jump to navigation

Farmakologi Heroin April 2, 2009

Posted by muhlis3 in Narkoba.
Tags: , ,
trackback

FARMAKOLOGI HEROIN
dr. Rinaldi Nizar, SpAnK & Dwi Paryanti Utami, 28 Apr 2006

PENDAHULUAN

Kira-kira 30-60 detik setelah heroin disuntik ke pembuluh darah, individu akan merasakan gelombang hangat menjalar dari pinggang bagian bawah seperti sensasi “sibuk” (rush sensation) yang meluncur menuju sistem syaraf pusat. Sebuah sensasi ketenangan yang dalam yang menyelubungi diri individu dengan cepat.
Apa sebenarnya semua rangsang ini? Dari mana zat kimia asetilmorfin (heroin) ini berasal, dan bagaimana kerja zat tersebut saat masuk ke sirkulasi darah?

Opium atau candu adalah ekstrak tanaman Papaver somniferum (poppy) yang telah dikenal sejak berabad-abad lalu. Terdapat jauh di lereng bukit pegunungan Kolombia, Myanmar, Meksiko, Thailand, Laos, Afganistan dan Pakistan. Opium atau candu memiliki sifat narkotika yang berarti mematikan rasa, mengurangi nyeri, mengantuk dan depresan umum. Mengandung lebih 20 jenis bahan aktif alkaloid, salah satunya yaitu morfin, yang ditemukan di abad ke 19, diambil dari nama dewa mimpi Yunani (Morpheus). Sejak lama proses sintesa morfin dari opium sudah dimulai oleh Paracelsus di abad ke 16. Opium bekerja melalui reseptornya karena memiliki kemiripan struktur kimia dengan senyawa yang dibentuk tubuh (endorfin).

PEMBUATAN HEROIN SECARA KIMIAWI

Ketika daun bunga poppy berguguran merupakan waktu yang tepat untuk memanen, biasanya 2 karung besar dipanen pertahun. Selanjutnya pemanen membuat beberapa irisan di bagian luar bunga poppy dengan pisau yang berbentuk bulan sabit dan menunggu sampai mengeluarkan getah seperti susu. Getah tersebut terus menerus merembes dari sayatan pisau. Lelehan getah dibiarkan kering di bawah sinar matahari hingga berwarna coklat, kemudian dikerok dan disimpan ke dalam kantong sebagai opium mentah untuk diproses atau diolah menjadi morfin murni di bawah pengawasan ahli kimia yang berpengalaman.

Pertama kali opium mentah dipanaskan di dalam gentong besar berisikan air, diaduk dengan tongkat kayu sampai larut. Selanjutnya ditambahkan rabuk kapur yang dapat mengikat sisa-sisa bahan-bahan organik lainnya sehingga diperoleh larutan opium yang terapung di permukaan cairan. Cairan yang mengandung opium disaring dengan kain pelanel ke dalam gentong yang lain. Sementara cairan dipanaskan dan diaduk, diberi larutan amonia pekat yang menyebabkan morfin bergumpal dan mengendap di dasar gentong. Sekali lagi cairan disaring hingga meninggalkan endapan morfin putih untuk dapat dikeringkan.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: