jump to navigation

drug interaction Oktober 15, 2011

Posted by muhlis3 in Kesehatan.
Tags: , ,
trackback

Interaksi antara obat dengan obat  definisikan sebagai modifikasi efek dari suatu obat karena kehadiran obat lain (Walker dan Edwards, 1999),  baik diberikan sebelumnya atau bersamaan yang dapat memberikan potensiasi atau antagonisme satu obat oleh obat lain (Anonim, 2000),  dapat menguntungkan ataupun merugikan

Suatu interaksi dianggap penting kalau ia berpotensi merusak atau menyakiti pasien (Shimp dan Mason, 1993). Pasien yang menerima obat-obatan dalam jumlah besar kemungkinan akan terjadi reaksi yang merugikan. Penelitian dari sebuah rumah sakit menjelaskan rata-rata 7% pasien menerima 6-10 macam obat, dan 40% pasien menerima 16-20 macam obat dimana terjadi peningkatan yang tidak seimbang. Penjelasan tersebut memungkinkan interaksi secara bersamaan antar obat (Stockley, 1994).

Interaksi obat dianggap penting secara klinik bila berakibat meningkatkan toksisitas atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi, terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan atau indeks terapi yang sempit atau memiliki kurva dosis respon yang curam (Ganiswarna, 1995), karena peningkatan sedikit saja dari kadar plasma dapat menimbulkan gejala toksik yang hebat, terutama antikoagulansia kumarin, teofilin, fenitoin, digoksin, tolbutamid dan antidiabetika oral lainnya (Tjay dan Rahardja, 1986), dan obat-obat yang memerlukan kontrol dosis yang ketat contohnya, antikoagulansia, antihipertensi, dan antidiabetik (Anonim, 2000).

Hasil klinik interaksi obat bisa berwujud :

  1. Antagonisme (1+1<2) adalah kegiatan obat pertama dikurangi atau ditiadakan sama sekali oleh obat kedua yang memiliki khasiat farmakologis yang bertentangan, misalnya adrenalin dan histamin.
  2. Sinergisme (1+1>2) adalah kerjasama antara dua obat dan dikenal ada dua jenis, yaitu :
    • Adisi (sumasi). Efek kombinasi adalah sama dengan jumlah kegiatan dari masing-masing obat (1+1=2), misalnya kombinasi asetosal dan parasetamol juga trisulfa.
    • Potensiasi (mempertinggi potensi). Kegiatan obat diperkuat oleh obat kedua (1+1>2). Kedua obat dari kombinasi dapat memiliki kegiatan yang sama, seperti estrogen dan progesteron, sulfametoksazol dan trimetoprim, asetosal dan kodein. Atau satu obat tidak memiliki efek bersangkutan misalnya, analgetika dan klorpromazin, benzodiazepin atau meprobamat dan alkohol, penghambat MAO dan amfetamin, dan lain-lain.
  3. Idiosinkrasi adalah peristiwa suatu obat memberikan efek yang secara kualitatif total berlainan dari efek normalnya. Umumnya hal ini disebabkan oleh kelainan genetika pada pasien yang bersangkutan. Sebagai contoh disebut anemia hemolitik (kurang darah akibat terurainya sel-sel darah) setelah pengobatan malaria dengan primaquin atau derivatnya. Contoh lain adalah pasien yang pada pengobatan dengan neuroleptika untuk menenangkannya, justru memperlihatkan reaksi yang bertentangan dan menjadi gelisah serta cemas (Tjay dan Rahardja, 1986).

 

  1. Sasaran interaksi obat (object drug)

Macam-macam tipe interaksi obat yaitu obat dengan obat, obat dengan makanan, obat dengan penyakit dan obat dengan tes laboratorium (Shimp dan Mason,1993).

  1. Obat dengan obat

Tipe interaksi obat dengan obat merupakan interaksi yang paling penting dibandingkan dengan ketiga interaksi lainnya (Walker dan Edward, 1999). Semua pengobatan termasuk pengobatan tanpa resep atau obat bebas harus diteliti terhadap terjadinya interaksi obat, terutama bila berarti secara klinik karena dapat membahayakan pasien.

