jump to navigation

Kedudukan suami sebagai Pemimpin dalam Rumah Tangga Juni 14, 2016

Posted by muhlis3 in agama, Berita Dunia Islam, keluarga, Uncategorized.
Tags: , , ,
trackback

Seri taujih Keluarga sakinah

oleh Muhammad Muhlis

 

 

Lelaki adalah pemimpin Keluarganya

 

Suami sebagai qowamah, pemimpin keluarga tidak lepas dari tanggung jawab dan hak sebagai seorang pemimpin. Kedua permasalan ini ibarat dua lengan timbangan, yang beban kiri dan kanan haruslah imbang, jika tidak maka akan “njomplang”, seorang suami haruslah mendahulukan tanggung jawabnya, ini ibarat anak timbangan, maka hak akan menyusul kemudian ini ibarat zat yang akan ditimbang, jadi berat ringannya hak suami ( zat yang ditimbang) akan sangat tergantung dengan anak timbangan yang kita letakkan, sampai kemudian terbentuk keseimbanngan antara anak timbangan dengan yang ditimbang, seperti  itulah kira kira konsep adil.

 Allah SWT menjelaskan urusan ini dalam Firmannya pada QS.  An Nisa’ : 34,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). ” [An-Nisaa’: 34]

Pada QS.  An Nisa’ : 34, Allah SWT menjelaskan ada 2 Tanggung jawab suami terhadap keluarga yaitu Kepemimpinannya terhadap keluarga dan Menafkahi keluarga

  1. Kepemimpinannya terhadap keluarga,

Keluarga merupakan organisasi terkecil dalam masyarakat, karena itulah keluarga memiliki struktur kepemimpinan dan tanggung jawab. Keluarga yang sukses yang didalamnya bersemayam ketenangan keluarga, kenyamanan beribadah, dan keceriaan dalam komunikasi tidak lepas disebabkan karena adanya pemimpin keluarga yang amanah, arif dan bijaksana. Berkeluarga bermakna pula dengan mewujudkan tatanan kehidupan islami minimal dalam keluarga tersebut, sehingga kehidupan dalam rumah tangga muslim menjadi nilai ibadah yang komprehensif.  Sebuah keluarga muslim jika benar dalam pembentukan dan penyiapannya, benar dalam pengamalan dan aktualisasi hidupnya maka akan menjadi cikal bakal masyarakat muslim yang baik, yang dapat menjalankan syari’at islam dalam bermasyarakat. Tidak berlebihan jika kita berkesimpulan bahwa negara yang baik berasal dari kumpulan keluarga yang sakinah. Untuk mewujudkan hal tersebut adalah mendesak untuk terbentuknya seorang “pilot” yang mumpuni untuk memimpin sebuah keluarga, membawa keluarga tersebut mulai dari persiapan penerbangan, dan terbang menuju impian. Dalam Islam pilot sebuah  keluarga adalah suami, sebagaimana firman Allah SWT pada QS : An-Nisaa’: 34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). ” [An-Nisaa’: 34]

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت) متفق عليه

 “Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِيْ أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.

“Lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
Ayat di atas secara jelas dan tegas menunjukan bahwa laki- laki adalah pemimpin bagi wanita. Tidak hanya sekedar pemimpin yang dibutuhkan tetapi seorang pemimpin yang bersifat komprehensif, pemimpin yang dapat melindungi anggota keluarganya, pemimpin yang dapat mentarbiyah keluarganya, pemimpin yang dapat mengarahkan, mendamping membantu mejaga, mengawasi anggota keluarganya sehingga keluarga tersebut dapat berjalan dengan harmonis menuju tujuan hidup.   Dan Allah telah menciptakan laki-laki dalam bentuk pastur tubuh dan sifat- sifat yang bisa dijadikan bekal untuk menjadi pemimpin. Karena kepemimpinan memerlukan pendayagunaan akal secara maksimal dan membutuhkan stamina tubuh yang kuat, khususnya di dalam menghadapi berbagai rintangan dan kendala, serta pemikiran dan akal yang panjang tatkala memecahkan berbagai problematika yang cukup rumit.  Dan pada sisi yang lain, Allah adalah Dzat Yang Maha Adil, tidak ingin mendholimi seseorang. Sehingga, dipilihlah laki- laki sebagai pemimpin rumahtangga dan pemimpin  bagi kaum wanita secara umum. Karena tabi’at perempuan yang lemah lembut, mudah terbawa arus perasaan, yang mengandung dan menyusui, serta merawat anak, sangatlah tidak relevan jika wanita dibebani sebagai pemimpin  bahtera rumah tangga yang begitu besar dan berat. Dari sini,  sangatlah tepat ayat di atas.

Kepemimpinan laki laki dalam keluarga selain karena perintah Allah swt  di dalam QS al- Nisa’ : 34, juga disebabkan karena dua hal lainnya, pertama diciptakannya Siti Hawa ibunya seluruh manusia dari bagian tubuh Nabi Adam as. Dari sini dapat dilihat bahwa istri merupakan bagian yang integral dari sang suami, kedekatan inilah yang menimbulkan insting para suami untuk menyayangi, melindungi, mengarahkan, membina, serta mengawasi pasangan hidupnya. Kedua adalah suami telah mendapat perlimpahan mandat perwalian dari sang ayah wanita dalam sebuah prosesi ijab qobul. Seperti yang sudah dibahas pada bab ijab qobul sebelumnya. Dengan demikian seorang suami bertanggung jawab penuh terhadap istri dan keluarganya, yang dipertanggung jawabkan ke hadapan Allah SWT bukan hanya kebaikan dan amal dari anggota keluarga tetapi juga kesalahan dan dosa dari anggota keluarga tersebut. Inilah sebabnya yang kemudian bahwa Allah SWT memberikan pahala berlimpah pada seorang suami berupa  pahala sebagai seorang pemimpin “ Qowwam “ dalam sebuah keluarga.

Rasulallah saw bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Dan ketiga amal tersebut terkumpul dalam diri seorang ayah (qowwam) yang solih dan bertanggungjawab.

“ Qowwam “ menurut Imam Qurthubi artinya melakukan sesuatu dan bertanggung jawab terhadapnya dengan cara meniliti dan menjaganya  dengan kesungguhan. Maka tanggung jawab laki-laki terhadap istri dalam batasan tersebut, yaitu dengan  mengurusi, mendidik dan menjaga dirumahnya dan melarangnya untuk keluar ( tanpa ada keperluan ) .

Pada kondisi tersebut dapat  dipahami bahwa kepemimpinan laki-laki terhadap wanita bukanlah kepimpinan otoriter, tapi lebih cenderung  seperti  kepemimpinan untuk memperbaiki dan meluruskan yang bengkok.

Walaupun bukan kepemimpinan otoriter, kepimpinan laki-laki dalam rumah tangga adalah kepimpinan mutlak, sebagaimana para pemimpin negara terhadap rakyatnya, artinya dia berhak untuk memerintah, melarang  mengurusi dan mendidik. Di sanalah rahasia mengapa Al Qur’an menggunakan kata sifat  ( al Rijal Qowwamuna ), kepemimpinan laki-laki tidak bisa bergeser ke wanita disebabkan laki laki sakit atau udzur, misalnya dalam hal nafkah, tidak bisa kepemimpinan keluarga berpindah dari laki laki ke wanita disebabkan wanita yang menafkahi keluarga.

Dalam satu sisi kepimpinan laki-laki terhadap perempuan bukan seperti kepemimpinan militer atau administrasi, yang menyuruh dan melarang tanpa diikut sertakan anggota rumah tangga. Akan tetapi kepemimpinan tersebut lebih cenderung kepemimpinan yang dijalankan melalui musyawarah, saling memamahami dan saling merelakan, karena musyawarah itu merukan akhlaq seorang muslim dalam segala urusannya sebagaimana di syari’atkan Allah swt dalam QS Ali-Imran : 159

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

“Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali-Imran : 159)

Bahkan menurut Syekh  Muhammad Ismail Muqoddim, bahwa kepemimpinan laki- laki terhadap perempuan, bukan sekedar kekuasaan dan kediktatoran, akan tetapi sudah menjadi  sebuah sistem. Sistem ini harus diterapkan oleh masyarakat, agar  terjadi keserasian di dalam kehidupan ini. Sistem ini, mirip sistem yang dipakai dalam sebuah negara. Artinya kepimpinan cenderung ditetapkan demi sebuah keserasian dan keteraturan. Oleh karenanya, seorang muslim akan di katakan berdosa, kalau dia keluar dari sistem ini, walaupun dia lebih  utama dari pemimpin negara. Begitu juga, seorang perempuan akan di katakan berdosa, jika ia keluar dari kepemimpinan laki- laki ini, walau secara dlhohir, dia mungkin lebih afdhol ( utama ) dalam beberapa segi. Dan inilah rahasia, mengapa al Qur’an  tidak menggunakan kalimat  “ ar Rijal Sadah ala Nisa ‘ “  Sadah berarti tuan.

Namun perlu diingat bahwa kedudukan hak dan kewajiban suami istri adalah seimbang dan saling melengkapi. Kepemimpinan lelaki dalam sebuah rumah tangga juga merupakan Syar’iyyah (sebagai pembuat aturan) yang diatur oleh aturan aturan yang demikian banyak, Diantaranya adalah adanya kaidah yang mulia : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” QS . Al-Baqoroh: 228), kepemimpinan lelaki tidak menyebabkan ia berbuat sekehendak hatinya disebabkan atas hak asasi atas suami dan istri, rasulullah saw pun bersabda:

إِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا.

“Sesungguhnya isterimu mempunyai hak yang wajib engkau tunaikan.” (HR. Bukhari Muslim)

Sangat menarik sekali apa yang di tulis oleh DR. Abdul Mun’im Sayid Hasan, ketika mengomentari surat An-Nisaa’: 34 di atas. Beliau menyebutkan bahwa  dalam ayat tersebut, Allah tidak menggunakan kata perintah, tetapi menggunkan metode pemberitahuan, yang  mengandung perintah dan keharusan. Menurut beliau, metode ini  menunjukkan bahwa masalah kepemimpinan dan tanggung jawab seorang suami dalam keluarga,  seakan-akan sesuatu konsep yang sudah disepakati oleh manusia,  bahkan kesepakatan ini, dapat dikatakan sudah  ada sebelum ayat tersebut diturunkan. Pernyataan seperti ini, dikuatkan oleh  J.C. Mosse, yang menyatakan bahwa pola relasi gender seperti yang diterangkan di dalam Al Qur’an tersebut, dimana laki-laki memegang tangguang jawab keluarga, mempunyai kemiripan di seluruh belahan bumi bagian utara, termasuk Eropa dan Amerika.  Bahkan menurut konsep keluarga dalam tradisi Yunani dan Romawi, kepala rumah tanggapun dipegang oleh laki- laki.

Untuk menafsirkan arti “ Qowamah “  yang lebih jelas lagi, Syekh Muhammad Madani justru mengaitkannya dengan lanjutan ayat yang berbunyi ( bima fadolahu ba’dhohum ‘ala ba’dhin  pada perempuan dalam ayat ini,  bukan berarti laki- laki lebih super, lebih mulia dari perempuan, dan bahwa perempuan itu lebih lemah, lebih rendah dan berada di kelas kedua dari laki- laki. Akan tetapi artinya, bahwa laki- laki mempunyai ciri dan tugas tersendiri yang tidak di miliki oleh perempuan. Sebagaimana perbedaan antara anggota tubuh manusia itu sendiri, seperti tangan , kaki, mata, telinga, hidung dan mulut. Masing – masing dari anggota tubuh tadi mempunya fungsi dan kelebihan sendiri yang tidak dimiliki oleh anggota lain.  yaitu karena Allah memberikan kelebihan sebagian mereka ( laki- laki ) di atas sebagian yang lain ( wanita ). Allah menyebutkan bahwa laki-laki merupakan bagian dari perempuan, begitupun sebaliknya.

Karena merupakan pasangan yang saling melengkapi maka saling menghargai dan menghormati antar suami istri adalah yang paling diutamakandalam sebuah keluarga, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ.

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling bagus akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya.”

Imam Muhammad Abduh berkata dalam tafsirnya, “ Yang dimaksud dengan  al-qiyam dalam firman Allah, “ Kaum Lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita’ adalah kepemimpinan yang didalamnya orang yang dipimpin bebas berbuat menurut kehendak dan pilihannya, bukan berarti bahwa orang yang dipimpin itu ditekan dan dirampas iradahnya, Ia tidak boleh mengerjakan sesuatu pekerjaan kecuali sesuai dengan pengarahan pemimpinnya, karena keberadaan seorang sebagai  pemimpin atas yang lain itu sebagai ungkapan tentang bimbingan dan pengawasannya kepadanya didalam melaksanakan petunjuk tersebut, yakni memperhatikannya dalam pekerjaan pekerjaannya dan pemeliharaannya, diantaranya ialah memelihara rumahtangga dan tidak meninggalkannya meskipun umpamanya untuk mengunjungi keluarga atau kerabat, kecuali pada waktu waktu dan keadaan yang diizinkan dan diridloi oleh sang suami. Sebagai mana dikisahkan sahabat di zaman rasulullah saw,

Tersebutlah seorang istri yang amat taat pada suaminya. Suatu hari sang suami pamit hendak pergi berjihad fisabillah . Sebelum berangkat sang suami berpesan. ” istriku..aku akan pergi jihad….,sebelum aku pulang, janganlah engkau keluar rumah ” setelah itu berangkatlah sang suami. Hari telah berlalu hingga suatu hari datanglah seorang utusan yang menyampaikan kabar tentang ibu sang wanita itu. ” Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ” Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” ” Ibu anda sekarang sedang sakit keras , jenguklah ia ” ” Maaf , saya tidak bisa datang karena suamiku belum pulang dan aku tidak di ijinkan keluar rumah sebelum suamiku datang , jadi sampaikan saja salam untuk ibu saya “. Lalu pulanglah utusan itu. Besoknya utusan itu datang lagi. ” Ibu anda sekarang sekarat , jenguklah ia ”
” Tentu saya ingin datang ke sana , tapi suami saya belum pulang , jadi sampaikan permintaan maaf saya untuk ibu”. Lalu utusan itu pulang.
Dan besoknya utusan itu kembali lagi. “Ibu anda sekarang meninggal , datanglah untuk yang terakhir kali sebelum ibu anda di kubur ” ” Maaf sekali lagi maaf , suami saya belum pulang dan saya tidak dapat keluar rumah tanpa seijinya ” Lalu pulangkah utusan itu. Karena saking jengkelnya utusan tersebut mengadukan hal itu kepada Rasul ” Ya Rasul !! agaknya si wanita itu benar-benar  keterlaluan “, dengan nada sedikit marah. ” Ada apa ? ” jawab rasulullah. ” Dari mulai ibunya sakit…sekarat hingga meninggal…wanita itu tidak mau datang menjenguk ibunya !!” ” Kenapa dia tidak mau datang?”
” Wanita itu mengatakan bahwa ia tidak diijinkan keluar rumah sebelum sang suami pulang “. Mendengar jawaban itu rasul hanya tersenyum lalu bekata.
” Dosa ibu itu diampuni oleh Allah Swt karena mempunyai anak yang taat pada suami”.

Sebagai pemimpin keluarga adalah tugas utama suami untuk menjaga seluruh anggota keluarga dari panas nya api neraka sebagaimana pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [At-Tahrim: 6]

Penjagaan dari suami ini tidaklah dapat diwakilkan, sehingga seorang suami yang baik akan selalu memastikan anggota keluarganya tetap pada rel pengabdian kepada Allah SWT, memastikan setiap keluarganya memiliki niat dan ibadah yang benar, dalam rangka mencari ridlo Allah SWT.

Sebagai bentuk penjagaan seorang suami maka suami juga harus memerintahkan isteri dan anak anak dibawah kuasanya untuk mendirikan agamanya serta menjaga shalatnya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” [Thaahaa: 132]

Agar anggota keluarga  dapat mendirikan shalat, maka sudah menjadi kewajiban seorang suami sebagai penanggung jawab keluarga untuk mendidik keluarganya dan menjamin anggota keluarganya  untuk dapat menjalankan kewajiban tersebut, baiknya dengan mengajari sendiri dan ini menjadi lebih utama, dan jika tidak mampu untuk mengajari sendiri  maka seorang suami berkewajiban mencarikan guru untuk anggota keluarganya,

Rasulallah bersabda :

“Barang siapa mendidik anak kecil hingga ia dapat mengucapkan “lailaha-illallah” maka Allah tidak akan menghisab (amal)nya.” (al Jami’ ash Saghir, juz 2, hal 603)

Rasulullah saw bersabda: “Didiklah anak kalian atas tiga hal: Mencintai Nabi kalian, mencintai ahlulbait (keluarga) dan membaca Alquran.” (Ash Shawa’iq al-Muhriqah, hal. 172)

  1. Ganjaran suami sebagai pemimpin yang sukses

Lantas bagaimana kedudukan suami sebagai pemimpin dalam keluarga jika  dapat menjalankan misi kepemimpinannya dengan benar

Ada tujuh golongan, Allah akan menaungi mereka di bawah naungan-Nya yang tiada naungan pada hari itu kecuali naungan-Nya: (Yang pertama) Imam yang adil . . . ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan menurut al-Qadhi ‘Iyadh,  disebutkannya imam yang adil pada urutan pertama karena banyaknya manfaat dan mashlahat yang dihasilkannya. (Lihat: Syarah Sunan al-Nasai: 7/102)

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ . . .الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil, kelak di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya di sebelah kanan Allah Azza wa Jalla. . . . yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan apa saja yang mereka pimpin.”

Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan-nya dan beliau menghasankannya, dari hadits Abi Sa’id al-Khudri secara marfu’, “Manusia paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat tempatnya dengan Allah adalah pemimpin yang adil.”

Rasulullah  saw, bersabda:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنِي وَرْقَاءُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Muslim telah menceritakan kepadaku [Zuhair bin Harb] telah menceritakan kepada kami [Syababah] telah menceritakan kepadaku [Warqa`] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang imam itu ibarat perisai, seseorang berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. Jika seorang imam (pemimpin) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ‘azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (imam) akan mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia (imam) memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR: Imam Muslim Nomor 3428)

AllahSWT akan  memberi ganjaran kepada setiap manusia , sekecil apa pun amal yang diperbuat. Meski hanya sebesar dzarrah atau debu:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” [An Nisaa’ 40]

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia (orang yang menunjukkannya) akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya. [HR Muslim, 3509].

Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda,

“Barang siapa yang menunjuki seseorang kepada kebenaran, maka ia mendapatkan pahala semisal orang yang mengikutinya, tidak berkurang sedikit pun.”

Para ulama menafsirkan bahwa demikian juga mereka yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa serupa dari orang-orang yang mengikutinya atau mereka yang sesat karena dirinya.

Ibnu Abbas ra. menuturkan, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Amal kebaikan sehari dari seorang pemimpin yang adil lebih baik dari pada ibadah selama enam puluh tahun” (HR. Thabrani).
Diriwayatkan juga oleh Asbachani dari Abu Huroiroh dengan redaksi yang berbeda : “Kebaikan satu hari (yang dilakukan oleh seorang pemimpin) lebih baik dari ibadah selama enam puluh tahun”.

Pada hadits yang lain dikemukakan, bahwa Abi Sa’id al Khuduri menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda : “Orang yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan memperoleh kedudukan dekat dengan-Nya, adalah seorang pemimpin yang adil. Orang yang paling dimurkai oleh Allah pada hari kiamat dan memperoleh tempat yang paling jauh dari-Nya ialah pemimpin yang zalim (HR. Tirmidzi).

Nabi Muhammad SAW bersabda :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah bin Sa’id] dan [Ibnu Hujr], mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma’il] yaitu Ibnu Ja’far dari [Al ‘Ala] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Barang siapa mengajak kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”(HR: Imam Muslim Nomor 4831)

Rasulullah  saw, bersabda:

“Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR Muslim).

 

Rasulullah  saw, bersabda:

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

 ‘Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.’   (HR: Imam Muslim Nomor 4830)

Kemuliaan di sisi Allah terhadap pemimpin yang adil tidak hanya mendapatkan pahala yang berlimpah, tetapi Rasulullah saw. memasukkan mereka pada kelompok yang do’a do’a nya tidak ditolak oleh Allah swt

Beliau bersabda:

“ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ”

“Tiga do’a yang tidak tertolak: do’a pemimpin yang adil, orang berpuasa hingga berbuka dan do’a orang yang dizhalimi.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).

Muh. Muhlis…

Wallahu  a’lam

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: