jump to navigation

Taujih Membentuk keluarga dakwah, seri-2 Jodoh Mei 24, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita, Berita Dunia Islam, keluarga.
Tags: , , , , ,
trackback

Taujih BKKBS seri-2

Membentuk keluarga dakwah

By. Muh. Muhlis

 

akhwat

 

Seri-2

Jodoh

Jodoh adalah salah satu taqdir Allah SWT, sama dengan taqdir taqdir lainnya. Apapun yang telah Allah ketahui dan tetapkan pada setiap manusia maka tidak akan pernah berubah, dan hanya Allah lah yang mengetahui apa yang telah terjadi dan yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi. Tetapi meskipun demikian bukan berarti kita hanya tinggal menunggu, malas-malasan dengan alasan taqdir sudah ditentukan. Karena hanya Allahlah yang tahu taqdir. Karena itulah Allah dan Rasulnya menyuruh setiap orang untuk terus berikhtiar, berusaha serta melakukan pekejaan yang dapat mengantarkan dirinya kepada taqdirnya, setiap orang muslim harus berpegangan kepada rahmat Allah yang sangat luas yang dengan rahmat tersebut Allah Maha Kuasa untuk mengabulkan dan menuruti keinginannya. Kemudian setelah orang muslim tersebut berusaha dan cita-citanya belum tercapai, baru dia ber-sandar kepada takdir agar jiwanya tenang, untuk itulah rasulullah menuntunkan sebelum memulai segala sesuatu hendaknya kita mengucapkan Bissmillahi tawaqaltu ‘alallah la haulawala quwata illa billah.

Dalam hal JODOH, tidak jauh berbeda, usaha adalah hal yang diutamakan, memang sering kali kita mendengar ungkapan :”Kalau memang jodoh tak akan lari kemana.”  Ini sungguh tidak mendidik.  Ungkapan ini seakan-akan mengatakan bahwa jodoh itu tidak perlu dicari dan diusahakan.  Nanti bakal datang sendiri.  Kenyataannya tidak demikian, Orang yang tidak berusaha mencarinya, maka  tidak akan  menemui jodoh itu.  Orang yang tidak berusaha mencari jodoh yang baik, maka akan bertemu dengan  jodoh yang jelek. Ibarat hidangan diatas meja, hidangan itu sudah terhidang lengkap diatas meja, tetapi tidak akan hidangan itu masuk ke dalam mulut dengan sendirinya dan lantas kita menjadi kenyang, tetapi sunnatullah nya adalah kita gerakkan tangan, kita ambil makanan tersebut yang cocok untuk kita dan kita makan, dan itulah usaha. Demikian pula dengan jodoh, Allah sudah menetapkan jodoh kita, namun kita harus berusaha untuk menggapainya. Mari kita lihat lingkungan sekitar kita, betapa tingginya angka perceraian di Indonesia meningkat dari tahun ketahun, bahkan data kemenag menunjukkan angka perceraian mencapai 14,6 % pada tahun 2013, dan orang yang belum menemukan jodohnya lebih banyak lagi. Mereka bercerai umumnya merasa tidak memiliki kecocokan lagi sudah tidak menarik lagi, tidak bertangung jawab atau masalah keuangan. Tetapi jika kita simpulkan bisa jadi mereka menemukan jodoh yang jelek, dan ini tidak bisa kita berlindung pada kalimat “ ah, memang dia bukan jodoh saya.”, dan selanjutnya cari jodoh lagi kawin lagi, cerai lagi, dan seterusnya

 

Lantas bagaimana supaya kita mendapatkan jodoh yang baik, sehingga dapat membangun keluarga sakinah, mawaddah dan penuh rahmah, langgeng hingga akhir hidup dan berkumpul kembali di sorga yang Allah janjikan ? Inilah masalah kita, dan untuk itu kita perlu berusaha  mencari jodoh yang baik.

Dalam mencari jodoh maka Al Quran menjadi Pegangan kita,Top of FormBottom of Form dalam surat An-Nur (24) : 3. yang artinya

 

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

 

Ulama tafsir berbeda pendapat terkait firman Allah Ta’ala, “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” (QS. An-Nur: 3)

 

Firman Allah Ta’ala,

فَانكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَءاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَات غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلاَ مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ (سورة النساء: 25)

“Karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; (QS. An-Nisa: 25)

 

Yang dimaksud dengan ‘wanita yang memelihara diri bukan pezina’ adalah wanita yang menjaga kehormatannya menjaga auratnya, bukan wanita pezina. Maka pemahaman kebalikan dari ayat ini adalah bahwa seandainya mereka wanita pezina yang tidak memelihara dirinya, niscaya tidak boleh kita menikah dengannya.

 

Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata,

الزاني المجلود لا ينكح إلا مثله

“Seorang pezina laki-laki yang telah di(hukum) cambuk, tidak boleh menikah kecuali dengan (wanita pezina) semisalnya.”

 

Ibnu Hajar berkata dalam Kitab Bulughul Maram dalam hadits Abu Hurairah ini; Riwayat Ahmad dan Abu Daud, para perawinya tsiqoh.

Adapun hadits yang diriwayatkan tentang sebab turunnya ayat ini. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash, bahwa seorang laki-laki muslim minta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang seorang wanita yang dikenal dengan nama Ummu Mahzul, dia dikenal sebagai pezina. Wanita tersebut minta dia menikahinya dengan syarat dia (sang wanita) yang memberi nafkah kepadanya. Maka ketika dia minta izin kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau menyebutkan permasalahannya, Nabi membaca ayat,  “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik.”

Di antaranya juga hadits Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Martsab bin Abu Martsad Al-Ghanawi membawa tawanan di Mekah. Dahulu di Mekah terdapat pelacur yang dipanggil ‘Inaq’ yang dahulunya merupakan kekasihnya. Dia berkata, “Maka aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku boleh menikah dengan Inaq?’ Beliau diam tidak menjawabku, lalu turun ayat,

وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ

“Wanita pezina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik.

Maka kemudian beliau memanggilku, lalu membacanya di hadapanku. Lalu beliau berkata, “Jangan nikahi dia.” Riwayat Abu Daud, Nasa’I dan Tirmizi. Dia berkata, ‘Hadits ini hasan gharib, tidak kami ketahui kecuali jalur periwayat ini. (taujih seri-2/mm to seri3)

 

Ibnu Qoyim berkata dalam Kitab Zadul Ma’ad, redaksinya sebagai berikut, “Adapun menikahi wanita pezina, telah Allah tegaskan keharamannya dalam surat An-Nur. Dia menjelaskan bahwa yang menikahinya, kalau tidak dia seorang laki-laki pezina atau laki-laki musyrik. Maka, dia boleh jadi berpegang teguh dengan hukum Allah Ta’ala dan meyakini kewajibannya atau tidak. Apabila dia tidak melaksanakannya dan tidak meyakininya, maka dia musyrik. Apabila dia melaksanakannya dan meyakini kewajibannya, namun dia menyalahinya, maka dia pezina. Kemudian Allah menjelaskan keharamannya, ” dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

 

Petunjuk yang lain sebagai pegangan kita dalam mencari jodoh adalah Al qur’an surat AnNur ayat 26

 

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Penjelasan An Nur 26,  Menurut para ulama ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah RA dan Shafwan bin al-Mu’attal RA dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan di depan onta ‘aisyah untuk menyusul rombongan Rasulullah SAW dan para sahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah. Peristiwa ini akhirnya menjadi fitnah di kalangan umat muslim kala itu karena terhasut oleh isu dari golongan Yahudi dan munafik jika telah terjadi apa-apa antara ‘Aisyah dan Shafwan.

Masalah menjadi sangat rumit karena sempat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Akhirnya turunlah surat An-Nur ayat 26.

Yang dimaksud laki-laki yang baik dalam ayat ini adalah Rasulullah saw sebagai manusia yang paling baik sedangkan wanita yang baiknya adalah Aisyah ra sebagai isteri Rasulullah saw.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam pun menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan laki-laki yang jahat hanya cocok bagi wanita yang jahat. Wanita yang baik hanya layak bagi laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik hanya patut bagi wanita yang baik. Jadi, perempuan yang baik hanya pantas, cocok, layak, dan patut untuk laki-laki yang baik pula. Begitu pun sebaliknya, laki-laki yang baik hanya pantas, cocok, layak, dan patut untuk perempuan yang baik.

 

Jika dilihat dari konteks ayat ini, ada dua penafsiran para ulama terhadap ayat ini yaitu tentang arti kata “wanita yang baik” dan juga “ucapan yang baik” Sehingga dapat juga diartikan seperti ini;

“Perkara-perkara (ucapan) yang kotor adalah dari orang-orang yang kotor, dan orang-orang yang kotor adalah untuk perkara-perkara yang kotor. Sedang perkara (ucapan) yang baik adalah dari orang baik-baik, dan orang baik-baik menimbulkan perkara yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Kata “khabiitsat” biasa dipakai untuk makna ucapan yang kotor (keji), juga kata thayyibaat dalam Quran diartikan sebagai kalimat yang baik.

Hakam Ibnu Utaibah yang menceritakan, bahwa ketika orang-orang mempergunjingkan perihal Aisyah RA Rasulullah saw menyuruh seseorang mendatangi Siti Aisyah RA Utusan itu mengatakan, “Hai Aisyah! Apakah yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu?” Aisyah RA menjawab, “Aku tidak akan mengemukakan suatu alasan pun hingga turun alasanku dari langit”. Maka Allah menurunkan firman-Nya sebanyak lima belas ayat di dalam surah An Nur mengenai diri Siti Aisyah RA. Selanjutnya Hakam Ibnu Utaiban membacakannya hingga sampai dengan firman-Nya, “Ucapan-ucapan yang keji adalah dari orang-orang yang keji…” (Q.S. An Nur, 26). Hadits ini berpredikat Mursal dan sanadnya shahih.

Ayat 26 inilah penutup dari ayat wahyu yang membersihkan istri Nabi, Aisyah dari tuduhan keji itu. Di dalam ayat ini diberikan pedoman hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan keji adalah perbuatan yang amat keji hanya akan timbul daripada orang yang keji pula. Memang orang-orang yang kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun ucapan-ucapan yang baik adalah keluar dari orang-orang yang baik pula, dan memanglah orang baik yang sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak menghasilkan yang bersih, dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor, dan ini berlaku secara umum

Di akhir ayat 26 Allah SWT menutup perkara tuduhan ini dengan ucapan bersih dari yang dituduhkan yaitu bahwa sekalian orang yang difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan, mereka tidak bersalah sama sekali. Maka makna ayat di atas juga sangat tepat bahwa orang yang baik tidak akan menyebarkan fitnah, fitnah hanya keluar dari orang–orang yang berhati dengki, kotor, tidak bersih. Orang yang baik, dia akan tetap bersih, karena kebersihan hatinya.

 

Dari penjelasan tersebut diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa orang baik akan mendapat jodoh orang yang baik dan kita harus yakin itu serta harus yakin pula bahwa jodoh tidak akan tertukar.

Dan jika kita ingin mendapatkan jodoh yang berkualitas baik maka yang pertama kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri menjadi baik terlebih dahulu. (taujih seri-2/mm to seri3)

 

Bersambung ..taujih seri-3. Mencari jodoh..

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: