jump to navigation

Astri Ivo: Ingin Menjadi Manusia Ihsan Maret 22, 2011

Posted by muhlis3 in kisah/cerita.
Tags:
trackback

Astri Ivo: Ingin Menjadi Manusia Ihsan

20-02-2009 23:23:36 WIB Oleh : Retnadi Nur’aini

Menginjak usia 43 tahun, wajahnya masih tampak ayu. Dibalut jilbab dan pakaian muslimah yang apik, Astrie Feizaty Ivo yang dulu merupakan penyanyi slow rock populer pada tahun 1980-an, kini mengaku banyak perubahan yang dirasakannya sejak berjilbab. “Jilbab menasihati diri saya agar lebih sabar dan lebih taat,” ujar wanita yang akrab dipanggil Astri Ivo ini.
Namun siapa sangka, demi membalut tubuhnya dengan jilbab, Astri pernah mengalami perang batin dalam waktu cukup lama. Perang batin selama 6 tahun itu terjadi karena larangan sang suami, Dariola Yusharyahya, untuk mengenakan jilbab. ”Kamu boleh pakai jilbab nanti pada umur 40 tahun,” ujar sang suami.
Alhamdulillah, ternyata Astri tak harus menunggu sampai dirinya berumur 40 tahun. Bagaimana Astri menjalani perang batin ini, dan bagaimana sampai doanya untuk mengenakan jilbab terkabul dalam 6 tahun?
Pada majalah Dian AlMahri, Astri Ivo berkisah.

Perang Batin Demi Jilbab

 

Terlahir dalam keluarga yang taat beribadah, aktris kelahiran Jakarta, 21 September 1964 ini memang telah terbiasa untuk disiplin dalam beribadah. ”Ibu saya itu gualaknya bukan main. Kalau nggak shalat misalnya, saya bisa dicubit sama Ibu atau Ayah saya. Dulu kalau teman-teman main ke rumah sampai sore, jam limaan, Ibu akan keluar dan bertanya sama teman-teman saya ’Ini pada mau shalat disini atau mau pulang?’ Ya namanya remaja, dulu agak rikuh juga sih dibilangin gitu di depan teman-teman,” kenang Astri sambil tersenyum.

 

Memang, meski berprofesi sebagai seorang penyanyi di era tahun 1960-an, sang ibu—Ivo Nilakreshna tetap menomorsatukan agama di rumah. ”Saya paling ingat pesan Ibu saya, ’Kamu mau lakukan apa saja boleh, tapi ingat, kamu sendiri juga harus bayar resikonya.’

 

Tak heran, Astri pun tumbuh menjadi pribadi yang shalehah. Ia rajin menjalankan rukun islam—shalat, puasa, zakat, tadarus, bahkan juga puasa sunnah Senin Kamis dan shalat malam. Apalagi, hidup juga kemudian mempertemukannya dengan lingkungan religius, dimana ia bisa mengkaji agama secara mendalam. ”Sebelumnya, saya pikir, orang sudah cukup jika telah mengerjakan rukun iman dan rukun islam saja. Namun ternyata tidak demikian. Kita harus punya misi. Islam sendiri kan sistem hidup. Dengan mengaji, kita jadi tahu sistem hidup yang benar dan salah. Nah, setelah memahami, saya jadi sadar bahwa banyak waktu saya yang terbuang, ” kenangnya.

 

Lingkungan religius ini juga ditemui Astri dan suami kala kuliah di Fachkoh Schule Fur Witshoft Berlin Jerman. Mengambil jurusan Bisnis Manajemen selama 4 tahun di sana, Astri benar-benar merasakan cobaan sebagai muslim. Saat puasa misalnya. ”Di sana kita puasa pas summer. Jadi baru buka puasa jam 20.30,” ujarnya.

 

Namun alhamdulillah, cobaan perbedaan waktu itu tak pernah menghalangi ibadahnya pada Sang Pencipta. Di sana, Astri juga rutin mengikuti pengajian bersama persatuan pemuda muslim se Eropa, juga mengikuti training centre tentang akidah. ”Disinilah saya bersyukur sekali bahwa ibu saya adalah Ibu Ivo, karena telah menanamkan nilai-nilai agama pada saya. Jadi kalau dulu saya beribadah karena takut masuk neraka, sekarang saya beribadah karena segan pada Alloh yang sudah Maha Baik,” tuturnya.

 

Keseganan inilah yang membuatnya makin menyadari hakikat dirinya sebagai seorang muslim. ”Alloh itu tidak butuh ibadah kita. Namun kalau kita mendekat satu langkah saja, maka Alloh akan mendekat seribu langkah. Dan kalau kita mendekat, insya Alloh, kemudahan-kemudahanlah yang akan kita dapat. Subhanallah. Dunia ini sendiri kan ibarat kelas, yah. Di mana ujian intinya ada dua. Pertama, kalau sedang senang, kita bisa bersyukur nggak sih. Dan kedua, kalau sedang susah, kita bisa bersabar nggak sih. Sulitnya, kita ini sering kurang terampil memahami ujian tersebut, sehingga yang ada bawaannya suudzon sama Alloh. Padahal, yang penting kan kita jalanin aja. Hasilnya bukan dari kita. Kita kan cuma bisa ikhtiar,” tuturnya panjang lebar.

 

Kesadaran akan hakikat diri sebagai seorang muslim ditambah dengan pemahamannya akan tafsin Al Quran inilah yang membuat hati Astri rindu untuk mengenakan jilbab. Namun saat kali pertama mengutarakan keinginannya berjilbab, sang suami, Dariola, menyela, ”Jangan dululah. Kamu sudah solehah sekali,” ucap Astri, menirukan ucapan suaminya kala itu. Tak hanya itu, Dariola juga menetapkan agar Astri mengenakan jilbab di umur 40 tahun saja.

 

Saat itu, usia Astri 28 tahun. Butuh waktu 12 tahun lagi untuk memenuhi keinginan suami. Hati Astri gundah. Kesetiaan pada suami dan kecintaan pada Allah membuat hatinya resah. Astri sadar, pemahaman sang suami soal berjilbab bagi seorang Muslimah saat itu memang belum memadai. ”Saat itu, ibu-ibu punya waktu luang lebih banyak, ya. Sementara suami saya paling cuma dua minggu sekali ke pengajian. Itupun kalau ustadnya ganti biasanya dia pulang lagi. Otomatis informasi yang saya dapatkan lebih banyak dari suami,” paparnya. Setiap kali kembali dari aktivitas keagamaan itu, Astri juga tak alpa bercerita pada sang suami.

 

Tuhan akhirnya membukakan jalan, meluluskan keinginan Astri berjilbab. Hidayah itu datang setelah ia usai menunaikan ibadah haji, pada 2000. Karena tak tega meninggalkan anak-anak sendirian, niatan berhaji bersama suami pun digantikan dengan Astri berhaji sendiri. ”Duh rasanya pas mau berangkat, badan ini mau meleleh melihat anak-anak. Untunglah suami saya menenangkan,” kenangnya.

 

Di Tanah Suci, Astri banyak berdoa pada Alloh. ”Saya berdoa pada Alloh yang Maha membolak-balikkan hati ciptaan-Mu. Suamiku adalah milik-Mu.Mudahkan kami beribadah seperti yang Engkau mau.”

 

Tak hanya itu, Astri juga menemui banyak kejadian yang membuatnya merenung. Saat pasangan suami istri temannya bertengkar misalnya. ”Sang suami minta dilayani dan hanya ingin menunaikan yang wajib-wajib saja. Padahal kan kita pingin optimal selama di sana, tawaj aja sehari bisa 2-3 kali. Lalu dari Ashar sampai Isya kita di masjid. Pulang ke hotel cuma buat makan dan tidur. Disitulah saya bersyukur berangkat sendirian, jadi benar-benar bisa bermesraan dengan Alloh,” ujarnya.

 

Sepulang dari Tanah Suci, Astri sering becermin, memperhatikan pakaian yang selalu ia kenakan selama menjalani ibadah haji. Ia pun membatin, ”Ah, seandainya suamiku sudah terbuka hatinya.” Pelan-pelan, ia pun mulai melobi sang suami. Dimulai dengan niatan berjilbab selama 3 minggu. Dilanjutkan dengan ia kembali mengutarakan niatnya berjilbab. Tak disangka, sang suami berkata, ”Ya, pakai saja.” Di tengah rasa syukur, ia mengajak tiga anaknya ke mal ingin berbagi kebahagiaan dengan sang buah hati. Hatinya kian berbinar tatkala anak-anaknya berujar, ’Mama tambah cantik deh, pakai jilbab’. Dan setelah saya pakai jilbab, suami saya bilang, ‘Tahu begini dari dulu aja’,” ujar Astri.

 

Meski demikian, tak sedikit orang menyayangkan rambutnya ditutup jilbab. Mereka khawatir rambut indah Astri rusak jika ditutup jilbab. Justru, kata Astri, ”Dengan berkerudung, rambut aku jadi terhindar dari panas, angin, debu, dan polusi udara lainnya sehingga rambut tetap halus dan lembut, tidak cepat rapuh.”

 

Kenyataannya, ia merasakan jilbab menambah kecantikan fisiknya. Bagi perempuan yang akrab disapa Achi ini, dengan berjilbab, kulitnya terjaga dan menjadi sehat. Kulit yang sehat membuatnya lebih percaya diri. Kepercayaan diri inilah yang ingin dibagikannya dalam dua buku yang ditulisnya setelah berjilbab, Cantik Sepanjang Usia (Maret 2006) dan Bukti Cintaku Pada-MU, Tatkala Jilbab Bukan Penjara (2008). ”Sekarang saya sadar, kalau dulu saya ngotot untuk pakai jilbab, hasilnya pasti juga nggak baik. Dan suami saya juga bisa melihat, bahwa perubahan saya bukan sekedar tampilan.Intinya sekarang saya ingin menjadi manusia ihsan, yang takut kalau Alloh melihat semua sikap dan perilaku saya. Kalau kita yakin Alloh selalu melihat kita, maka hidup kita akan lebih tertata,” ujarnya.

Mensalehkan Diri Demi Anak

 

Sebagai ibu dari ketiga putranya: Kevin Arighi Yusharyahya, Adrio Faresi, dan Riedo Devara, Astri ingin agar anak-anaknya cerdas dengan keimanan dan intelektual yang seimbang. Artinya, selain memiliki pengetahuan agama, ia juga harus dapat mengikuti pengetahuan yang berkembang di dunia. Dengan demikian, ia akan siap menghadapi kehidupan dunia dan akhirat. Untuk itu, ia mengikuti cara Rasulullah mendidik anaknya dengan langkah-langkah pendidikan berdasarkan usia anak. ”Kalau kita ingin anak kita saleh, kita harus saleh duluan,” ungkapnya.

 

Ketiga buah hatinya, diakui Astri memiliki karakter yang berbeda. Ridho misalnya. Ia cenderung lebih terbuka ketimbang Adrio yang lebih tertutup dan lebih sensitif. Pernah suatu kali Ridho pulang sekolah sambil marah-marah. Setelah saya tanya, sambil terus menyerocos Ridho mengatakan ia tidak suka dengan ulah teman-temannya. Menurutnya, temannya kerap meneriaki dan mengganggu orang gila yang ada di dekat sekolahnya.

 

Beda sekali dengan Adrio, bisa berhari-hari saya mengorek informasi kalau ada masalah pada dirinya. Sepertinya sifat saya yang menjadi sangat pendiam kalau sedang malas bicara menurun kepadanya,” tuturnya.
Disinilah teknik komunikasi memegang peranan utama. Astri sendiri mengaku, menggunakan teknik komunikasi ideologis. ”Jadi kalau mereka nggak sholat, ya saya bilang ’Kamu tahu, kalau nggak sholat tempatnya dimana? Dan itu bukan Mama yang bilang, lho, ya. Itu ada di Al Quran’,” papar Astri.

 

Begitu pula saat buah hatinya tengah marah-marah.  ”Saya akan bilang ’Sayang, Mama sebenernya nggak papa, lho, kalau kamu ngomong nada tinggi sama Mama. Mama ridho aja, karena Mama sayang sama kamu. Tapi Penciptamu yang nggak bolehin’,” tandasnya. ”Kami juga ingin menekankan bahwa kami bukanlah orangtua yang gila hormat. Jadi saat kami ada salah, kami juga langsung minta maaf. Alhamdulillah, begitu pula sebaliknya.” lanjut Astri.

 

Untuk meredam emosinya sendiri saat menasehati anak, Astri memilih untuk melampiaskannya dengan bernyanyi. ”Lagu dan nadanya terserah saya. Yang penting kekesalan saya tersalurkan. Lucu, ya! Eh, mereka tidak percaya kalau ibunya pernah menjadi penyanyi yang bergaya dengan lincah, saat seusia mereka. Rupanya, sikap saya yang agak aneh itu lama-lama dimengerti oleh anak-anak saya. Mereka akan bertanya ’Mama marah, ya? Maafin Ridho dan Adrio ya, Ma? Mau kan Ma?’ ucap mereka dengan wajah lucu. Kalau sudah begitu, hati saya pasti tersentuh. Soalnya mereka jadi kompak sekali,” ujar Astri.

 

Memang, bagi penyuka warna putih ini, anak adalah prioritas utama. Sehingga Kala ditanya bagaimana ia menggunakan waktu luangnya bersama keluarga, Astri menjelaskan, bahwa ia justru mengutamakan waktunya buat keluarga dan buah hatinya, “Waktu luang justru saya habiskan dengan kegiatan-kegiatan seperti ini (berceramah-red),” tutur perempuan yang sempat bercita-cita menjadi pendidik ini.

Boks: Filmografi Astri Ivo
•    Samiun Dan Dasima (1970) beramain dengan Chitra Dewi
•    Ilusia (1971) bermain dengan Rahayu Effendi
•    Titienku Sayang (1972) bermain dengan Mila Karmila
•    Jauh Dimata (1973) bermain dengan Deddy Sutomo dan Brigitta Maria
•    Tabah Sampai Akhir (1973) bermain dengan Sofia W.D dan Rano Karno
•    Boni dan Nanci (1974) bermain dengan Dicky Zulkarnaen
•    Kasih Sayang (1974) bermain dengan Rina Hassim
•    Ratapan Si Miskin (1974) bermain dengan Faradilla Sandy
•    Susana (1974) bermain dengan Yenny Rachman dan Junaedi Salat
•    Suster Maria (1974) bermain dengan Tanty Yosepha dan Andy Auric
•    Lembah Duka (1981) bermain dengan Suzanna dan Eva Arnaz
•    Bila Hati Wanita Menjerit (1981) bermain dengan Roy Marten dan Dana Christina
•    Bunga Cinta Kasih (1981) bermain dengan Rano Karno dan Junaedi Salat
•    Fajar Yang Kelabu (1981) bermain dengan Eva Arnaz

 

* Tulisan ini juga ditampilkan untuk majalah Dian Al Mahri

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: