jump to navigation

Anak Sering Ngamuk, Ini Dia Pendekatan yang Tepat Juni 16, 2012

Posted by muhlis3 in Uncategorized.
Tags: , ,
trackback

REPUBLIKA.CO.ID, Jumat, 15 Juni 2012, 08:36 WIB

Si kecil menangis sejadi-jadinya di depan rak permen di supermarket. Bocah berumur dua tahun itu tantrum, mengentak-entakkan kakinya, dan memukul-mukul paha Anda.

Ulah si kecil mengundang ekspresi keras di wajah orang yang lewat. Seolah ia mengatakan, Ayo, pegang kendali, Bu! Yang lain menyeringai pasif. Mereka berasal dari paradigma yang menyarankan kita mengabaikan atau menghukum si kecil atau mungkin menenangkan anak.

Dari banyak riset, kata Marion Badenoch Rose PhD, kita sekarang tahu bahwa anak-anak yang diperlakukan seperti itu akan tumbuh dalam kebingungan. Mereka bingung tentang perasaan mereka dan tak bisa memahami dengan jelas kebutuhan mereka, kata peneliti dan penulis hubungan ibu-anak itu dalam Understanding Children’s Feelings.

Rose mengacu pada pendekatan Aletha Solter, peneliti dan pendiri The Aware Parenting Institute, yang menawarkan pendekatan baru kepada anak. Yakni, berusaha memahami perasaan anak.

Banyak orang percaya bahwa kita membantu anak menyingkirkan luka di hatinya cukup dengan mengatakan Jangan sedih, Nggak apa-apa, Jangan takut.

Menurut Rose, ketika kita mencampuradukkan menenangkan anak dengan berempati, kita sama saja tidak mengakui perasaannya. Di saat dewasa ia bisa menjadi orang yang mengabaikan barometer internalnya dan mengabaikan juga perasaan orang yang dekat dengannya, kata peneliti Cambridge University itu.

Ayah bunda merespons perasaan anak dalam cara yang ekstrem dengan cara:

Mengabaikan  -Ayah tinggal kalau Adik tetap nakal begini.

Menghukum -Ibu bikin kamu nangis beneran kalau tidak bisa diam juga.

Meremehkan -Berhenti menangis, sekarang!

Kontradiksi  -Ayo, nggak perlu dibujuk, main sana!

Mencemoohkan -Ayo, nangis saja, dasar bayi!

Respons orang tua itu membuat suatu proses dalam diri anak. Anak-anak kemudian belajar takut pada emosi dan semakin menekan penilaian terhadap perasaannya sendiri, katanya Rose.

Padahal, anak memiliki kebutuhan cinta dan empati yang besar. Ia akan mengubur perasaan yang dialaminya. Ini kemudian mengarah pada gejala berikutnya; rendah diri, ketergantungan, dan depresi.

Empati melibatkan perasaan memahami orang lain. Komunikasi tanpa kekerasan versi psikolog AS Marshall Rosenberg menawarkan satu cara berempati. Ketika kita merasa anak kita sedang merasakan sesuatu, kita bisa bertanya, Apakah kamu merasa , karena kamu sedang memerlukan ? Misalnya, Apakah kamu merasa kecewa karena kamu betul-betul ingin bermain?

Cukup dengan kehadiran dan berempati pada anak yang sedih membuat ia tahu dan memercayai dirinya sendiri. Anak menerima cinta sepenuhnya karena semua perasaannya diakui. Ia merasa diterima. Keintiman antara ayah-bunda dan anak akan tumbuh berkembang, kata Rose

Perasaan yang tidak terekspresikan dan tidak ditanggapi dengan empati bersamaan perjalanan waktu akan tersimpan dalam tubuh dalam bentuk ketegangan. Ketegangan melindungi anak dari luka di hati, tapi sekaligus juga mencegah kemampuannya untuk merasakan cinta dan kegembiraan.

Ketika anak menahan perasaannya, ia akan membutuhkan dukungan lain selain empati. Yakni, bantuan mengekspresikan perasaan itu. Membantu anak menangis atau mengeluarkan amarahnya memungkinkan tubuhnya melepas ketegangan otot dan stres. Mekanisme pelepasan stres secara alamiah ini diteliti dan diungkap Aletha Solter PhD dalam tiga bukunya: The Aware Baby, Tears and Tantrums, dan Helping Young Children Flourish.

Ketika kita dekat dengan anak yang melindungi dirinya dari perasaannya, kata Rose, kedekatan itu menghubungkan anak dengan rasa sakit hatinya. Ia mengutip saran psikolog John Breeding. Berusahalah menjalin kedekatan. Ini khususnya penting bagi anak laki-laki (yang) tak mau didekati dan mengasingkan diri dalam tekanan yang mereka hadapi. Biarkan mereka menunjukkan rasa terluka mereka. Tapi, jangan pernah percaya bahwa mereka tak ingin kedekatan. Mereka ingin, sangat ingin! Teruslah berusaha.

Karena itu, saran Rose, bila kita mendekati anak dan hanya mendengar penolakannya, itu hanya menunjukkan satu arti, kebutuhan untuk kedekatan dengan ayah bunda dan penyembuhan luka hatinya mungkin belum nyambung.

Sejumlah masalah sebenarnya bisa terdeteksi dari perilaku anak. Rose menyebut, di antaranya anak lengket yang berlebihan kepada ayah atau ibunya, merengek, agresif, atau menolak didekati. Gejala itu menunjukkan kebutuhan anak untuk melepaskan emosi. Alih-alih langsung menyelesaikan masalahnya, Rose menyarankan ayah bunda membiarkan anak mengungkapkan perasaannya dengan cara aman yang bisa diterima.

Mengantisipasi Luapan Emosi

Bilakah saatnya anak ingin menangis atau marah? Anak perlu melepaskan perasaan tertekan dan terlukanya setelah:

Hari yang meletihkan atau merangsang emosinya.

Konflik dengan anak lain atau anggota keluarga.

Perceraian orang tuanya.

Pernikahan kembali orang tuanya.

Pindah ke rumah atau sekolah baru.

Kelahiran adik, dan melihat peristiwa menakutkan di TV atau dalam kehidupan nyata.

Semakin kecil anak, semakin banyak rangsangan itu memengaruhinya, semakin besar pula kebutuhannya mengungkap perasaannya melalui tangis, amarah, atau tawa.

Redaktur: Endah Hapsari
Reporter: Nina Chairani

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: