jump to navigation

kelakuan Ruhut Juli 12, 2011

Posted by muhlis3 in Berita.
Tags: , ,
trackback

Ruhut Sitompul Dilaporkan Istri Pertama ke Mabes Polri

Senin, 11 Juli 2011 | 14:22 WIB

Ruhut tukang bohong

TEMPO Interaktif, Jakarta – Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Ruhut Sitompul, dilaporkan oleh istrinya, Ana Rudhiantiana Legawati, ke Markas Besar Kepolisian RI, Senin, 11 Juli 2011. Politikus Partai Demokrat itu dilaporkan atas tuduhan pemalsuan akta pernikahan. “Ya, sekarang Ibu Ana yang masih istri sah Ruhut Sitompul akan melaporkan Ruhut ke Mabes Polri,” kata Hotman Paris Hutapea, pengacara Ana Rudhiantiana.

Dalam penjelasannya, Ana mengaku menikah dengan Ruhut pada 1998 di Sidney, Australia. Pernikahan itu dilanjutkan dengan pernikahan secara adat di Medan pada 2001. Dari hasil pernikahan itu, pasangan Ruhut-Ana dikarunia seorang anak.

Menurut Ana yang pernah menjadi legislator di DPRD DKI Jakarta dari Partai Golkar itu, perilaku Ruhut pada keluarga berubah setelah Ruhut menikah lagi dengan Diana Lupita pada 2008. Sejak saat itu, Ana merasa ditelantarkan oleh Ruhut.

Lebih jauh, Ana menjelaskan ketika akan menikahi Diana, Ruhut mengaku kalau pernikahan Ruhut-Ana hanya bersifat kumpul kebo. “Saat menikah (dengan Diana), dia mengaku masih jejaka,” kata Ana. “Ruhut terakhir menengok anaknya 3,5 tahun lalu, tepatnya pada 8 Juni 2008,” ucap Ana.

Menurut penuturan Ana, Ruhut juga diduga sengaja mengubah data keluarga di biodata keanggotannya di DPR. Ruhut juga diduga mengubah akta nikahnya serta mengakui bila dua anak perempuannya merupakan darah dagingnya hasil pernikahan dengan Diana. “Padahal, satu anaknya dari saya,” kata Ana.

Dikonfirmasi soal laporan istri pertamanya, Ruhut hanya mengatakan hal itu sebagai lagu lama. Menurut dia, aib seseorang sebaiknya tidak perlu dibuka. Ruhut memastikan tak pernah melakukan poligami. “Saya punya istri, saya baru sekali nikah,” kata Ruhut di Istana Negara, Senin, 11 Juli 2011. “Itu bohong.”

JAYADI SUPRIADIN | EKO ARI WIBOWO

Kabar Ruhut Menikah dengan Ana Itu hong!?

OPINI | 11 July 2011 | 17:52 261 13 2 dari 3 Kompasianer menilai menarik

ruhut-diani


Kabar yang paling panas hari ini Senin,11 July 2011 di Media massa adalah berita tentang Ruhut Sitompul yang dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh  seseorang yang bernama Rudhiantiana Legawati ( 50 Tahun ) yang mengaku Isteri Ruhut Sitompul karena diduga  memalsukan berbagai dokumen untuk pernikahan yang kedua kalinya.

Kabarnya untuk menikah yang kedua kalinya Bang Ruhut Sitompul Politisi, yang juga Artis  dan Pengacara dengan Diani Leovita ( 30 Tahun ) pada tahun 2008 mengaku masih bujangan. Dan  Ana yang mengaku  isteri pertama Bang Ruhut menyatakan bahwa  dia menikah dengan Bang Ruhut di Sidney Australia pada tahun 1998  sebelum menikahi Diani. Mana yang betul..ya ?

Tentang Ucapan Ana ( Rudhiantiana Legawati ) yang katanya menikah dengannya di Sidney Australia inilah Bang Ruhut membantah dan mengatakan  disebuah media Online ” kalau toh menikah diluar Negeri harus dicatatkan di Indonesia agar sah.

“Dan saya hanya menikah dengan istriku yang sekarang saja (Diani). Saya menikah di gereja. Terus kenapa baru sekarang (Anna) lapor, padahal saya menikah sudah sejak tahun 2008, Bos,” tutur mantan politisi Golkar yang kini hinggap di Demokrat ini. ini ucapan Bang Ruhut kepada detikNews.com  hari ini (11/7-2011).

Dan hal ini disampaikannya saat usai menghadiri simposium  Internasional Mahkamah Konstitusi ( MK ) bertempat di Istana Presiden hari ini, dia mengatakan bahwa kisah asmaranya ini adalah adalah lagu lama, katanya Dia Cuma menikah hanya sekali. Siapa sebenarnya yang Bang Ruhut secara sah karena beliau tak menyebut Nama dari kedua Wanita yang diberitakan punya hubungan perkawinan dengan Bung Ruhut.