Dua faktor yang harus dipertimbangkan bila kombinasi antara obat-obat berpotensi terhadap terjadinya interaksi :

  • Apakah interaksi akan terjadi segera setelah atau beberapa saat setelah pemberian dengan kombinasi terapi ?
  • Apakah interaksi berpotensi untuk menimbulkan keparahan ?

Mengetahui onset dari interaksi dapat menolong mencegah bila tingkat keparahan telah ditentukan dalam literatur atau memonitor terhadap interaksi, contoh perubahan konsentrasi dalam darah. Interaksi obat tergantung pada tingkat keparahannya, maka perlu memberi informasi kepada pasien untuk melaporkan segera mungkin bila terjadi gejala yang mengganggu. Tingkat keparahan suatu interaksi dapat dipengaruhi oleh konsentrasi serum obat sebelum obat yang berinterksi diberikan atau oleh obat yang memiliki indeks terapi yang sempit. Contohnya : interaksi antara teofilin dan eritromisin, interaksi ini dapat meningkatkan konsentasi serum dan toksisitas teofillin jika dosis eritromisin besar. Penghentian salah satu obat mungkin tidak diperlukan dalam interaksi klinik, bila :

  • dosis dapat diubah
  • dosis dari salah satu obat atau keduanya dapat dikurangi
  • memonitor keadaan pasien dengan hati-hati.

Bila dosis dari salah satu atau kedua obat dihentikan, maka obat lain juga memerlukan penyesuaian dosis (Shim dan Mason, 1993).

  1. Obat dengan makanan

Tipe interaksi obat dengan makanan masih banyak belum diketahui dan dimengerti. Tipe interaksi ini kemungkinan besar dapat mengubah parameter farmakokinetik dari obat terutama pada proses absorpsi dan eliminasi, ataupun efikasi dari obat. Contoh: MAO inhibitor dengan makanan yang mengandung tiramin (keju, daging, anggur merah) akan menyebabkan krisis hipertensif karena tiramin memacu pelepasan norepinefrin sehingga terjadi tekanan darah yang tidak normal (Grahame-Smith dan Arronson, 1992), makanan berlemak meningkatkan daya serap griseofulvin, pemakaian kontrasepsi oral membutuhkan vitamin B yang lebih tinggi untuk memperoleh keadaan  normal (Shim dan Mason, 1993).

  1. Obat dengan penyakit

Acuan medis seringkali mengacu pada interaksi obat dan penyakit sebagai kontraindikasi relatif terhadap pengobatan. Kontraindikasi mutlak merupakan resiko, pengobatan penyakit tertentu kurang secara jelas mempertimbangkan manfaat terhadap pasiennya (Shimp dan Mason, 1993). Pada tipe interaksi ini, ada obat-obat yang dikontraindikasikan pada penyakit tertentu yang diderita oleh pasien. Misalnya pada kelainan fungsi hati dan ginjal, pada wanita hamil ataupun ibu yang sedang menyusui (Ganiswarna, 1995). Contohnya pada wanita hamil terutama pada trimester pertama jangan diberikan obat golongan benzodiazepin dan barbiturat karena akan menyebabkan teratogenik yang berupa phocomelia (Tjay dan Rahardja, 2002).

  1. Obat dengan tes laboratorium

Interaksi obat dengan tes laboratorium dapat mengubah akurasi diagnostik tes sehingga dapat terjadi positif  palsu atau negatif palsu. Hal ini dapat terjadi karena interferensi kimiawi. Misalnya pada pemakaian laksativ golongan antraquinon dapat menyebabkan tes urin pada uribilinogen tidak akurat (Stockley, 1999), atau dengan perubahan zat yang dapat diukur contohnya perubahan tes tiroid yang disesuaikan dengan terapi estrogen (Shimp dan Mason, 1993).

Tipe interaksi

  1. Interaksi farmasetis

Adalah interaksi fisiko-kimia yang terjadi pada saat obat di formulasikan/ disiapkan sebelum obat di gunakan oleh penderita.

Misalnya interaksi antara obat dan larutan infus IV yang dicampur bersamaan dapat menyebabkan pecahnya emulsi atau terjadi pengendapan.

Contoh lain : dua obat yang dicampur pada larutan yang sama dapat terjadi reaksi kimia atau terjadi pengendapan salah satu senyawa, atau terjadi pengkristalan salah satu senyawa dll.

Bentuk interaksi:

  1. Interaksi secara fisik

Misalnya :

  • Terjadi perubahan kelarutan
  • Terjadinya turun titik beku
  1. Interaksi secara khemis

Misalnya :

Terjadinya reaksi satu dengan yang lain atau terhidrolisisnya suatu obat selama dalam proses pembuatan ataupun selama dalam penyimpanan.

  1. Interaksi Farmakokinetika

Pada interaksi ini obat mengalami perubahan pada :

  • Absorbsi
  • Distribusi
  • Metabolisme
  • Ekskresi

Yang disebabkan karena obat/senyawa lain

Hal ini umumnya diukur dari perubahan pada  satu atau lebih parameter farmakokinetika, seperti konsentrasi serum maksimum, luas area dibawah kurva, waktu, waktu paruh, jumlah total obat yang diekskresi melalui urine, dsb.

  1. Interaksi Farmakodinamika

Adalah obat yanhg menyebabkan perubahan pada respon pasien disebabkan karena berubahnya farmakokinetika dari obat tersebut karena obat lain yang terlihat sebagai perubahan aksi obat tanpa menglami perubahan konsentrasi plasma.

Misalnya naiknya toksisitas dari digoksin yang disebabkan karena pemberian secara bersamaan dengan diuretic boros kalium misalnya furosemid Lihat gambar

 

Obat-obat yang cenderung menyebabkan Interaksi Obat (praecipitant drug)

  1. Obat yang memiliki ikatan obat- protein yang tinggi.

Obat yang memiliki ikatan obat-protein tinggi cenderung dominan, akibatnya obat tersebut dapat mendesak obat lain yang terikat protein sehingga terbebaskan, akibatnya kadar obat bebas  dalam darah meningkat dengan tajam, secara matematis dapat digambarkan pada table berikut :

 

Tabel % kenaikan obat bebas setelah pendesakan 5 % dari obat terikat protein

Keterangan Sebelum

pendesakan

Setelah

pendesakan

% kenaikan

obat bebas

Obat A

% obat terikat

% obat bebas

 

 

95

5

 

 

90

10

 

 

 

100

Obat B

% obat terikat

% obat bebas

 

 

50

50

 

 

45

55

 

 

 

10

Contoh obat : Aspirin (49 %), Fenilbutazon, Sulfanilamid, walfarin dll

  1. Obat-obat yang menstimulasi atau menginhibisi metabolisme obat lain

Interaksi ini merugikan atau menguntungkan tergantung dari sifat obatnya masing-masing

  • Obat aktif adalah metabolitnya

Misalnya :

Prednison            Prednisolon

Procainamid        N-Asetil Procainamid

Maka obat yang menstimulasi metabolisme akan menyebabkan meningkatnya kadar obat aktif dalam darah

  • Obat aktif adalah obat aslinya

Misalnya :

Captoril, furosemid, methyldopa dll

Maka obat yang menstimulasi metabolisme akan menyebabkan menurunnya kadar obat aktif dalam darah.

Obat yg menstimulasi Contoh

Antikonvulsan(fenitoin, karbamazepin, fenobarbital); Rifampisin; griseofulvin

Obat yg menginhibisi contoh :

Allopurinol; kloramfenikol; cimetidine; metronidazol; INH; ciprofloksasin

  1. Obat-obat yang mempengaruhi fungsi Renal

 

Obat-obat golongan ini dapat mengubah kliren ginjal obat lain, misalnya obat-obat diuretic.

 

 

Obat-obat yang cenderung menjadi objek interaksi obat

 

  1. Obat-obat yang memiliki kurve dosis respon curam.
  2. Obat-obat yang memiliki

rasio efek toksik : terapetik rendah

 

Tabel obat-obat yg memiliki rentang

 terapi yang sempit

Obat Rentang terapi
Digoksin

 

Teofilin

 

Gentamisin

 

Fenitoin

 

Karbamazepin

 

Parasetamol

Disopiramid

Prokainamid

Kuinidin

0,8 – 2,0 ng/mL

1 – 2,6 mcmol/L

10 –20 mcg/mL

55 – 110 mcmol/L

peak 5 – 12 mcg/mL

trough < 2 mcg/mL

10 –20 mcg/mL

20 – 80 mcmol/L

4 – 12 mcg/mL

17 – 50 mcmol/L

> 200 mcg/mL

2 –5 mcg/mL

4 – 10 mcg/mL

2 – 5 mcg/mL

 

 

Ada 5 tingkat signifikansi yang menunjukkan keberbahayaan suatu interaksi antar obat dengan obat (lihat pada tabel VIII).

Keterangan :

  1. Interaksi signifikansi 1 termasuk interaksi yang berat/berbahaya dan terdokumentasi dengan baik
  2. Interaksi signifikansi 2 termasuk interaksi yang berat/berbahaya sampai sedang dan terdokumentasi dengan baik
  3. Interaksi signifikansi 3 termasuk interaksi tidak berbahaya (ringan) dan terdokumentasi dengan baik
  4. Interaksi signifikansi 4 termasuk interaksi berat/berbahaya sampai sedang dengan data kejadian yang sangat terbatas
  5. Interaksi signifikansi 5 termasuk interaksi tidak berbahaya (ringan) dengan dokumentasi yang terbatas dan beberapa interaksi ini belum terbukti secara klinis (Tatro, 2001).

Tabel VIII. Urutan tingkat signifikansi (Tatro, 2001)

Tingkat Signifikansi Keparahan Dokumentasi
1 Major Suspected or >
2 Moderate Suspected or >
3 Minor Suspected or >
4 Major/Moderate Possible
5 Minor Possible
Any Unlikely

 

  1. Onset

Seberapa cepat efek klinis dari suatu interaksi dapat terjadi,  menentukan seberapa penting tindakan yang harus dilakukan untuk menghindari efek yang merugikan. Dua tingkatan onset yang digunakan :

  1. Rapid artinya efek terlihat dalam 24 jam sesudah pemberian obat yang berinteraksi, tindakan segera diperlukan untuk menghindari efek dari interaksi yang terjadi.
  2. Delayed artinya efek tidak akan terlihat sampai obat yang berinteraksi diberikan pada jangka waktu berhari-hari atau berminggu-minggu, tindakan segera tidak diperlukan (Tatro, 2001).

 

  1. Severity (tingkat keparahan)

Menunjukkan potensi keparahan interaksi, terutama dalam menilai resiko dibandingkan keuntungan alternatif terapi yang terjadi. Dengan penyesuaian dosis yang tepat, pengaturan pemberian frekuensi obat, efek merugikan dari interaksi obat dapat dihindari. Ada 3 tingkat keparahan interaksi obat, yaitu :

  1. Major artinya efek potensial yang membahayakan jiwa atau menyebabkan kerusakan permanen.
  2. Moderate artinya efek dapat menyebabkan perubahan dari status klinis pasien, perawatan tambahan, rawat inap, atau perpanjangan rawat inap mungkin diperlukan.
  3. Minor artinya efek biasanya ringan, akibatnya mungkin mengganggu atau tidak disadari, tetapi tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap efek obat yang diinginkan terjadi. Perawatan tambahan biasanya tidak diperlukan (Tatro, 2001).

 

  1. Documentation (dokumentasi)

Dokumentasi menentukan tingkat kepercayaan atau bukti bahwa interaksi dapat menyebabkan perubahan respon klinis. Skala ini menunjukkan pengelompokkan evaluasi dari kualitas dan relevansi klinik pada literatur yang mendukung kejadian suatu interaksi, bagaimanapun banyak faktor yang mempengaruhi walaupun telah terbukti dengan baik interaksi terjadi pada beberapa pasien. Dokumentasi tidak menunjukkan kejadian atau frekuensi terjadinya suatu interaksi, juga tidak tergantung dari potensi kerasnya efek suatu interaksi. Ada 5 tingkat dokumentasi, yaitu :

  1. Established artinya terbukti terjadi dalam penelitian terkontrol
  2. Probable artinya sering terjadi tetapi tidak terbukti dalam penelitian terkontrol
  3. Suspected artinya dapat terjadi dengan data kejadian yang cukup dan diperlukan penelitian lebih lanjut
  4. Possible artinya mungkin terjadi dengan data kejadian sangat terbatas
  5. Unlikely artinya diragukan, tidak ada bukti yang cukup terjadinya perubahan efek klinis (Tatro, 2001).

 

Tabel Klasifikasi interaksi obat signifikansi 1, 2, 3, 4, dan 5 (Tatro, 2001).

Signifikansi Interaksi obat + obat Onset Severity Documentation
1 Isoniazid – Rifampisin Delayed Major Probable
2

 

Deksametason – Fenobarbital Delayed Moderate Established
Fenitoin – Karbamazepin Delayed Moderate Suspected
Fenitoin – Rifampisin Delayed Moderate Suspected
Karbamazepin – Isoniazid Delayed Moderate Suspected
fenitoin – isoniazid Delayed Moderate Established
Asetaminofen – Fenitoin Delayed Moderate Suspected
Deksametason – Fenitoin Delayed Moderate Established

 

Tingkat keparahan interaksi obat (drug interactions lexicomp)

Mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya atau keparahan interaksi. Faktor-faktor mungkin melibatkan misalnya

variabel spesifik pasien, seperti disfungsi organ (misalnya, ginjal / hati), status merokok, genotipe (misalnya, VKORC1 haplotype), atau fenotipe (misalnya, CYP2D6 metabolizer miskin).

faktor tambahan mungkin berhubungan dengan bentuk sediaan farmasi tertentu, rute administrasi dan / atau rejimen dosis tertentu.

Kehadiran satu atau lebih faktor dapat menyebabkan peningkatan risiko dan / atau keparahan interaksi, atau sebaliknya, dapat menyebabkan kesimpulan yang salah dari kajian kasus yang nyanya menggunakan teks book, atau drug interaction checker.

Penilaian risiko: Menyediakan indikator untuk membantu dokter dengan cepat memutuskan bagaimana menanggapi data interaksi.

Setiap interaksi obat-obat diberikan sebuah peringkat risiko dari A, B, C, D, atau X.

perkembangan dari A ke X menunjukkan, sebagai masalah umum, urgensi meningkat terkait dengan data. Secara umum, A dan B monograf yang lebih akademis dari perhatian klinis.

Monograf dinilai C, D, atau X menunjukkan situasi yang kemungkinan akan menuntut perhatian dokter. Teks dari bagian “Manajemen Pasien” dari monograf akan memberikan bantuan terkait dengan tanggapan yang mungkin biasanya berguna bagi banyak pasien.

Setiap interaksi obat yang menyebabkan alergi dikelompokkan  peringkat risiko X.

Definisi masing-masing peringkat risiko adalah sebagai berikut: (drug interaction lexicomp)

Risk Rating Action Description
A No Known Interaction Data have not demonstrated either pharmacodynamic or pharmacokinetic interactions between the specified agents.
B No Action Needed Data demonstrate that the specified agents may interact with each other, but there is little to no evidence of clinical concern resulting from their concomitant use.
C Monitor Therapy Data demonstrate that the specified agents may interact with each other in a clinically significant manner. The benefits of concomitant use of these two medications usually outweigh the risks. An appropriate monitoring plan should be implemented to identify potential negative effects. Dosage adjustments of one or both agents may be needed in a minority of patients.
D Consider Therapy Modification Data demonstrate that the two medications may interact with each other in a clinically significant manner. A patient-specific assessment must be conducted to determine whether the benefits of concomitant therapy outweigh the risks. Specific actions must be taken in order to realize the benefits and/or minimize the toxicity resulting from concomitant use of the agents. These actions may include aggressive monitoring, empiric dosage changes, or choosing alternative agents.
X Avoid Combination Data demonstrate that the specified agents may interact with each other in a clinically significant manner. The risks associated with concomitant use of these agents usually outweigh the benefits. These agents are generally considered contraindicated.

 

contoh

interaksi Clopidogrel / Omeprazole

Risk Rating D: Consider therapy modification

Summary Omeprazole may diminish the antiplatelet effect of Clopidogrel. Omeprazole may decrease serum concentrations of the active metabolite(s) of Clopidogrel.

Severity Major

Reliability Rating Fair: Existing data/reports are inconsistent

Patient Management Clopidogrel prescribing information recommends avoiding concurrent use with omeprazole due to the possibility that combined use may result in decreased clopidogrel effectiveness. Rabeprazole or pantoprazole may be lower-risk alternatives to omeprazole.

 

 

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: