jump to navigation

taujih seri-3, Membentuk keluarga dakwah: mencari Jodoh Mei 25, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita, Berita Dunia Islam, keluarga, kisah/cerita, Uncategorized.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Taujih BKKBS

Membentuk keluarga dakwah

By. Muh. Muhlis

Mencari Jodoh

Seri-3

 

akad-nikah

Bagaimana mencari calon pendamping

Ada banyak cara mencari calon pendamping hidup, namun bagaimana rasulullah menuntunkan kita agar kita mendapatkan pendamping yang tepat. Perjalanan hidup rasulullah dan para sahabat menjadi rujukan kita, beberapa penggalan kisah dapat kita ungkap, misalnya bagaimana Khadijah(status janda) ingin meminang muhammad, khadijah mengutus salah seorang sahabatnya seorang wanita bernama Nafisah binti Aliyah, Khadijah menyampaikan pesannya kepada Muhammad dengan berkata, “Mengapa di malam hari engkau tidak menyinari kehidupanmu dengan seorang istri? Jika aku mengajakmu kepada keindahan, kekayaan, dan kemuliaan, maukah kau menerimanya?”

Muhammad bertanya, “Siapakah maksudmu?”

“Khadijah”, jawabnya.

“Apakah ia rela dengan kondisi hidupku ini?”

“Ya. Tentukanlah harinya sehingga wakilnya dan seluruh kerabatmu duduk bersama untuk membicarakan pesta pernikahan.

Indah sekali ya… (ingat tidak ada komunikasi langsung tidak ada rayuan dll, padahal sudah saling mengenal dan punya agenda bersama yaitu niaga)

Bagaimana perjodohan Fatimah putri rasulullah ? Ketika Fatimah memasuki usia perkawinan banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah).” Kemudian, Jibril as datang untuk mengabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib. Tidak lama setelah itu, Ali datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah.

Kisah yang lain adalah kisah khalifah Umar bin Khattah dengan  seorang gadis, yang tidak mau menuruti ibunya untuk mencampur susu jualannya dengan air. Yang akhirnya Umar bin Khattab selidiki, hingga akhirnya Umar bin Khattab tertarik dengan akhlaknya dan hendak menikahkannya dengan anaknya Abdullah bin Umar, namun karena Abdullah sudah menikah akhirnya Abdullah menyarankan agar ayahnya menikahkan gadis itu dengan saudaranya, Ashim bin Umar bin Khattab.

Berikut ini kami sajikan beberapa cara untuk mencari pasang hidup

  1. Kewajiban Ayah, Memilihkan Suami

Dari sekian banyak tugas seorang ayah terhadap anaknya adalah memilihkan suami yang sholih, tugas ini merupak puncak dari tugas seorang ayah terhadap anak gadisnya yang berada dalam perwaliannya. Dalam hal ini orang tua atau wali harus lah hati hati dalam memilihkan jodoh untuk anaknya, karena suami yang akan mendampingi anaknya adalah orang yang dititipi untuk menjaga dan membimbing anaknya menjadi anak yang sholihah dan mengantarkannya ke jannah. Coba bayangkan orang tua yang sudah mengasuhnya sejak kecil membimbing, merawat, menjaga, mengajarinya sehingga ia dewasa dan siap menikah, lantas ingin diserahkan kepada siapa perwaliannya ? Pada zaman yang seperti ini bagaimana sulitnya merawat anak gadis supaya selamat sampai ia menikah, lantas akan dititipkan kepada siapa perwaliannya ?

Orang tua harus mengerti bagaimana kedudukan istri dalam sebuah perkawinan. Rasulullah saw menerangkan tentang kedudukan wanita dan kelemahannya dalam perkawinan.

“Pernikahan itu ibarat perbudakan, maka hendaklah kalian waspada kepada siapa putrimu kau berikan.” (Ihya Ulumud Din, Oleh Al-Ghazali, 4/133 dari Aisyah dan Asma binti Abi Bakar) .

Sesungguhnya kedudukan seorang wanita sebagai istri  seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW memang ibarat budak terhadap tuannya, karena ia tidak punya daya dan kekuatan. Sedang suami diberi hak sebagai pimpinan keluarga dan rumah tangga. Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻟَﻮْ ﻛُﻨْﺖُ ﺁﻣِﺮًﺍ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺠُﺪَ ﻷَﺣَﺪٍ ﻷَﻣَﺮْﺕُ ﻟِﻤَﺎ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﻖِّﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀَ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺠُﺪْﻥَ ﻷَﺯْﻭَﺍﺟِﻬِﻦَّ

“Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya akan aku perintahkan para isteri untuk sujud kepada para suami mereka, karena besarnya hak yang Allah berikan kepada para suami atas mereka” [HR Abu Dawud, 2142. At-Tirmidzi, 1192; dan Ibnu Majah 1925.]

Apabila kepemimpinan itu tidak dilandasi dengan ketaqwaan dan kebenaran,  maka nasib wanita di dunia maupun di akhirat akan terancam kehancuran. Sungguh besarnya hak seorang suami yang harus dipenuhi oleh sang istri, bahkan seorang suami penentu masuk sorga atau nerakanya seorang istri.

Rasululloh sahallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepada bibi Al Hushain:“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933).

Karena itulah menjadi kewajiban utama para ayah dan wali, agar memilihkan calon suami untuk anak gadisnya seorang lelaki yang pemurah, yang mampu membimbing putrinya dan dapat memelihara kehormatan mereka.  Seorang lelaki yang bijaksana, yang senantiasa takut kepada Allah, akan menggauli istrinya seperti yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya :

“Bergaullah dengan istri-istri kalian dengan cara yang baik. Kalau kamu benci kepada mereka, hendaklah kamu bersabar. Karena boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan di balik itu sutu kebaikan yang banyak.”(QS. An Nisa’ :19)

Banyak  orangtua atau wali para wanita di zaman ini yang memandang remeh dan tidak banyak menaruh perhatian pada ajaran islam dalam hal mencarikan jodoh untuk anak gadisnya. Mereka cenderung lebih mengutamakan materi, kedudukan dan penampilan lahiriah dalam memilih calon. Bahkan ada yang dengan teliti memilih laki-laki yang berpenghasilan besar  dan memiliki kekayaan berlimpah ruah, tanpa mengusut akhlak dan agamanya. Dan sedihnya, ada orang tua yang dengan sengaja menolak orang yang berpegang teguh dengan agama, berakhlak baik, tetapi belum kaya dan belum mempunyai kedudukan yang dibanggakan. Seharusnya mereka inilah yang lebih diutamakan dari orang yang berpangkat dan kaya raya. Karena janji Allah “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nuur : 32]” .

Lantas bagaimana mencari jodoh untuk anak gadisnya ?

Rasulullah SAW bersabda :

“Apabila ada yang meminang anak gadismu, dan kamusenang pada agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah. Kalau tidak kamu lakukan, sama dengan kamu jadi fitnah di muka bumi, dan menimbulkan kerusakan yang luas.”  (At-Turmudzi dari Abu Hurairah).

Tidak ada fitnah yang lebih besar bagi seorang wanita yang shalihah, selain dia hidup di tengah laki-laki fasik, yang tidak mengindahkan arti kebaikan dan janji setia pernikahan. Wanita yang masih tetap bertahan dan akan tetap mempertahankan hidup dengan laki-laki semacam itu, tentu akan kehilangan agamanya. Namun jika ia ingin dan tetap mempertahankan agamanya, dan ia ingin mendapatkan ridho Allah Robbul ‘Alamiin, ia akan kehilangan dunia dan keutuhan rumah tangganya.

Orangtua/wali  atau seorang wanita yang menolak pinangan seorang laki-laki yang shalih, berarti sudah melepaskan kesempatan hidup dalam perlindungan laki-laki yang baik. Dan dia sudah menyia-nyiakan rezeki yang sangat besar yang Allah berikan padanya .

Namun Ajaran islam memberikan jaminan yang layak demi kebahagiaan kaum wanita, kestabilan keluarga dan untuk memberikan hak-hak penetuan terakhir bagi wanita untuk menerima atau menolak calon suaminya.  Tidak seorangpun boleh memaksa seorang wanita untuk menentukkan calon suaminya, karena kehidupam rumah tangga tidak bisa ditegakkan diatas landasan pemaksaan, seperti firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :  “Wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmah” dan Allah menjadikan antara kalian kasih sayang dan rahmat. Cinta, kasih sayang, dan rahmat tidak akan terwujud bila perkawinan itu dilandasi oleh faktor pemaksaan dan kebencian. Karena Rasulullah memerintahkan untuk memperhatikan pendapat dan buah pikiran kaum wanita dengan sabda beliau ;

“Mintalah pendapat kaum wanita dalam masalah mereka sendiri, janda menentukkan dirinya sendiri, sedang diamnya gadis menandakan persetujuannya.” (At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan)

Rasulullah telah memberi contoh hak nya fatimah ketika dilamar Ali ra. Bagaimana cara beliau meminta pendapat kaum wanita, dengan cara yang agung, penuh kasih sayang, hormat dan penghargaan yang tinggi terhadap perasaan kaum wanita, dengan sabda beliau kepada putri tercinta :

“Wahai permata hatiku!  Si fulan telah meminangmu. Kalau kau tidak suka, katakanlah: Tidak. Untuk mengatakan : “tidak” seseorang tidak perlu merasa takut. Akan tetapi jika engkau suka, maka diammu itu menandakan persetujuanmu.” (Mir-aatun Nisa’ Oleh syeikh Muhammad kamaluddin Al-Adhami. Hal. 16)

Dengan mengacu  cara nya rasulullah memberikan pertanyaan kepada putrinya tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa wanita dapat menolak lamaran seorang  lelaki yang tidak disenanginya.

Penolakan lamaran ini juga pernah terjadi pada zaman Rasulullah saw, misalnya

Disebutkan seorang muslimah di zaman Nabi yang bernama Ummu Aban binti ‘Utbah bin Rabi’ah bin ‘Abdu Syams dalam kisahnya:

Lelaki pertama yang melamarnya adalah ‘Umar bin Khaththab, sosok khalifah kebanggaan kaum muslimin setelah Abu Bakar ash-Shiddiq yang juga menjadi mertua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Jika kita berpikir bahwa tak ada satu pun alasan untuk menolak lelaki yang ditakuti oleh setan ini, faktanya tidaklah demikian. ‘Umar ditolak dengan alasan, “Jika pulang ke rumah, ia memikirkan masalah. Dan, jika keluar dari rumah, ia juga memikirkan masalah.”

Hal itu terjadi lantaran ‘Umar amat memikirkan akhirat sehingga melupakan dunia. Dia hidup di dunia, tetapi seperti melihat Rabb semesta alam dan mencium bau surga.

Maka pelamar yang kedua adalah Zubair bin Awwam sang pemuka Quraisy yang memiliki karunia harta. Namun, lamaran sahabat Nabi ini pun ditolak dengan alasan, “Istrinya hanya akan mendapatkan pakaian yang bagus dan sanggul darinya.”

Dan, ‘Ali bin Abi Thalib pun mengambil giliran sebagai pelamar ketiga yang bernasib serupa. Alasannya, “Istrinya hanya akan terpenuhi sesuai kebutuhannya saja, dan ia akan mengatakan begini dan begitu (menyampaikan alasan/pendapat agar istrinya tidak menyampaikan selain apa yang dibutuhkan).”

Setelah tiga lamaran yang berujung penolakan sebab alasan sifat dan kecocokan yang dilamar dengan sosok pelamar, maka datanglah lelaki surga keempat yang sampaikan lamaran. Qadarullah, lelaki inilah yang diterima lamarannya.

Sebab, “Aku telah mengenal akhlaknya; jika masuk rumah, ia akan memasukinya dengan tertawa, dan jika keluar rumah, ia akan keluar dengan tersenyum. Jika aku meminta sesuatu, ia akan memberikannya; jika aku diam, dia akan memulai pembicaraan; jika aku melakukan sesuatu, ia akan berterima kasih; jika aku berbuat salah, ia akan memaafkannya.”

Penolakan tiga sahabat Nabi dalam kisah ini bukan disebabkan keshalehan atau kualitas kepribadiannya. Mereka tidak diterima hanya karena kecenderungan sosok yang dilamar, sebab jiwa memiliki kekhasannya masing-masing.

Kemudian, siapakah sahabat yang diterima lamarannya? Ia adalah Thalhah bin ‘Ubaidillah.

Dalam kisah lain ‘Aisyah menolak lamaran Umar bin Khaththab terhadap  Ummu Kultsum, anak Abu Bakar yang merupakan adik dari ‘Aisyah istri Rasulullah Saw.  melalui sahabat al-Amru bin al-‘Ash, padahal siapa yang berani menolak lamaran lelaki yang telah dijamin masuk sorga oleh rasulullah. ‘Aisyah yang shalihah nan cerdas, melihat itu sebagai sebuah dilema. Keluarga Abu Bakar berjalan dalam jalur kehidupan lembut nan santun. Amat berbeda dengan karakter Umar yang cenderung pemberani nan tegas hingga setan pun memilih jalan lain ketika Umar melewati jalan itu.

Dalam kisah yang lain

Salman al Farisi adalah salah seorang sahabat Nabi saw yang berasal dari Persia, pada saat Salman Al Farisi sudah waktunya untuk menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ berbicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Menunjukkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah  dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Namun mari kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!

Betapa indahnya kebesaran hati Salman Al Farisi.

Dalam kisah lain bagaimana sahabat (lelaki) dapat  menolak perjodohan, sebagaimana dikisahkan pada kisah Umar bin Khattab dalam mencarikan suami untuk anaknya  Hafsah yang telah menjanda.

“ Setelah berfikir panjang maka Umar berkesimpulan untuk mencarikan suami untuk putrinya Hafsah sehingga dia dapat bergaul dengannya dan agar kebahagiaan yang telah hilang tatkala dia menjadi seorang istri selama kurang lebih enam bulan dapat kembali. Akhirnya pilihan Umar jatuh pada Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallaahu ‘anhu orang yang paling dicintai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena Abu Bakar dengan sifat tenggang rasa dan kelembutannya dapat diharapkan membimbing Hafshoh yang mewarisi watak bapaknya yakni bersemangat tinggi dan berwatak tegas. Maka segeralah Umar menemui Abu Bakar dan menceritakan perihal Hafshoh berserta ujian yang menimpa dirinya yakni berstatus janda. Sedangkan ash-Shiddiq memperhatikan dengan rasa iba dan belas kasihan. Kemudian barulah Umar menawari Abu Bakar agar mau memperistri putrinya. Dalam hatinya dia tidak ragu bahwa Abu Bakar mau menerima seorang yang masih muda dan bertakwa putri dari seorang laki-laki yang dijadikan oleh Allah penyebab untuk menguatkan Islam. Namun ternyata Abu Bakar tidak menjawab apa-apa. Maka berpalinglah Umar dengan membawa kekecewaan hatinya yang hampir-hampir dia tidak percaya. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju rumah Utsman bin Affan yang mana ketika itu istri beliau yang bernama Ruqqayah binti Rasulullah telah wafat karena sakit yang dideritanya. Umar menceritakan perihal putrinya kepada Utsman dan menawari agar mau menikahi putrinya namun beliau menjawab “Aku belum ingin menikah saat ini”. Semakin bertambahlah kesedihan Umar atas penolakan Utsman tersebut setelah ditolak oleh Abu Bakar. Dan beliau merasa malu untuk bertemu dengan salah seorang dari kedua shahabatnya tersebut padahal mereka berdua adalah kawan karibnya dan teman kepercayaannya yang faham betul tentang kedudukannya. Kemudian beliau menghadap Rasulullah SAW dan mengadukan keadaan dan sikap Abu Bakar maupun Utsman. Maka tersenyumlah Rasulllah SAW seraya berkata “Hafshoh akan dinikahi oleh orang yang lebih baik dari Abu Bakar dan Utsman sedangkan Ustman akan menikahi wanita yang lebih baik daripada Hafshoh ” Wajah Umar bin Khaththab berseri-seri karena kemuliaan yang agung ini yang mana belum pernah terlintas dalam angan-angannya. Hilanglah segala kesusahan hatinya maka dengan segera dia menyampaikan kabar gembira tersebut kepada tiap orang yang dicintainya sedangkan Abu Bakar adalah orang yang pertama kali beliau temui. Maka tatkala Abu Bakar melihat Umar dalam keadaan gembira dan suka cita maka beliau mengucapkan selamat kepada Umar dan meminta maaf kepada Umar sambil berkata “janganlah engkau marah kepadaku wahai Umar karena aku telah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebut-nyebut Hafshoh. Hanya saja aku tidak ingin membuka rahasia Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam; seandainya beliau menolak Hafshoh maka pastilah aku akan menikahinya. Maka Madinah mendapat barokah dengan indahnya pernikahan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan Hafshoh binti Umar pada bulan Sya’ban tahun ketiga Hijriyah.

Ikhwah fillah itulah banyak penggal kisah perjuangan seorang ayah untuk mencarikan jodoh untuk putrinya, Kenyataan yang kita hadapi adalah keluarga kita bukanlah keluarga yang ideal, banyak diantara kita yang baru bisa mengaji ketika kuliah, banyak diantara kita yang orangtuanya belum sholat, atau bisa dikatakan keluarganya belum begitu baik dalam mengenal islam. Maka kondisi ini menjadi problem kita ketika menyerahkan perjodohan kepada orang tua, tetapi jika orang tua kita sudah sefikroh dan komunikasi terjalin dengan baik maka adalah kewajiban orangtua untuk mencarikan jodoh…

2. Meminta pertolongan kepada orang yang di percayai, Meminta pertolongan kepada fihak ketiga dalam mencari jodoh dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara, pertama mutlaq minta tolong di carikan jodoh karena belum memiliki pandangan pasangan dan

yang kedua meminta pertolongan  untuk dihubungkan kepada si fulan/fulanah yang disenangi

Meminta pertolongan kepada orang dekat atau orang yang disegani telah pula dicontohkan oleh para sahabat di zaman rasulullah sebagaimana pada penggalan kisah diatas. Pada saat ini ada sebuah fenomena kasus misalnya Ada beberapa ikhwan dalam mencari jodoh dengan cara meminta pertimbangan orang orang sholeh yang dipercayai, misalnya seorang kiai, ustadz, guru ngaji, bahkan mungkin saudara atau teman, tetapi yang menjadi catatan adalah hendaknya  menghindari mencari jodoh melalui birojodoh yang biasa diiklankan di majalah koran atau mediamasa lainnya, karena tidak ada jaminan akan di proses secara syar’i, meraka hanya mengejar target dan menjadi lahan bisnis.

Dalam hal meminta pertolongan ada hal yang harus kita yakini, pertama tsiqoh kepada yang kita mintai pertolongan, bahwa dia akan memberikan yang terbaik untuk kita, kedua, kita harus yakin bahwa jodoh itu sudah ditetapkan oleh Allah, jadi misalnya itu bukan jodoh pasti tidak akan terjadi pernikahan, dan kebalikannya  jika itu sudah jodoh, maka halangan apapun tidak akan membatalkannya, ada kisah calon keluarga yang berusaha untuk menikah dengan cara perjodohan, semua proses sudah dilalui mulai dari ikhtiyar meminta pertolongan seorang ustadz, sholat istikharoh, calon istri sudah setuju, calon mertua sudah setuju dan bahkan sudah ditetapkan tanggal pernikahannya dan telah dibuatkan undangan dan sebagian besar undangan  sudah beredar, tetapi jodoh memang ditangan Allah swt, pada minggu terakhir fihak keluarga pria membatalkan pernikahan…. itulah rahasia Allah (bukan disebabkan karena perkara kriminal),

Sedang penulis sendiri sudah pula melalui proses tersebut..

Pada saat sang penulis sampai pada titik berkeinginan untuk menikah, padahal  belum mempunyai pasangan untuk dinikahi, maka penulis lapor pada ayahanda, bunyinya “ pak pokoknya saya mau menikah, tapi belum punya pasangan…..”  dan gayung pun bersambut, padahal saat itu penulis masih kuliah belum Skripsi dan KKN, bapak langsung menjawab, “.. Boleh, nanti bapak carikan..”. Prosespun berjalan panjang, penulis  setuju, orang tua setuju, calon mertua setuju, akhwatnya masih ragu. Dan proses ta’aruf pun terjadi, proses ta’aruf ini di fasilitasi keluarga, bahkan seluruh keluarga hadir…. namun apadaya, ketika sang akhwat ditanya….” tidak bersedia menikah dengan aye..” sedih….

 

Adapun adab ketika dimintai pertolongan mencarikan jodohpun, harus dijaga, pertama masalah kerahasiaan, jangan sampai sesuatu yang dititipkan kepada kita menjadi konsumsi umum, pada dasarnya seseorang yang meminta dicarikan jodoh adalah menitipkan sebuah rahasia besar, yang jika rahasia tersebut terbuka umum maka akan malulah yang bersangkutan, Kedua berusaha sungguh sungguh, artinya mencarikan jodoh seseorang tersebut bukanlah hal yang main main karena berhubungan hidup keluarga seseorang yang diharapkan dapat langgeng sampai ajal menjemput, termasuk sungguh sungguh disini adalah selalu berdoa kepada Allah swt  untuk dimudahkan urusannya dan juga berusaha mengenal sebaik mungkin lelaki maupun wanita yang akan dijodohkan, dan kita sudah yakin terhadap lelaki dan wanita yang kita jodohkan sudah sekufu dengan banyak pertimbangan lainnya.

Bolehkah fihak akhwat memulai duluan untuk dinikahi si fulan ? jawabnya Boleh…. hanya saja sebagain besar fihak perempuan timur masih menempatkan rasa malu dalam hal ini, untuk menutupi rasa malu maka perlulah fihak ketiga untuk memprosesnya.

Sekufu

Dalam proses perjodohan ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, antara lain sekufu atau sebanding atau serasi, yaitu kesepadanan antara calon mempelai lelaki dan mempelai wanita untuk membentuk sebuah rumah tangga. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam sekufu ini antara lain, usia, pendidikan, kekayaan, kefahaman terhadap agama serta  karakter dasar, walaupun bukanlan menjadi pertimbangan pokok. Tidaklah diragukan lagi jika kedudukan antara lelaki dan wanita  adalah sekufu maka akan menjadi faktor kebahagiaan hidup suami istri, Faktor  keserasian dan saling menyenangi sangat diutamakan dalam perkawinan.  Kalau keserasian dalam bidang agama tidak ditemukan, maka ia tidak akan dapat digantikan dengan yang lain. Begitupun, kalau kesesuaian dalam bidang agama dan akhlak sudah dimiliki, tapi kurang di dalam masalah-masalah yang lain, maka hal itu sudah cukup memadai.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang menjadi landasan dasar perkawinan itu ialah kesesuaian dan ketaqwaan agama seseorang. (taujih seri-3/mm to seri selanjutnya atas permintaan)

 

Dari sahabat Abu Hurairah-radiallahu anhu-, Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا ، وَلِحَسَبِهَا ، وَلِجَمَالِهَا ، وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

 

Perempuan itu dinikahi karena empat perkara”: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya, maka ambillah perempuan yang mempunyai/berpegang teguh dengan agamanya, niscaya engkau beruntung.”(al-Bukhari no.4802, Muslim no.1466).

Namun menurut hemat kami selain pertimbangan agama faktor lain juga menjadi pertimbangan dalam masalah perjodohan, misalnya pendidikan. Seorang gadis berpendidikan doktor (S3) tentu tidak elok bila disandingkan dengan pria SMA pun tak tamat, pasti ada hambatan komunikasi dan sosial dikemudian hari disebabkan derajat pendidikan wanita lebih tinggi, pada kasus sebaliknya mungkin menjadi tidak masalah misalnya seorang lelaki berpendidikan S-3 menikah dengan wanita lulusan SMA, disebabkan karena kepemimpinan lelaki.

Selain pendidikan, usiapun mungkin perlu pertimbangan walaupun bukan menjadi pertimbangan pokok, wanita yang sudah berusia 40 tahun keatas selain telah melewati masa aman hamil juga tidak elok di sandingkan dengan pria 25 tahunan walaupun tetap ada kejadian seperti itu, bahkan rasulullah sendiri menikah pada usia 25 tahun dan khadijah pada saat itu berusia 40 tahun.

Sekali lagi pertimbangan usia pendidikan status sosial karakter bukanlah menjadi pertimbangan utama dalam perjodohan, hendaknya status akhlaq dan kepahaman terhadap agama adalah menjadi prioritas pertimbangan.

 

Dalam hal ini rasulullah memberikan petunjuk untuk memilih istri

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ)). رواه مسلم

Artinya: Dari Abu Hurairah  ia berkata, Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

Lantas timbul pertanyaan, jika dulu menikahnya sudah sekufu, sudah jodohnya koq bisa bercerai juga ??

Jawabnya adalah: ketika menikah mereka sudah sekufu dan sudah jodohnya, tetapi seiring perjalanan waktu ketaqwaan seseorang berubah-ubah, bisa jadi sang istri ketaqwaannya meningkat, yang suami menurun, atau sebaliknya sang suami ketaqwaannya meningkat sedangkan sang istri menurun, maka mereka menjadi sudah tidak sekufu lagi dan tidak berjodoh lagi, ingat Al qur’an surat AnNur ayat 26

 

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

 

 

Dan akhirnya prinsip kita dalam mencari jodoh adalah tidak dimulai dengan pacaran, sms an, yang-yangan, kode kodean, kapling kaplingan, patah hati patah hatian atau inden, pesan sekarang nikah dua tahun lagi., atau kebiasaan lainnya….

Menjaga hati kerena cinta adalah sangat sulit. Karena itu jagalah hati, dengan cara tidak memantik api cinta, karena jika cinta telah terpantik maka apinya akan segera berkobar dan akan menghanguskan akal sehat.

(taujih seri-3/mm to seri selanjutnya atas permintaan)

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: