jump to navigation

Tujih seri-1, Membentuk keluarga dakwah Mei 23, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita Dunia Islam, keluarga, Uncategorized.
Tags: , , , ,
trackback

Taujih seri-1  Membentuk Keluarga Sakinah

Membentuk keluarga dakwah

By. Muh. Muhlis

                                                                                                                        

 

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah SWT- yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [QS. An-Nisaa’ : 1]

 

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Ruum : 21]

 

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nuur : 32]

 

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Ada sekelompok orang datang ke rumah istri-istri Nabi SAW, mereka menanyakan tentang ibadah Nabi SAW. Setelah mereka diberitahu, lalu mereka merasa bahwa amal mereka masih sedikit. Lalu mereka berkata, “Dimana kedudukan kita dari Nabi SAW, sedangkan Allah telah mengampuni beliau dari dosa-dosa beliau yang terdahulu dan yang kemudian”. Seseorang diantara mereka berkata, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan shalat malam terus”. Yang lain berkata, “Saya akan puasa terus-menerus”. Yang lain lagi berkata, “Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya”. Kemudian Rasulullah SAW datang kepada mereka dan bersabda, “Apakah kalian yang tadi mengatakan demikian dan demikian ?. Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, dan orang yang paling bertaqwa kepada Allah diantara kalian. Sedangkan aku berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, dan aku mengawini wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, bukanlah dari golonganku”. [HR. Bukhari, dan lafadh ini baginya, Muslim dan lainnya]

 

Dan dalam riwayat Baihaqi disebuntukan, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang hamba telah menikah, berarti dia telah menyempurnakan separo agamanya, maka hendaklah dia bertaqwa kepada Allah pada separo sisanya”.

 

Dari banyak ayat Al-Quran dan hadist Rasul tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa menikah adalah Sunnatullah yang telah diwajibkan oleh Allah swt dan di perintahkan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya. Sehingga Ummat Islam sudah tidak dapat lagi mengelak dan berpendapat “ ah saya gak usah menikah”, karena pendapat tersebut bertentangan dengan perintah Allah swt dan sunnah rasul.

Tidak ada ketakutan lagi bagi seorang pria yang jika sudah cukup mampu untuk menikah disebabkan karena belum cukup harta yang dimiliki, karena janji Allah “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nuur : 32]” .

Dengan menikah berarti dua insan tersebut telah menyempurnakan separoh dari agamanya, dan tinggal menyempurnakan separohnya lagi, ini disebabkan begitu banyaknya ibadah ibadah dan perintah Allah swt serta sunnah rasul yang hanya dapat dilaksanakan ketika insan tersebut telah menikah.

Selain itu dengan menikah  diharapkan ikut andil dalam pendidikan ummat dan menambah jumlah ummat islam yang baik di muka bumi Allah ini menambah jumlah kader biologis sekaligus kader idiologis, dengan jalan memiliki keturunan yang solih dan solihah dan banyak , amin.

Kapan kita harus menikah, sudah saatnya kita berhitung umur, mengapa umur perlu dihitung ? karena ini berkaitan dengan perencanaan bekeluarga dan membesarkan membiayai  anak, anggaplah kita menikah usia 24 tahun, selesai kuliah, punya anak usia 25 tahun, rencana punya 4 anak dengan jarak 2 tahun

 

usia pernikahan

Tabel diatas menunjukkan pada saat sang bapak pensiun usia 60 tahun, anak sudah mandiri semua insyaAllah, tetapi jika usia pernikahan diundur maka di khawatirkan anak belum selesai kuliah tetapi orang tua sudah keburu pensiun, atau ketika anak masih usia bermain orang tua sudah tidak sanggup mendampingi. Untuk itu usia pernikahan menjadi faktor  utama dalam penentuan rencana berkeluarga.

Untuk dapat menikah secara syar’i, tidak bisa kita tiba tiba menikah, tetapi harus melalui banyak proses. Jika ingin proses yang baik tentulah di proses sejak dari mencari jodoh menikah,  si ibu hamil dll, kita merujuk kepada rasulullah saw, bagaimana persiapan kelahiran beliau, tetapi akan terlalu panjang bila kita mulai dari hal tersebut. Karena itu kita mulai saja dari  persiapan pernikahan.

Persiapan pernikahan bukanlah hal yang gampang, apalagi ketika orang tua masih berpendapat tabu menikah selagi kuliah.

Persiapan pernikahan dimulai dari pertama mempersiapkan kedua orang tua  untuk menyadari bahwa anaknya sudah berkeinginan menikah, untuk itu perlu pendekatan yang intensif dan jitu kepada kedua orang tua. Kedua mempersiapkan diri baik dari segi ma’nawi jasadi dan maali, Khusus nya bagi ikhwan usaha untuk mendapatkan penghasilan tambahan haruslah menjadi prioritas utama, harusnya seorang al akh memiliki ide ide kreatif dan semangat yang tinggi untuk segera berpenghasilan, seberapa pun besarnya. Jika pendekatan ke kedua orang tua berhasil dengan baik, biasanya ketika anak nya menikah dan masih kuliah, kedua orang tua dengan kesadarannya masih ingin membantu dalam hal biaya hidup. ( tapi jangan jadi harapan utama ya..)

Ketiga persiapan mencari jodoh, prinsip mencari jodoh bagi kader dakwah adalah pantang mencari jodoh  dengan cara pacaran atau pdkt seperti istilahnya anak muda zaman sekarang. Sebuah dilema dengan kader kampus yang kegiatan ikhwan akhwat nya sering bersamaan, terlalu seringnya berinteraksi bahkan semakin intensif sangat rawan menimbulkan benih benih cinta yang tidak terkendali, saya katakan tidak terkendali karena cinta itu merupakan fitroh manusia, tetapi jika tidak terkendali maka akan melenceng dan keluar dari fitrohnya, dan perasaan cinta cenderung tidak terkendali..

Keempat khitbah, dan kelima  walimatul ursy

Bersambung….

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: