita yang memelihara diri bukan pezina’ adalah wanita yang menjaga kehormatannya menjaga auratnya, bukan wanita pezina. Maka pemahaman kebalikan dari ayat ini adalah bahwa seandainya mereka wanita pezina yang tidak memelihara dirinya, niscaya tidak boleh kita menikah dengannya.

 

Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata,

الزاني المجلود لا ينكح إلا مثله

“Seorang pezina laki-laki yang telah di(hukum) cambuk, tidak boleh menikah kecuali dengan (wanita pezina) semisalnya.”

 

Ibnu Hajar berkata dalam Kitab Bulughul Maram dalam hadits Abu Hurairah ini; Riwayat Ahmad dan Abu Daud, para perawinya tsiqoh.

Adapun hadits yang diriwayatkan tentang sebab turunnya ayat ini. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa seorang laki-laki muslim minta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang seorang wanita yang dikenal dengan nama Ummu Mahzul, dia dikenal sebagai pezina. Wanita tersebut minta dia menikahinya dengan syarat dia (sang wanita) yang memberi nafkah kepadanya. Maka ketika dia minta izin kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau menyebutkan permasalahannya, Nabi membaca ayat,  “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik.”

Di antaranya juga hadits Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Martsab bin Abu Martsad Al-Ghanawi membawa tawanan di Mekah. Dahulu di Mekah terdapat pelacur yang dipanggil ‘Inaq’ yang dahulunya merupakan kekasihnya. Dia berkata, “Maka aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku boleh menikah dengan Inaq?’ Beliau diam tidak menjawabku, lalu turun ayat,

وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ

“Wanita pezina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik.

Maka kemudian beliau memanggilku, lalu membacanya di hadapanku. Lalu beliau berkata, “Jangan nikahi dia.” Riwayat Abu Daud, Nasa’I dan Tirmizi. Dia berkata, ‘Hadits ini hasan gharib, tidak kami ketahui kecuali jalur periwayat ini. (taujih seri-2/mm to seri3)

 

Ibnu Qoyim berkata dalam Kitab Zadul Ma’ad, redaksinya sebagai berikut, “Adapun menikahi wanita pezina, telah Allah tegaskan keharamannya dalam surat An-Nur. Dia menjelaskan bahwa yang menikahinya, kalau tidak dia seorang laki-laki pezina atau laki-laki musyrik. Maka, dia boleh jadi berpegang teguh dengan hukum Allah Ta’ala dan meyakini kewajibannya atau tidak. Apabila dia tidak melaksanakannya dan tidak meyakininya, maka dia musyrik. Apabila dia melaksanakannya dan meyakini kewajibannya, namun dia menyalahinya, maka dia pezina. Kemudian Allah menjelaskan keharamannya, ” dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

 

Petunjuk yang lain sebagai pegangan kita dalam mencari jodoh adalah Al qur’an surat AnNur ayat 26

 

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Penjelasan An Nur 26,  Menurut para ulama ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah RA dan Shafwan bin al-Mu’attal RA dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan di depan onta ‘aisyah untuk menyusul rombongan Rasulullah SAW dan para sahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah. Peristiwa ini akhirnya menjadi fitnah di kalangan umat muslim kala itu karena terhasut oleh isu dari golongan Yahudi dan munafik jika telah terjadi apa-apa antara ‘Aisyah dan Shafwan.

Masalah menjadi sangat rumit karena sempat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Akhirnya turunlah surat An-Nur ayat 26.

Yang dimaksud laki-laki yang baik dalam ayat ini adalah Rasulullah saw sebagai manusia yang paling baik sedangkan wanita yang baiknya adalah Aisyah ra sebagai isteri Rasulullah saw.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam pun menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan laki-laki yang jahat hanya cocok bagi wanita yang jahat. Wanita yang baik hanya layak bagi laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya patut bagi wanita yang baik. Jadi, perempuan yang baik hanya pantas, cocok, layak, dan patut untuk laki-laki yang baik pula. Begitu pun sebaliknya, laki-laki yang baik hanya pantas, cocok, layak, dan patut untuk perempuan yang baik.

 

Jika dilihat dari konteks ayat ini, ada dua penafsiran para ulama terhadap ayat ini yaitu tentang arti kata “wanita yang baik” dan juga “ucapan yang baik” Sehingga dapat juga diartikan seperti ini;

“Perkara-perkara (ucapan) yang kotor adalah dari orang-orang yang kotor, dan orang-orang yang kotor adalah untuk perkara-perkara yang kotor. Sedang perkara (ucapan) yang baik adalah dari orang baik-baik, dan orang baik-baik menimbulkan perkara yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Kata “khabiitsat” biasa dipakai untuk makna ucapan yang kotor (keji), juga kata thayyibaat dalam Quran diartikan sebagai kalimat yang baik.

Hakam Ibnu Utaibah yang menceritakan, bahwa ketika orang-orang mempergunjingkan perihal Aisyah RA Rasulullah saw menyuruh seseorang mendatangi Siti Aisyah RA Utusan itu mengatakan, “Hai Aisyah! Apakah yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu?” Aisyah RA menjawab, “Aku tidak akan mengemukakan suatu alasan pun hingga turun alasanku dari langit”. Maka Allah menurunkan firman-Nya sebanyak lima belas ayat di dalam surah An Nur mengenai diri Siti Aisyah RA. Selanjutnya Hakam Ibnu Utaiban membacakannya hingga sampai dengan firman-Nya, “Ucapan-ucapan yang keji adalah dari orang-orang yang keji…” (Q.S. An Nur, 26). Hadits ini berpredikat Mursal dan sanadnya shahih.

Ayat 26 inilah penutup dari ayat wahyu yang membersihkan istri Nabi, Aisyah dari tuduhan keji itu. Di dalam ayat ini diberikan pedoman hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan keji adalah perbuatan yang amat keji hanya akan timbul daripada orang yang keji pula. Memang orang-orang yang kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun ucapan-ucapan yang baik adalah keluar dari orang-orang yang baik pula, dan memanglah orang baik yang sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak menghasilkan yang bersih, dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor, dan ini berlaku secara umum

Di akhir ayat 26 Allah SWT menutup perkara tuduhan ini dengan ucapan bersih dari yang dituduhkan yaitu bahwa sekalian orang yang difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan, mereka tidak bersalah sama sekali. Maka makna ayat di atas juga sangat tepat bahwa orang yang baik tidak akan menyebarkan fitnah, fitnah hanya keluar dari orang–orang yang berhati dengki, kotor, tidak bersih. Orang yang baik, dia akan tetap bersih, karena kebersihan hatinya.

 

Dari penjelasan tersebut diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa orang baik akan mendapat jodoh orang yang baik dan kita harus yakin itu serta harus yakin pula bahwa jodoh tidak akan tertukar.

Dan jika kita ingin mendapatkan jodoh yang berkualitas baik maka yang pertama kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri menjadi baik terlebih dahulu. (taujih seri-2/mm to seri3)

 

Bersambung ..taujih seri-3. Mencari jodoh..