Tapi ketika Wartawan detikNews.com kembali menanyakan  soal kabar pernikahannya itu apakah Bohong, Dia menjawab ” Ya Bohong ” katanya tanpa menyebutkan pernikahan dengan  siapa yang dimaksud bohong. Tak jelas pernikahan mana yang bohong apa dengan Ana atau Diani.., Ana atau Diani hanya Bang Ruhut yang tahu ..jadi bingung  !?**

Ruhut Sitompul Ngaku Punya WIL
Fajar Anugrah – detikhot

Jakarta Pengacara kondang Ruhut Sitompul dikabarkan tengah memiliki WIL alias Wanita Idaman Lain. Ruhut dikabarkan selingkuh dengan seorang perempuan bernama Diana Leovita. Padahal Diana telah memiliki suami, Ruhut pun demikian, pria dengan kuncir khasnya itu juga telah memiliki istri.

Namun pengacara yang pernah bermain di film ‘ Rumah Pondok Indah’ itu membantah dirinya tengah berselingkuh. Ruhut mengungkapkan kalau dirinya dan Diana tengah dimabuk cinta.

“Siapa bilang gue selingkuh, Diana itu pacar gue, Diana mau cerai sama suaminya, rumah tangga gue juga lagi bermasalah. Jadi wajar dong kalau kita berpacaran dan saling jatuh cinta. Nanti kalau Diana cerai dan gue juga cerai sama istri gue, langsung gue nikahin deh Diana,” jelas Ruhut soal Diana yang disebut-sebut sebagai WIL-nya itu, ketika berbincang dengan detikhot lewat telepon, Jumat (1/2/2008).

Pengacara kelahiran Medan 24 Maret 1954 itu beristrikan Anna Rudhiantiana Legawati. Ruhut pun mengaku kalau istrinya tahu ia membina hubungan cinta dengan Diana. Namun Ruhut enggan menjelaskan persoalan apa yang tengah dihadapi rumah tangganya. “Gue sama istri gue udah nggak cocok aja,” ujarnya.

Namun Ruhut membantah kalau ia dan Diana Leovita sudah tinggal satu apartemen. Menurut pemeran ‘Poltak si Raja Minyak’ di sinetron ‘Gerhana’ itu dirinya tidak akan tinggal satu atap dengan perempuan yang belum menjadi istrinya.

“Nggak ah, gila tuh beritanya, Diana itu kan masih ada suaminya, perceraiannya juga masih jalan jadi nggak mungkin gue satu apartemen. Tapi gara-gara suaminya Diana tahu istrinya pacaran sama gue, suaminya jadi batal menceraikan Diana,” tuturnya.

Ruhut mengenal Diana sudah cukup lama, namun fungsionaris Partai Demokrat itu lupa kapan persisnya ia berkenalan dengan pacarnya tersebut. “Gue lupa yah kapan, dah lama juga sih, waktu itu kita mulai dekat pas Diana curhat soal rumah tangganya, soal dia mau cerai,” pungkas Ruhut.
(fjr/fjr)

 

Sudah 4 Kali Ruhut P Sitompul Berulah!

Januari 16, 2010

tags: jk, Ruhut P Sitompul, ruhut sitompul

oleh nusantaraku

Selama rapat berlangsung setiap anggota bersikap sopan santun, bersungguh-sungguh menjaga ketertiban, dan mematuhi segala tata cara rapat sebagaimana diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPR RI.
–Pasal 7 Kode Etik Anggota DPR RI—

 

Pada 27 Mei 2009 lalu, Ruhut Poltak Sitompul menyinggung perasaan etnis Arab Indonesia dengan mengatakan bahwa bangsa Arab tidak pernah memberikan bantuan kepada Indonesia. Ruhut justru membanggakan Amerika Serikat sebagai penyelamat ekonomi negara Indonesia yang ia sampaikan dalam diskusi “Mengungkap Strategi Tim Sukses Capres” di Gedung DPD, Jakarta.[1]Lalu, saat diskusi Bank Century 16 Desember 2009 di Jakarta, perkataan Ruhut Sitompul kembali mengundang ketidaknyaman peserta diskusi ketika ia menyinggung etnis China. Ruhut menyindir mantan Menko Ekuin Kwik Kian Gie dengan membawa etnis China. Peserta diskusipun menyampaikan kekecewaan pada Ruhut Sitompul. “Saya agak kecewa dengan Bang Ruhut. Tadi Anda bicara etnis. Anda mengatakan seorang tokoh Chinese. Bagi saya tidak penting apa dia itu Chinese atau pribumi, asalkan dia berpihak pada rakyat. Ini lebih baik ketimbang orang pribumi, ngaku pro rakyat, tapi korupsinya nauzubilah mindzalik. Jadi, tolong Anda klarifikasi,” protes salah satu peserta diskusi. [2]

Dalam dua peristiwa tersebut, Ruhut S mendapat kecaman luas dari masyarakat. Sebagai seorang petinggi partai yang Ketua Dewan Pembina selalu mencitrakan diri sebagai orang santun, ternyata ‘membina’ orang seperti Ruhut yang kerap mengumbar opini yang menyinggung SARA. Didalam partai tersebut, Ruhut P Sitompul, SH menjabat sebagai Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Departemen Pendidikan dan Pembinaan Politik Partai Demokrat. [3]

Belum cukup menyinggung perasaan etnis Arab dan China (Tionghoa) di Indonesia, Ruhut pada Rapat Century 6 Januari 2010 kembali mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Ruhut yang selalu tampil berlebihan (dan memposisikan diri paling benar), mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di Gedung Senayan. Kata-kata yang tidak terhormat keluar dari anggota dewan terhormat. Ruhut Sitompul mengeluarkan kata “bangsat” kepada Prof Gayus Lumbuun setelah mereka berdua terlibat perang kata-kata di pansus. Merasa bahwa pembagian waktu yang tidak proportional, Ruhut memanggil pimpinan sidang pansus dengan “kodok”.

Berikut kutipan adu mulut kedua anggota komisi III itu:

Ruhut: Tanya sama kodok. Jangan marah-marah kodok. Engkau kan profesor.
Gayus: Anda jangan kurang ajar, jangan bawa-bawa profesor. Harusnya Pansus menegur Ruhut supaya dikembalikan di fraksinya saja karena sering bikin gaduh.
Ruhut : Anda pimpinan, Anda harus tegas…Kalau nggak senang lempar palu ke aku..
Gayus: Satu kata untuk engkau, diam kau!
Ruhut: Diam apa bangsat! brengsek! [4]

Meskipun telah 3 kali disorot oleh publik sejak posisinya di Partai-nya SBY, Ruhut tampak santai dan seenaknya menyinggung lawan bicaranya dengan kata-kata yang kurang etis. Hal ini kembali terjadi pada Rapat Pansus Hak Angket DPR RI tentang Bank Century tanggal 14 Januari 2010. Pada rapat tersebut, pansus menghadirkan mantan Wakil Presiden RI HM Jusuf Kalla (JK), SE sebagai saksi ‘kunci’.

Pada sidang pansus tersebut, JK kembali mengulang pernyataannya bahwa dana Bank Century dirampok internal. Dia juga mengaku yang memerintahkan Polri untuk menangkap Robert Tantular. Tindakan itu dilakukan, karena JK melihat Gubernur Bank Indonesia (BI) waktu itu, Boediono yang sekarang menjadi Wapres hanya diam. Begitu pun dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani yang juga menjabat Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada saat yang sama.

Semua pertanyaan anggota Pansus dijawab JK dengan lancar dan terbuka. Giliran Partai Demokrat (PD) tiba, persoalan pun muncul. Sebagai pembicara pertama dari Fraksi Partai Demokrat, Ruhut Sitompul tidak menanyakan JK bagaimana duduk persoalan amblasnya uang triliuan, sebagaimana pertanyaan anggota Pansus lainnya. Yang dilakukan Ruhut bukanlah pertanyaan, tetapi mengadili JK bak terdakwa.

Adu argumen terjadi antara Ruhut dan JK, ketika JK menepis pernyataan Ruhut yang menyebutkan Wapres JK telah intervensi hukum. JK menyebut bahwa dirinya (Wapres) terlalu rendah jika intervensi polisi menangkap Robert Tantular, yang terjadi justru JK memerintahkan, bukan mengintervensi. Jawaban ini, langsung membuat peserta rapat dan hadirin di balkon tertawa. Hal ini tentu membuat Ruhut tidak senang. Mendapat argumen dari JK, Ruhut pun ‘menyerang’ lebih keras. Sampai saatnya, Ruhut tidak lagi memanggil JK dengan ‘Bapak”. Ruhut dengan nada  yang tidak wajar memanggil JK dengan “Daeng”. Kata “Daeng” untuk identitas suku Bugis dikeluarkan dengan konteks tidak semestinya ini membuat dua anggota pansus yang berasal dari Sulawesi Selatan tersinggung.[5]

Penggunaan kata Daeng (untuk suku Bugis) dalam kondisi, relasi dan waktu tepat merupakan sapaan hormat. Namun, ketika kata “Daeng” digunakan dengan nada, intonasi dan konteks yang tidak tepat, maka  “Daeng” ini menjadi kata yang merendahkan martabat seseorang. Dan pada peristiwa itu, Ruhut menggunakan “Daeng” dengan nada sinis. Sehingga wajar jika ada orang dari suku Bugis menjadi marah.

Sebenarnya panggilan Daeng untuk orang Bugis Makassar itu biasa saja. Daeng itu dipanggil untuk kakak, orang yang dihormati, sampai tukang becak pun kita panggil Daeng, atau tukang sayur. Jadi panggilan biasa. Ya memang, yang jadi soal panggilan Daeng itu tidak pada tempatnya pada saat itu karena acaranya lebih formal, kan. Kedua cara memanggilnya itu nyeleneh, ya kan?. Sehingga banyak teman-teman dari Makassar merasa tersinggung. Karena cara memanggilnya itu.

– Jusuf Kalla- [6]

Motivasi Ruhut?

Baik Ruhut maupun politikus partai Demokrat selalu membela bahwa pernyataan Ruhut yang kasar dan berbau SARA tidak dimaksudkan untuk menghina atau memicu “SARA”. Dengan alasan bahwa ia adalah orang Batak, para politisi Demokrat seolah-olah merestui sikap dan pernyataan Ruhut. Adalah lucu mengkambingkan suku Batak atas kekasaran yang dilakukan si Poltak ini. Apa semua masyarakat bodoh dan tidak tahu bahwa banyak orang Batak yang bisa berbicara halus dan santun?

Burhanuddin Napitulu (Golkar), Tifatul Sembiring (PKS), Trimedya Panjaitan (PDIP), Effendy M S Simbolon (PDIP),  adalah para politisi yang berasal dari suku Batak. Namun, mereka bisa berbicara dengan halus dan santun. Dari catatan saya, mereka-mereka ini tidak/belum pernah mengeluarkan kata-kata kasar dan berbau SARA di depan publik. Seorang Darmin Nasution ataupun Marsilam Simanjutak yang hadir dalam rapat pansus Century pun bisa berbicara dengan santun di depan publik, meski ia orang Batak. Begitu Ketua Plk KPK Tumpak  Hatorangan Panggabean atau pengacara Todung Mulya Lubis yang bernada halus. Oleh karena itu, mereka yang berusaha membela Ruhut atas perkataan kasar dan ‘sara’ atas nama suku Batak sudah sepantasnya ‘mengaca’. Sungguhlah lucu ketika Partai Demokrat menilai kata ‘bangsat’ yang dilontarkan Ruhut ke Gayus sebagai hal yang wajar.

Pertanyaan dan persoalannya adalah mengapa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjadi Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat membiarkan Ruhut Sitompol mengumbar omongan liarnya? SBY yang terkenal teliti dan hati-hati ternyata membiarkan Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut demikian bebas dan liarnya. Dengan ‘liar’-nya mulut si Ruhut dan dalam beberapa kesempatan membuat gaduh di sidang pansus, kita perlu menduga bahwa Ruhut memang sengaja dipasang untuk mengganjal laju Pansus Hak Angket DPR.

Kejadian Ruhut membuat marah Gayus Lumbuun, menginterupsi hanya karena waktu makan siang, membuat pernyataan-pernyataan (bukan pertanyaan) pemujian berlebihan kepada ‘bos’-nya di sidang pansus serta memanggil “Daeng” dengan sinis untuk JK secara tidak langsung membuat integritas pansus semakin merosot sekaligus energi pansus tersita terhadap persoalan yang tidak substansi. Dengan sikap Ruhut saat ini, tentu laju Pansus menjadi tersendat.

**********

Para anggota dewan yang menjadi anggota pansus angket BC pada khususnya dan anggota DPR pada umumnya, mestinya sudah mengerti dan memahami hak, tugas, tanggung jawab, dan wewenang yang dimiliki seorang anggota dewan terhormat. Dengan segala fasilitas dan wewenang yang dimilikinya,mestinya anggota DPR dalam mengemban dan memperjuangkan amanat penderitaan rakyat, wajib menjaga martabat, kehormatan, citra dan kredibilitas DPR RI.

Mestinya seorang anggota DPR patuh dan melaksanakan kode etik yang tertuang dalam pasal 7 bahwa “selama rapat berlangsung setiap anggota bersikap sopan santun, bersungguh-sungguh menjaga ketertiban, dan mematuhi segala tata cara rapat sebagaimana diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPR RI.” [7]

Semoga para petinggi partai yang memiliki anggota dewan dengan ‘mulut liar’ tidak memberi alasan konyol bahwa perkataan kasar seperti ‘bangsat’ di sidang resmi negara adalah hal wajar!
Dan berharap agar kode etik anggota dewan ini tidak hanya menjadi formalitas belaka! Hanya digunakan untuk menghukum anggota dewan yang ‘lemah’ secara politik, namun petinggi/teras tidak tersentuh dengan kode etik tersebut.

Salam Nusantaraku,
Ech-wan, 18 Jan 2010

 

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: